Berbicara tentang kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka kita tidak bisa lepas berbicara tentang masalah kepemimpinan. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW. bersabda, "Ada tujuh golongan manusia dari umatku yang akan mendapat perlindungan di akhirat nanti di mana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah."

Yang paling pertama disebut oleh Rasulullah SAW. adalah "pemimpin yang adil". Hadits ini mengisyaratkan bahwa, jika seorang pemimpin itu berbuat adil maka hakikatnya dia telah beribadah kepada Allah dalam bentuk pengabdiannya kepada sekian juta manusia yang dipimpinnya selama masa jabatannya. Dengan demikian, layaklah pemimpin yang adil akan mendapatkan tiket masuk surga tanpa hisab.

Sebaliknya, bila seorang pemimpin itu berbuat dzalim, maka dia akan memperoleh tiket masuk neraka tanpa hisab. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Adz Dzulaimi yang dikutip Al- Ghazali dalam Kitabnya Minhajul 'Abidin, Rasulullah SAW. bersabda, "Ada enam kelompok manusia dari umatku yang akan masuk neraka jahanam tanpa hisab." Yang paling pertama disebut oleh Rasulullah SAW. adalah "pemimpin karena kedzalimannya."

Hadits ini mengisyaratkan bahwa, apabila seorang pemimpin itu berbuat dzalim dalam kepemimpinannya, maka dia akan masuk neraka tanpa hisab. Betapa berat menyandang tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, karena dia harus bisa berbuat adil. Ketika seorang pemimpin tidak menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan syariat Allah, maka dia termasuk telah berbuat dzalim yang konsekuensinya sangat berat bagi kehidupannya kelak di akhirat.

Dalam kaitannya memilih pemimpin, layaklah kita hayati dan renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan Iman Al Hakim, Nabi SAW. bersabda, "Barang siapa yang memilih seseorang sebagai pemimpin atas dasar ta'ashub (fanatisme/taqlid) buta semata didasarkan hanya pada pertimbangan emosional primordial, bukan atas dasar rasionalitas dan penilaian yang jernih syar'iyah, padahal di tengah mereka ada orang yang lebih layak dan pantas dipilih dan diridhai oleh Allah, maka orang itu telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin." Maka seorang pemimpin itu hanyalah suatu individu yang merupakan bagian dari umat dan bukanlah umat suatu bagian dari individu.
Disadari atau tidak, permasalahan "pilih-memilih" dalam menjalani kehidupan ini bukanlah urusan kecil atau masalah yang sepele, terlebih lagi dalam kaitannya kita harus memilih seorang pemimpin. Kita sebagai masyarakat Muslim harus betul-betul siap untuk memilih seseorang yang kita yakini, paling tidak, yang siap melaksanakan syariat Allah. Kesalahan kita dalam memilih akan berakibat fatal bagi kehidupan umat masa kini dan masa yang akan datang dan kita pun harus ikut mempertanggungjawabkan itu di akhirat kelak.

"Salah" kita dalam memilih seorang pemimpin, dengan memilih orang yang dzalim misalnya, karena tidak tebersit tekadnya sedikit pun untuk menegakkan syariat Islam, maka kita harus ikut mempertanggungjawabkan pilihan kita itu di hadapan Allah. Karena bukankah dia bisa menjadi seorang pemimpin adalah juga karena kita yang memilihnya. Bahkan dalam kesalahan memilih seorang pemimpin, bukan saja hanya menyeret seseorang masuk dalam perbuatan dzalim atau dosa, lebih dari itu bisa membuat seseorang gugur keislamannya.

Allah berfirman dalam Surat Ibrahim Ayat 24-26,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ
Alam tara kayfa daraba Allahu mathalan kalimatan tayyibatan kashajaratin tayyibatin asluha thabitun wafarAAuha fee alssamai
Tutee okulaha kulla heenin biithni rabbiha wayadribu Allahu alamthala lilnnasi laAAallahum yatathakkaroona
Wamathalu kalimatin khabeethatin kashajaratin khabeethatin ijtuththat min fawqi alardi ma laha min qararin

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.

Ayat itu menggambarkan betapa indahnya gambaran yang dianugerahkan Allah SWT. atas keberadaan orang-orang yang bertakwa di mana keberadaannya ibarat sebuah pohon yang baik, yang "akarnya sangat kuat menghujam ke dasar tanah, sementara dahan dan rantingnya menjulang tinggi ke langit, pohon tersebut tumbuh dengan subur lalu berdaun rindang dan berbuah yang buahnya dapat dinikmati oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya pada setiap saat dengan seizin Allah Tuhannya."

Akar yang dimaksud pada ayat di atas adalah akidah. Perumpamaan pohon yang buruk itu adalah pohon yang akarnya sudah terangkat dari permukaan bumi yang esok lusa akan mati. Keberadaan pohon semacam ini tidak ada artinya sama sekali, dia tidak mungkin memberi manfaat, jangankan untuk berbuah, bertahan untuk hidup pun tidak mungkin bisa. Keberadaan pohon semacam ini paling bermanfaat hanya sebagai kayu bakar.

Dengan akidah atau keimanan yang kuat, seseorang akan diantarkan amal perbuatannya sampai kepada Allah SWT. Digambarkan seperti pohon yang dahannya menjulang tinggi sampai ke langit. Maknanya, amalnya akan sampai kepada Allah SWT. Jadi, seorang muttaqin itu di samping memiliki dasar akidah yang kuat, dia juga harus baik dalam "habluminallah" (hubungan secara vertikal dengan Allah SWT.)

Tidak cukup demikian, tetapi dia harus seperti pohon yang terus-menerus berbuah, dalam pengertian baik hubungannya secara horizontal dengan makhluk yang ada di sekelilingnya. Setiap saat buahnya bisa dinikmati oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya. Inilah yang sering kita istilahkan dengan "silaturahmi" dia harus baik dalam hubungan silaturahminya. Bukan hanya dengan sesama manusia saja, melainkan hubungan dengan sesama makhluk Allah yang lain pun harus baik.

Keberadaan insan yang muttaqin harus bisa bermanfaat bagi orang lain atau makhluk-makhluk Allah yang lain yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, bila suatu saat pohon ini mati, maka banyak sekali orang yang merasa kehilangan terutama bagi yang selama ini menikmati buahnya. Seandainya suatu saat dia meninggal dunia, maka banyaklah orang yang akan merasakan kehilangan terutama mereka yang selama ini menikmati buah karyanya atau kesalehannya.

Betapa sangat erat keterkaitan dan keterikatan antara akidah dengan kehidupan seseorang. Kesalehan seseorang secara individu harus dibangun atas dasar kokohnya akidah yang pada gilirannya diharapkan dapat muncul kesalehan sosial yang akan mewarnai kehidupan bermasyarakat dan bernegara sesuai petunjuk-Nya

Wallahu a'lam bish-shawab. ***

[Ditulis oleh IJANG FAISAL, Ketua Umum DPD BKPRMI Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis, 12 April 2012 / 20 Jumadil Awal 1433 H pada Kolom "OPINI"]

by
u-must-b-lucky
Berebut jabatan, bahkan kalau perlu menggunakan uang bukanlah hal asing saat ini. Bahkan untuk menjadi pemimpin di sebuah organisasi yang notabene tidak digaji, seperti ketua ormas ataupun ketua rukun warga (RW), ternyata tak lepas juga dari upaya-upaya menggunakan politik uang.

Padahal, Nabi Muhammad SAW. mengajarkan agar setiap kaum Muslimin malah menjauhkan diri dari jabatan apalagi sampai berebut. Jabatan memunculkan pertanggungjawaban teramat berat di dunia apalagi di akhirat. Jabatan merupakan amanah.

Dalam kamus Al-Bisri karangan KH. Adib Bisri dan KH. Munawwir A. Fatah, kata amanah bermakna jujur dan dapat dipercaya, aman, dan tenteram. Amanah dimaknai menyampaikan sesuatu kepada yang berhak menerimanya dengan dilandasi kejujuran dan kepercayaan yang diembannya berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Bersikap amanah hendaknya dimiliki setiap individu, pemimpin rumah tangga, pemimpin lingkungan atau daerah, pemimpin negara atau dunia, termasuk para bawahan atau rakyat serta masyarakatnya. Pelaku amanah disebut Al-Aamin atau Al-Amiin, artinya orang jujur dan dapat dipercaya sehingga dapat memberikan keamanan dan ketenteraman. Rasulullah mendapat gelar Al-Amiin itu dan sampai kini belum ada orang yang mendapatkan gelar serupa.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Inna Allaha yamurukum an tuaddoo alamanati ila ahliha waitha hakamtum bayna alnnasi an tahkumoo bialAAadli inna Allaha niAAimma yaAAithukum bihi inna Allaha kana sameeAAan baseeran
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 58)

Dalam ayat itu ditegaskan, amanah sangat erat kaitannya dengan keadilan sehingga hal itu tidak dapat dipisahkan. Orang yang amanah pasti berlaku adil, demikian sebaliknya, orang yang berlaku adil berarti ia telah berbuat amanah.

Manusia secara fitrah sebenarnya sudah memiliki nilai-nilai kesucian untuk mengemban amanah, termasuk amanah agama. Rasulullah SAW. adalah seorang pembawa amanah yang sejati dan sekaligus pelaksana amanah yang sempurna. Tidak diragukan lagi bahwa sifat amanah yang sempurna bagi nabi adalah bangkitnya untuk menyebarluaskan risalah yang dipercayakan kepadanya. Rasulullah juga memberikan keteladanan terbaik dalam memikul amanah dalam bentuk keduniaan, seperti mengelola harta, pangkat, jabatan, dan kekuasaan karena Rasulullah juga kepala negara.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menegaskan,
"Tidak beriman orang yang tidak amanah (tidak dapat dipercaya karena selalu khianat), dan tidak sah shalat orang yang tidak bersuci, dan tidak beragama orang yang tidak shalat. Dan keberadaan shalat dalam agama laksana kepala dalam satu tubuh." (HR. Tabrani)

Kita merasa prihatin dengan kenyataan adanya orang-orang orang pandai berdalil dan berargumentasi, tetapi jarang orang yang pandai beramal dan berakhlak mulia. Banyak orang yang mengetahui ilmu agama, tetapi jarang sekali yang mengamalkan agama.

Demikian pula banyak orang yang pandai membaca Al-Qur'an, tetapi sedikit sekali yang pandai mengamalkannya. Banyak yang mampu membuat aturan tetapi sedikit sekali yang mau menjalankan aturan. Manusia harus yakin dirinya merupakan amanah Allah yang harus dijaga, dipelihara, dibina, dibimbing, dan diarahkan ke jalan Allah. Mata diberi kemampuan melihat sehingga harus melihat sesuatu yang diridhai-Nya. Mulut berbicara yang baik, kaki melangkah ke tempat kebaikan, telinga mendengarkan kebaikan dan sebagainya.

Demikian pula hati, janganlah terbersit sifat dengki, dendam, buruk sangka, dan lainnya. Janganlah dirinya dibiarkan terjerumus ke lembah kebinasaan, kedzaliman, dan berlumuran dosa. Sayangi dan pelihara diri sebelum berkeinginan disayangi orang lain. Cintai diri Anda sebelum dicintai atau ingin dicintai orang lain. Jagalah amanah diri jika ingin dipercaya orang lain.

Jangan lupakan pula melaksanakan amanah yang kita emban baik jabatan, pangkat, kedudukan, atau amanah dalam lingkup sekecil apa pun. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Ya ayyuha allatheena amanoo la takhoonoo Allaha waalrrasoola watakhoonoo amanatikum waantum taAAlamoona

Hai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) Janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfaal: 27)

Rasulullah SAW. menjelaskan, orang yang khianat dari amanah termasuk orang munafik.
"Ciri munafik ada tiga; jika berkata, ia dusta, jika berjanji ia menyalahi janji, dan jika diamanati ia khianat." (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,
"Tiga macam siapa yang melakukannya maka ia munafik meskipun ia puasa, shalat, berhaji, dan umrah dan mengaku Islam, yaitu jika ia berkata dusta, jika berjanji menyalahi janji, dan jika diamanati khianat." (HR. Abu Syeikh dari Anas)

Setiap kita adalah pemimpin yang tentunya sebagai pemegang amanah terhadap yang dipimpinnya. Minimal kita memimpin diri sendiri. Sejauh mana kita bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Pembantu memimpin dirinya dan harta tuannya, dan ia akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. pemimpin rumah tangga bertanggung jawab terhadap diri dan keluarganya. Pemimpin suatu daerah bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, dan daerah yang dipimpinnya. Pemimpin negara bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, bangsa, dan negara serta seluruh rakyat. Betapa besar tanggung jawab yang diembannya dan betapa besar pula tanggung jawab yang diminta di hadapan Allah SWT. kelak. 

Wallahu-a'lam.***

[Ditulis oleh KH HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL'AYDARUS, Ketua Yayasan Assalaam Bandung dan mantan Ketua PW NU-Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis, 12 April 2012 / 20 Jumadil Awal 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Menjelang akhir zaman, banyak muncul perkara ganjil. Aneh dan dianggap meresahkan. Terutama yang bersifat kasat mata.

Beberapa waktu lalu, muncul gerombolan ulat menyerang pepohonan hingga rusak, masuk ke rumah-rumah penduduk. Menimbulkan gatal-gatal dan jijik. Sekarang muncul serangga tomcat di beberapa daerah, yang tak kalah heboh dari ulat. 

Keanehan lain, misalnya, kecelakaan kendaraan di mana-mana tanpa henti. Tabrakan, terguling, tergilas kereta api, dan lain-lain yang menelan korban jiwa. Belum lagi perkelahian, bentrokan fisik, serang-menyerang antarkelompok, tanpa kejelasan apa yang diperebutkan. 

Bencana alam, apalagi. Seolah-olah semua memusuhi manusia. Banjir, longsor, memang bukan perkara aneh. Namun, menjadi aneh karena hal itu terus berlangsung. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sia-sia, karena tidak mampu mengatasi peristiwa-peristiwa rutin yang menyengsarakan itu. 

Belum lagi keanehan-keanehan yang bersifat mental spiritual. Kebobrokan akhlak di tengah kehebatan budaya. Penyalahgunaan obat-obat terlarang di tengah contoh-contoh nyata derita fisik dan sosial para penggunanya. Semakin dilarang dan membahayakan, semakin dicari dan diminati. 

Keanehan-keanehan itu, bagi setiap Muslim beriman, sebetulnya bukan "aneh" lagi. Mengingat 2000 tahun lalu, Nabi Muhammad SAW., telah memprediksi melalui satu hadits riwayat Imam Tirmidzi.
"Ada enam perkara ganjil, pada enam tempat yang tidak serasi. Yaitu, masjid ganjil bagi orang-orang yang tak mengerjakan shalat. Mushaf Al-Qur'an, ganjil di tengah orang-orang yang tidak suka membacanya. Ayat-ayat Al-Qur'an ganjil di tengah orang-orang yang berbuat kejahatan. Wanita baik-baik, ganjil di tengah laki-laki bejat. Laki-laki baik, asing di tengah wanita tunasusila. Orang alim, ganjil di tengah orang-orang yang tak mau mendengarkan nasihat-nasihat kebaikan."

Masjid adalah tempat khusus untuk beribadah (mahdlah) kepada Allah SWT., juga tempat melaksanakan hubungan dengan sesama manusia (ghair mahdlah). Dengan kegiatan ibadah vertikal dan horizontal itu, masjid menjadi makmur. 

Dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 18 disebutkan, orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, dan mengeluarkan zakat, serta yang tidak takut oleh apa pun kecuali oleh Allah. Mereka itulah yang diharapkan mendapat petunjuk. 

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Innama yaAAmuru masajida Allahi man amana biAllahi waalyawmi alakhiri waaqama alssalata waata alzzakata walam yakhsha illa Allaha faAAasa olaika an yakoonoo mina almuhtadeena
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah:18)

Sekarang, masjid tersebar di mana-mana. Dari yang kecil sederhana, hingga yang besar megah mewah. Upaya membangun masjid dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari menyebar proposal, mengedarkan kencleng, hingga mencegat kendaraan di jalan raya. Belasan bahkan ratusan orang ikut terlibat mendukung kegiatan itu. 

Namun, setelah masjid tegak berdiri, jemaahnya tidak ratusan. Bahkan sering kosong melompong. Gelap gulita dan terkunci rapat di waktu malam. Kusam kotor di waktu siang. Inilah yang mengundang keanehan dan keganjilan. 

Mushaf Al-Qur'an menjadi ganjil karena tak pernah dibaca. Hanya teronggok penuh debu. Al-Qur'an yang menjadi penjelas berbagai perkara (sebagaimana digambarkan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al Baqarah: 185), dibiarkan saja begitu rupa. 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Shahru ramadana allathee onzila feehi alquranu hudan lilnnasi wabayyinatin mina alhuda waalfurqani
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Begitu pula, ayat-ayat Al-Qur'an di tengah orang-orang fasik. Pembuat maksiat. Tidak menjadi peringatan, acuan, batas antara hak dan batil, dianggap angin lalu saja. 

Wanita baik-baik, di tangan laki-laki bejat, merupakan keanehan pula. Sudah sering terjadi penculikan, penipuan, yang berujung pada trafficking. Gadis-gadis lugu dari pelosok daerah dijadikan komoditas menguntungkan oleh para lelaki bejat, baik yang menjadi penjual maupun pemakai. 

Kesulitan ekonomi menjadikan para gadis suci itu mudah tergiur bujuk rayu para calo dan germo yang mengiming-imingi pekerjaan bergaji tinggi. Namun, kenyataannya dijual untuk pemuas hawa nafsu kebinatangan laki-laki tak bermoral. 

Adapun laki-laki baik, tak sedikit digunakan oleh kalangan wanita tunasusila. Dijadikan "suami" uhtuk melindungi status dan lain-lain agar wanita itu bebas berbuat sesuka hati di rumah atau di luar rumah. Jika terkena razia petugas, "suami" tadi dapat dijadikan tameng. Jika hamil akibat hubungan gelap dengan lelaki-lelaki lain, ada "suami" yang bertanggung jawab sebagai "ayah" bagi yang dikandungnya. 

Keganjilan terakhir adalah orang alim di tengah orang atau masyarakat yang hati dan perasaannya sudah buta-tuli. Yang menganggap nasihat berisi ajakan kepada kebaikan dan pencegahan dari kemunkaran sebagai hal tak berguna. Kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, dan sebagainya, menjadi alasan untuk menolak ikatan dan ketentuan aturan yang dianggap melanggar hak asasi dan privasi. 

Nasihat dalam berbagai bentuk, terbatas atau meluas, hanya embel-embel. Bahkan orang-orang yang bertugas memberi nasihat, dijebak dan digiring pada situasi serta kondisi tertentu. Agar nasihat jalan terus, dikemas indah dan ramai sedemikian rupa, tetapi isi, makna, dan tujuan nasihat itu, nyaris tanpa substansi. Hanya hiburan atau tontonan. 

Jika sudah sampai pada tahap ini, sempurnalah keganjilan-keganjilan yang menjadi fenomena akhir zaman. Pada saat tersebut, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.,
"Islam hanya tinggal nama, Al-Qur'an hanya tinggal tulisan, masjid-masjid hanya tinggal bangunan tetapi kosong dari petunjuk, ulama-ulamanya termasuk orang paling jelek di kolong langit, karena dari mereka timbul fitnah yang akan semakin membuat mereka terpuruk." (Hadits Riwayat Imam Baihaqi)

Walaupun mungkin hal-hal tersebut sudah dianggap biasa, tetap ganjil, karena bertentangan dengan kodrat hati nurani manusia, yang masih menyelipkan kebenaran. Termasuk dalam soal pencarian nafkah. Banyak orang melakukan korupsi. Tak takut oleh hukum duniawi, tak risi oleh hukum ukhrowi. Karena memang sudah dianggap lumrah, wajar, dan bahkan "keharusan". Itu adalah keganjilan akhir zaman juga. 

Nabi SAW. menyatakan,
"Akan datang suatu zaman, tatkala seseorang tidak lagi memperdulikan apa yang diambilnya, apakah dari yang haram atau yang halal." (Hadits Riwayat Imam Bukhari)

Dalam menghadapi fenomena mengganjilkan tersebut, bagi setiap Muslim beriman, adalah kembali ke jalan Allah SWT. dan Rasul-Nya, memegang teguh perintah-Nya, sekaligus meninggalkan larangan-Nya.*** 

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan, Cibiuk, Garut, dan pembimbing ibadah haji & umrah BPHU Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis, 5 April 2012 / 13 Jumadil Awal 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky
Salah satu pertanyaan yang paling banyak dilontarkan kepada penulis, seputar masalah doa. Terlalu sering pertanyaan yang muncul merujuk kepada Al-Qur'an yang menyatakan  

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Waqala rabbukumu odAAoonee astajib lakum
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Mu'minin: 60)

Pertanyaannya, mengapa saya sudah berdoa, tetapi banyak tidak dikabulkan? 

Sesungguhnya kalau kita menyatakan doa tidak terkabul menyalahi keinginan Allah karena semua doa kita pasti dikabulkan-Nya. Semua doa hamba Allah yang dinyatakan dengan tulus dan ikhlas akan dikabulkan-Nya

Sementara wujud terkabulnya doa itu bisa bermacam-macam yang kadang tak sesuai dengan keinginan kita. Doa yang dikabulkan Allah bisa jadi sesuai dengan keinginan hamba, tetapi proses terkabulnya doa memakan waktu sesuai dengan proses sunatullah (keinginan Allah). 

Selain itu, bisa juga Allah mengabulkan doa, tetapi dalam bentuk lain karena Allah jauh lebih mengetahui kebaikan bagi diri seseorang. Bisa jadi yang diminta oleh seseorang akan dapat mencelakakan yang bersangkutan. 

Doa yang terkabul dalam bentuk pahala yang akan diberikan kepada yang bersangkutan di akhirat nanti. Allah juga mengabulkan doa seseorang setelah mengalami proses ujian agar yang bersangkutan dapat meningkatkan kualitas kelas keimanannya. Terakhir, Allah mengabulkan doa setelah seseorang hamba menghilangkan sebab-sebab tidak dikabulkan doanya seperti makanan haram, dosa, dan kesalahan dalam berdoa. Tidak ada doa yang tidak terkabulkan oleh Allah, maka janganlah segan dan malu untuk berdoa
Salah satu waktu terbaik untuk berdoa pada saat shalat di sepertiga malam terakhir atau dikenal dengan shalat Tahajud. Ketika Rasulullah berada di tahun pertama kenabian menghadapi berbagai pelecehan bahkan fitnah, Allah SWT. menurunkan wahyu sebagai panduan menyikapi keadaan itu, di antaranya QS. Al-Muzzamil. Beberapa ayat dari surat tersebut berisi semacam panduan spiritual agar Nabi Muhammad tetap tangguh, istiqamah, dan mantap menjalankan tugas-tugasnya. 

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Ya ayyuha almuzzammilu. Qumi allayla illa qaleelan. Nisfahu awi onqus minhu qaleelan. Aw zid AAalayhi warattili alqurana tarteelan. Inna sanulqee AAalayka qawlan thaqeelan. Inna nashiata allayli hiya ashaddu watan waaqwamu qeelan.

Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah shalat malam, separuh malam, atau kurangi sedikit atau lebih dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil, maka aku akan berikan kepadamu qaulan tsaqilan (ucapan berbobot) dan sesungguhnya bangun di pengujung malam itu paling dalam kesannya untuk menumbuhkan iman dan memantapkan mental." (QS. Al Muzzamil: 1-6)

Ada dua janji yang Allah berikan setelah Nabi melakukan shalat malam dan membaca Al-Qur'an dengan tartil/tertib.
  • Pertama, qaulan tsaqilan (ucapan berbobot) yang sering diartikan sebagai kharisma bil kasyaf.
  • Kedua, tangguh dan mantap dalam menghadapi tantangan dan ujian. 
Sahabat Ibnu Abbas dalam tafsirnya menyatakan, setelah turunnya QS. Al-Muzzamil, Nabi Muhammad terus memelihara shalat malam sampai saat-saat menjelang wafat. Kepada umatnya, Nabi menyampaikan shalat malam itu merupakan shalat para nabi dan rasul Allah.

Shalat malam juga kebiasaan orang saleh dan amalan orang berprestasi. Beliau juga pernah memberikan resep spiritual terhadap keluarga yang menghadapi problema hidup.
"Bangunkan istrimu di pengujung malam dengan penuh kasih sayang. Bangunkan suamimu di pengujung malam dengan penuh kasih sayang," demikian ucapan Rasulullah.

Jika suami istri melakukan shalat malam dan mereka berdzikir memohon kepada Allah, maka Allah menyatakan,
"Aku malu kalau Aku tidak memenuhi doa mereka, Aku malu kalau Aku tidak mengabulkan munajat mereka."

Shalat malam juga dapat berfungsi sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. Sahabat Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasulullah ketika melihat kaki beliau memar, bengkak, dan lecet-lecet parah. 

"Mengapa Anda shalat malam sampai kaki Anda lecet, bengkak, dan memar ya Rasulullah? Padahal, Anda adalah Rasulullah yang tak pernah berbuat dosa dan dijamin pasti masuk surga." Nabi pun menjawab,
"Apakah tidak pantas kalau saya mensyukuri segala anugerah Allah?"

Pada awal pembangunan masyarakat Madinah, Nabi Muhammad menyampaikan empat pesan moral kepada umat Islam. Di depan Percetakan Al-Qur'an di Madinah terpampang papan reklame besar yang berisi empat pesan moral Nabi tersebut. 

Nabi bersabda,
"Tebarkanlah salam, bangun keakraban, wujudkan kepedulian sosial, dan bangun shalat malam pada saat orang-orang sedang tidur."

Bukan hanya Nabi Muhammad yang melanggengkan shalat malam sampai menjelang wafatnya, tetapi Nabi Daud juga membiasakan shalat malam dengan cara tidur separuh malam dan bangun sepertiga malam. 

Kebiasaan Nabi Daud dilanjutkan Nabi Sulaiman yang memiliki kerajaan dan harta melimpah. Beberapa sahabat Nabi Muhammad sempat melakukan shalat malam dengan cara seperti Nabi Daud

Sementara Nabi Muhammad sendiri membiasakan shalat malam di akhir malam, separuh, atau sepertiga malam. Shalat malam merupakan sarana penghapus dosa, penenang hati, pembersih jiwa, dan pendekatan diri (takarub) yang paling efektif. 

Shalat ini juga menjadi obat segala macam kegundahan, kegelisahan, kesedihan, kemarahan, keterasingan, keputusasaan, dan problem-problem rohaniah lainnya. Ia adalah tiket untuk meraih surga dan kemuliaan di sisi Allah SWT.  

Wallahualam.*** 

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Yayasan Addakwah, dan Pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 22 Maret 2012 / 29 Rabiul Akhir 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky
Sisa usia merupakan jatah umur kita yang tersisa. Pasalnya, jatah umur manusia hidup di dunia ini sudah ditentukan oleh Allah SWT.

Perputaran waktu menjadikan jatah umur manusia semakin berkurang daripada yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. 

Allah SWT. berfirman,

وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍ وَلَا يُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
wama yuAAammaru min muAAammarin wala yunqasu min AAumurihi illa fee kitabin inna thalika AAala Allahi yaseerun
Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. Fathir: 11)

Dalam firman Allah SWT. yang lain,

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُّسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Wahuwa allathee yatawaffakum biallayli wayaAAlamu ma jarahtum bialnnahari thumma yabAAathukum feehi liyuqda ajalun musamman thumma ilayhi marjiAAukum thumma yunabbiokum bima kuntum taAAmaloona
Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (QS. Al-An'am: 60)

Oleh karena itu, berapa pun usia kita saat ini, sesungguh kita sedang menjalani masa sisa usia kita di dunia. Perbedaannya adalah ada yang masih panjang sisa usianya, ada pula yang sudah hampir habis. Masalahnya, kita tidak mengetahui apakah sisa usia kita masih panjang atau sedikit lagi. Hanya Allah-lah yang tahu.

Untuk itu, bagi kita yang masih berumur muda jangan mengira bahwa sisa usia kita itu masih panjang, karena kematian tidak hanya menimpa pada orang yang berusia senja. Kita saksikan betapa banyak anak-anak yang sudah menemui ajalnya. Bahkan bayi yang masih dalam kandungan ibunya pun tidak luput dari kematian. Apalagi bagi kita yang sudah berusia senja, sungguh sisa usia kita semakin sedikit, dan semakin dekat dengan kematian.

Rasulullah SAW. bersabda,
"Umur umatku antara 60 tahun sampai 70 tahun, sedikit sekali orang yang mencapai umur 70 tahun."

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menyadari bahwa hidup kita saat ini pada hakikatnya sedang menjalani sisa-sisa usia kita, sehingga tumbuh semangat pada diri kita untuk mengisi sisa usia dengan berbagai amal yang akan mengantarkan kita kepada keridhaan dan surga Allah SWT.
Keselamatan dan kecelakaan seseorang di akhirat sangat ditentukan dengan apa yang dilakukannya sewaktu hidup di dunia, terutama dalam sisa usianya. Bila kebaikan yang dilakukan, ia memperoleh husnul khotimah yang akan mendatangkan kebaikan baginya di akhirat. Sebaliknya bila di sisa usianya sampai kematian datang diisi dengan keburukan, ia termasuk orang yang su'ul khotimah yang akan menjadikan dirinya menderita.

Rasulullah SAW. bersabda,
"Seorang hamba benar-benar melakukan perbuatan yang kelihatannya oleh manusia sebagai amal ahli surga padahal sebenarnya dia adalah ahli neraka, ada pula yang kelihatannya oleh manusia sebagai amal ahli neraka padahal sebenarnya dia adalah ahli surga. Sesungguhnya kepastian baik buruknya amal adalah pada akhir hayat." (HR. Bukhori)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
"Sesungguhnya ada seseorang yang dia beramal dengan amalan penghuni surga dalam jangka waktu lama tetapi di akhir hayatnya dia melakukan perbuatan penghuni neraka dan ada juga orang yang dahulunya berbuat dengan perbuatan penghuni neraka tetapi di akhir hidupnya berbuat dengan perbuatan penghuni surga." (HR. Muslim dan Ahmad)

Di dalam kitab Jaami'ul 'Uluumi wal hikam dikisahkan bahwa pada suatu ketika Imam Fudhail bin 'Iyad bertanya pada seorang lelaki, "Berapa tahun usiamu (sekarang)?" Lelaki itu menjawab, "Enam puluh tahun."

Fudhail bin 'Iyad berkata, "(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai."

Lelaki itu menjawab, "Sesunggunya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya."

Fudhail pun berkata, "Apakah kamu paham ucapanmu? Kamu berkata aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Barang siapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa ia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barang siapa mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan diminta pertangungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barang siapa yang mengetahui bahwa dia akan diminta pertangungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya."

Lelaki itu bertanya, "Bagaimana caranya?" Imam Fudhail bin 'lyadh berkata, "Engkau memperbaiki (diri) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (perbuatan dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan disiksa (pada hari kiamat) karena (perbuatan dosamu) di masa lalu dan pada sisa umurmu." (dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami'ul 'Uluumi wal hikam, hal. 464)

Oleh karena itu, marilah kita pergunakan sisa usia kita ini untuk bersegera melakukan berbagai amal kebaikan baik yang bersifat vertikal (ibadah mahdhoh) maupun yang bersifat horizontal (ibadah ghoir mahdoh), dan bersegera bertobat kepada Allah SWT. atas semua dosa-dosa yang pernah kita lakukan karena boleh jadi sisa usia kita akan segera berakhir.

Allah SWT. berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
WasariAAoo ila maghfiratin min rabbikum wajannatin AAarduha alssamawatu waalardu oAAiddat lilmuttaqeena
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali-Imran: 133)

Dari Ibnu Umar RA. beliau berkata, "Rasulullah SAW. pernah memegang kedua pundaknya seraya bersabda, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir."

Ibnu Umar berkata, "Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore hari. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati." (HR. Bukhori)

Akhirnya, kita bermohon kepada Allah SWT. agar kita semua diwafatkan oleh Allah SWT. dalam keadaan husnul khatimah, mendapatkan nikmat kubur, dan di akhirat dimasukkan ke dalam surga-Nya

Amin. 

Wallahu'alam.***

[Ditulis oleh MOCH. HISYAM, alumnus Pondok Pesantren KH. Zaenal Musthafa, Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya. Alumnus LAIC Cipasung Singaparna, Tasikmalaya, tinggal di Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 16 Maret 2012 / 23 Rabiul Akhir 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Meski bulan Maulid (Rabiul Awwal) sudah melintas, tak salah apabila kita mengenang kembali sejarah perjuangan nabi dan berkaca kepada reformasi Rasulullah SAW. dalam menata masyarakat. Sebuah reformasi yang tercatat dalam sejarah sebagai paling berhasil mengubah masyarakat tertinggal (jahiliyah) menjadi masyarakat maju dan beradab.

Sementara di Indonesia, 13 tahun reformasi telah bergulir di saat bangsa Indonesia mengalami runtuhnya nilai-nilai demokrasi, terjadi penyimpangan-penyimpangan dan tidak menentunya kepastian hukum dan keadilan di mata masyarakat. Namun reformasi sekalipun telah berlangsung cukup lama, tidak menunjukkan perubahan signifikan terhadap perilaku para pemimpin bangsa ini. Indikasinya dapat dilihat dari para pemimpin yang tidak memiliki sense of crisis (tidak ada keprihatinan) terhadap rakyatnya, tidak punya rasa malu melakukan korupsi mengambil uang rakyat dengan jalan batil.

Sosok Rasulullah SAW. tampil bukan hanya sebagai pemimpin agama tetapi sebagai pemimpin bangsa, negarawan, pejuang, murabbi (pendidik), dan reformis andal. Sebagai negarawan, Nabi tergolong orang yang menerapkan dan melaksanakan tatanan penyelenggaraan negara yang bersih (clean government) dan pemerintahan yang baik (good governance).

Dalam semua posisi dan statusnya, beliau selalu mencerminkan perilaku indah dalam kehidupan manusia, sebagaimana sabdanya,
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Al-Qur'an menegaskan pribadi Rasulullah sebagai suri teladan bagi semua manusia. Sesuai firman Allah SWT.,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Laqad kana lakum fee rasooli Allahi oswatun hasanatun liman kana yarjoo Allaha waalyawma alakhira wathakara Allaha katheeran
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik. (QS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah SAW. secara konsisten memberikan contoh baik dalam perkataan dan perbuatan. Hal ini merupakan nilai substantif reformasi yang dijalankan. Oleh karena itu, reformasi bukan hanya mengganti orang atau rezim tetapi berubahnya perilaku orang tersebut dari perbuatan buruk kepada perbuatan baik.

Reformasi adalah mengubah pola berpikir, tingkah laku, pola kebijakan, dan sikap mental. Makna reformasi pada hakikatnya adalah gerakan yang memformat ulang, menata kembali hal-hal menyimpang dalam sikap mental, perilaku, dan sistem untuk dikembalikan pada bentuk semula sesuai dengan nilai-nilai ideal yang dicita-citakan. Sebagai contoh sahabat Umar bin Khattab, sebelum masuk Islam adalah sosok yang kejam dan kasar tetapi setelah masuk Islam, berbalik 180 derajat menjadi seorang yang berakhlak mulia, penuh kasih, lembut, tawadu, dan rendah hati.

Demikian pula Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Zubair bin Awwam, dan Hamzah ketika sebelum Islam, mereka sosok yang kejam dan bengis, tetapi setelah masuk Islam, mereka menjadi sosok yang lembut dan kasih sayang.

Dalam konsep Islam, manifestasi reformasi yang substantif dan integral agar menjadi masyarakat, bangsa, dan negara yang adil dan sejahtera (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur) perlu memperhatikan prinsip perubahan komprehenshif, elementer, dan simultan.
  • Pertama, ishlahul 'aqidah (reformasi akidah). Segala sesuatu yang berbau kemusyrikan diberantas sampai tuntas. Sebelum Islam datang di Indonesia, masyarakatnya menganut faham animisme dinamisme. Namun saat ini berhala-berhala yang disembah manusia bukanlah patung-patung melainkan penghambaan kepada pangkat, jabatan, harta yang dianggap segalanya.
  • Kedua, ishlahul 'ibadah (reformasi ibadah). Reformasi ini bukan hanya gugur kewajiban agama, seperti shalat, tetapi mampu memotivasi terjadinya perubahan perilaku menjadi baik sebagai implementasi ibadah yang dilakukan. Ibadah harus berdampak kepada perkataan dan perbuatan sehari-hari.
  • Ketiga, ishlahus siyasah (reformasi politik). Sebelum Rasulullah, tatanan politik tak ubahnya seperti hukum rimba, siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Islam datang mengubah tatanan politik dan mengembalikannya kepada tujuan benar dan mulia.
  • Keempat, ishlahul ijtimaiyah (reformasi masyarakat). Masyarakat pada zaman jahiliyah tidak memperhatikan norma, susila, dan moral. Mereka bebas melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Rasululullah mengubah manusia dari sikap amoral menjadi bermoral dan berbudi pekerti baik,
  • Kelima, ishlahul iqtishadiyah (reformasi ekonomi). Jika jual-beli zaman jahiliyah tidak ada batasan keuntungan yang ditoleransi. Ekonomi saat itu tidak memiliki aturan jelas. Praktik riba merajalela. Mengurangi timbangan dan takaran dalam praktik jual-beli menjadi hal biasa. Rasulullah mengubah ekonomi ala zaman jahiliyah kepada ekonomi kerakyatan dengan meletakkan prinsip-prinsip kejujuran. Ekonomi Islam lebih memperhatikan kemaslahatan umum bukan kepentingan sendiri atau golongan.
  • Keenam, ishlahul hukmi wal hukumah (reformasi hukum dan pemerintahan). Penegakan hukum bukan hanya untuk rakyat, tetapi untuk semua orang dan golongan. Siapa pun yang bersalah harus ditindak sesuai hukum yang berlaku.
  • Ketujuh, ishlahu mihnatun nisaa (reformasi kedudukan wanita). Sebelum Islam datang, bukan rahasia lagi apabila wanita dijadikan sebagai obyek seksualitas. Harkat dan martabat wanita dianggap rendah dan hina karena menjadi beban dalam keluarga. Islam mengangkat kedudukan wanita sejajar dengan laki-laki. Wanita diberikan porsi untuk berkembang dan bersosialisasi. Bahkan diberikan keleluasaan dalam hak berpendapat dan berkarya.
Semoga reformasi Indonesia kembali ke jalur yang benar layaknya reformasi ala Rasulullah.***

[Ditulis oleh HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL'AYDRUS, Ketua Yayasan Assalaam dan mantan ketua PW NU Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 15 Maret 2012 / 22 Rabiul Akhir 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Bunga kehidupan dunia seperti harta kekayaan, jangan sampai mempesona diri kita sehingga terbuai dengan keindahan yang menyebabkan lupa meraih karunia Allah yang lebih baik dan lebih kekal. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. yang melarang kita agar tidak terpesona oleh bunga kehidupan dunia. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surat Thaahaa ayat 131,  

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَ

Wala tamuddanna AAaynayka ila ma mattaAAna bihi azwajan minhum zahrata alhayati alddunya linaftinahum feehi warizqu rabbika khayrun waabqa
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka. Sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan, karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

Orang yang terpesona dan teperdaya oleh bunga kehidupan dunia akan menjadikan dirinya menjadi orang yang rakus terhadap dunia, tidak akan merasa cukup dengan yang telah didapatkannya. 

Rasulullah SAW. bersabda,
"Andaikata seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah emas, pasti ia ingin mempunyai dua lembah. Dan tiada yang dapat menutup mulutnya (tidak ada yang dapat menghentikan kerakusannya kepada dunia) kecuali tanah (maut). Dan Allah berkenan memberi tobat pada siapa saja yang bertobat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang yang sudah teperdaya oleh bunga kehidupan dunia akan menjadikan dirinya hidup bermegah-megahan dan kikir terhadap hartanya. Allah SWT. berfirman,  

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Wainnahu lihubbi alkhayri lashadeedun
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (QS. Al-A'diyat: 8)

Bunga kehidupan merupakan hiasan kehidupan dunia semata. Tidak ubahnya laksana sekuntum bunga yang sedang mekar yang menarik perhatian orang yang memandangnya. Namun, keindahan bunga itu tidak berlangsung lama. Perlahan bunga itu akan layu, lalu redup dan akhirnya gugur ke bumi sebagai sampah.

Demikian pula dengan bunga kehidupan dunia yang dimiliki manusia. Memang ia dapat memberikan kesenangan kepada pemiliknya. Namun hal itu bersifat sementara, hanya di dunia.

Bunga-bunga kehidupan dunia itu akan pudar, berakhir, rusak, binasa dalam peredaran ruang dan waktu. Malah akhirnya bunga kehidupan itu meninggalkannya atau ditinggalkan olehnya. Itulah kenyataan dunia ini di luar daripada beribadah kepada Allah SWT. 

Allah SWT. berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

Waidrib lahum mathala alhayati alddunya kamain anzalnahu mina alssamai faikhtalata bihi nabatu alardi faasbaha hasheeman tathroohu alrriyahu wakana Allahu AAala kulli shayin muqtadiran
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Almalu waalbanoona zeenatu alhayati alddunya waalbaqiyatu alssalihatu khayrun AAinda rabbika thawaban wakhayrun amalan
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik, pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al-Kahfi: 45-46)

Rasulullah SAW. bersabda,
"Bagiku dunia tidak lain hanyalah laksana seorang pengembara yang beristirahat di bawah sebatang pohon kemudian beranjak meninggalkannya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sesungguhnya Allah SWT. tidak melarang hamba-Nya untuk memiliki bunga-bunga kehidupan dunia, seperti memiliki harta kekayaan yang banyak karena naluri manusia menyukai hal-hal demikian. Allah SWT. berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَ‌ٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Zuyyina lilnnasi hubbu alshshahawati mina alnnisai waalbaneena waalqanateeri almuqantarati mina alththahabi waalfiddati waalkhayli almusawwamati waalanAAami waalharthi thalika mataAAu alhayati alddunya waAllahu AAindahu husnu almaabi
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali-Imran: 14)

Bahkan perhiasan dunia ini sesungguhnya diperuntukkan bagi orang-orang beriman. Sebagai firman Allah SWT. dalam Al-Qur'an Surat Al-a'raf ayat 32,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَ‌ٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Qul man harrama zeenata Allahi allatee akhraja liAAibadihi waalttayyibati mina alrrizqi qul hiya lillatheena amanoo fee alhayati alddunya khalisatan yawma alqiyamati kathalika nufassilu alayati liqawmin yaAAlamoona
Katakanlah, "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah, "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

Akan tetapi, yang dilarang oleh Allah SWT. itu adalah menjadikan bunga-bunga kehidupan sebagai rujuan hidup kita, sehingga kita sibuk dengannya bahkan menjadi budak dari bunga kehidupan dunia, dan melupakan ketaatan kepada Allah SWT. 

Allah SWT. berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Ya ayyuha alnnasu ittaqoo rabbakum waikhshaw yawman la yajzee walidun AAan waladihi wala mawloodun huwa jazin AAan walidihi shayan inna waAAda Allahi haqqun fala taghurrannakumu alhayatu alddunya wala yaghurrannakum biAllahi algharooru
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (QS. Luqman: 33)

Di kehidupan akhir zaman ini rayuan dan pesona bunga kehidupan dunia begitu menggiurkan dan mempesona kaum Muslimin. Tidak sedikit orang yang terpukau oleh keindahannya dan termakan oleh rayuan pesona bunga kehidupan dunia.

Keterpesonaan terhadap bunga kehidupan dunia muncul ketika ada ketertarikan pada diri manusia kepada kemewahan dan kesenangan dunia. Juga muncul ketika manusia tidak ridha, tidak qanaah, dan tidak mensyukuri terhadap yang telah diberikan oleh Allah SWT. kepadanya.

Untuk itu, hendaknya kita menyadari dan meyakini bahwa bunga kehidupan dunia merupakan ujian dari Allah SWT., bukan tujuan dari hidup kita agar kita tidak teperdaya dan tenggelam oleh pesona keindahan bunga kehidupan dunia. Selain itu, hendaknya kita mensyukuri berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dan selalu melihat terhadap orang yang berada di bawah kita.

Rasulullah SAW. bersabda,
"Jika seorang dari kalian melihat orang lain yang diberi kelebihan dalam harta dan ketampanan, hendaklah ia melihat orang yang di bawahnya." (HR. Muslim)

Begitu juga, hendaknya kita memfokuskan diri terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi akhirat. Orang yang berusaha mencari kebaikan akhirat, maka dunia pun akan tunduk kepada kita dan kita terjauh dari hubuddunya (cinta dunia).

Rasulullah SAW. bersabda,
"Siapa saja yang niatnya mencari akhirat maka Allah akan menyelesaikan semua persoalannya, dan menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia pun akan datang kepadanya dengan menunduk." (HR. Ibnu Majah)

Wallahu 'alam. ***

[Ditulis oleh H. MOCH HISYAM, alumnus Pondok Pesantren KH. Zaenal Musthafa Sukamanah Singaparna Tasikmalaya, alumnus IAIC Cipasung Singaparna Tasikmalaya, tinggal di Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 9 Maret 2012 / 16 Rabiul Akhir 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"] 

by 
 u-must-b-lucky