Barang siapa yang mandi sempurna pada hari Jumat, berpakaian yang paling pantas-rapi, dan memakai wewangian (jika ada), kemudian berangkat ke masjid (lebih awal, dengan tenang) dan melaksanakan shalat sekemampuannya — yang Allah menghendakinya (shalat Intidzar), kemudian diam menyimak khotbah, lalu shalat bersama khatib, maka akan diampuni dosanya di antara Jumat yang satu dan Jumat yang lain, ditambah tiga hari. (HR. Muslim dari Abu Hurairah dan HR. Abu Daud)

Saya pernah mengikuti Kajian Islam Intensif di Majlis Percikan Iman, dengan tema "Mukjizat Shalat Sunat". Dari kajian itu, saya mengetahui dan memahami ternyata sangat banyak jenis shalat sunat yang idealnya kita laksanakan setiap saat dengan sebaik-baiknya. Beberapa nama shalat sunat itu adalah shalat Rawatib, Tahajud, Witir, Syukrul Wudhu, Tahiyatul Masjid, shalat hari raya Idulfitri dan Iduladha, shalat Gerhana, shalat Istisqo, dan shalat Intidzar

Nama shalat sunat yang ditulis terakhir, yakni shalat Intidzar, bisa jadi bagi sebagian kita masih tergolong asing atau baru dikenal. Bagi sebagian orang, mungkin sudah lama mendengar dan mengenalnya tetapi belum pernah atau belum biasa mengamalkannya. 

Risalah ringkas yang penulis rangkum dari berbagai sumber ini mencoba menjelaskan apa shalat Intidzar itu dan apa keistimewaannya. Tidak berlebihan bila selanjutnya mengajak pembaca, marilah kita berniat melaksanakannya, mulai dari diri sendiri, dan mulai Jumat ini. 

Kita sudah mengimani kebenaran sabda Nabi Muhammad SAW., seperti yang dikutip pada awal tulisan ini. Oleh karena itu, siapa pun insya Allah akan sangat tertarik dan berniat mengamalkan shalat Intidzar dalam sisa hidupnya. Apalagi, bila kita tidak mengamalkan ilmu yang sudah diketahui, itu termasuk dosa. Lebih dari itu, dengan kita mulai mengamalkannya, insya Allah akan menjadi contoh teladan dan dakwah yang baik bagi generasi muda untuk juga secara bertahap melaksanakan shalat Intidzar
Dijelaskan Ustadz Amiruddin dalam Risalah Mukjizat Shalat Sunat bahwa Intidzar yang berasal dari bahasa Arab itu artinya "menunggu". Shalat sunat Intidzar adalah shalat sunat dua rakaat-dua rakaat, yang dilaksanakan saat menunggu imam naik-menuju mimbar untuk menyampaikan khotbah Jumat. Shalat Intidzar dilaksanakan dua rakaat-dua rakaat menurut kemampuan, atau sekemampuan kita melaksanakannya sesuai dengan ketersediaan waktu. Shalat Intidzar dilaksanakan di masjid, sejak kita melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid sampai dengan tiba waktu dzuhur, yang ditandai dengan berdirinya imam-khatib menuju mimbar untuk menyampaikan khotbah Jumat

Andai kita mencoba menghitung jumlah rakaatnya bisa bervariasi bergantung pada panjang pendek surat yang dibaca dan sisa waktu yang tersedia sampai dengan waktu dzuhur. Mau membanyakkan jumlah rakaat dengan membaca surat-surat pendek atau mau menyedikitkan jumlah rakaat tetapi membanyakkan jumlah ayat Al-Qur'an yang dibaca pada setiap rakaatnya, itu sama baik/utamanya. Bila hal itu kita amalkan, sungguh merupakan prestasi amal saleh yang luar biasa yang bisa dilaksanakan setiap Jumat. Marilah kita jadikan kualitas dan kuantitas ibadah Jumat hari ini dan seterusnya lebih baik lagi. 

Keistimewaan atau mukjizat apa yang dijanjikan Nabi atas pelaksanaan shalat Intidzar itu? Berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW., paling tidak ada dua jaminan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang rajin melaksanakan shalat fardu lima waktu, shalat wajib Jumat lengkap dengan shalat Intidzar, yaitu diampuni dosa dan dikabulkan doa. 

Dalam hadits yang sudah sangat populer Nabi SAW. bersabda,
"Apa yang akan terjadi, jika di depan rumah kalian terdapat sebuah sungai yang mengalirkan air nan jernih, dan kalian mandi lima kali dalam sehari semalam, apakah masih tersisa kotoran pada badan kalian? Mereka menjawab, tentu tidak akan tersisa sedikit pun kotoran. Jika demikian, begitulah dengan shalat lima waktu, Allah akan menghapus setiap kesalahannya dengan shalat tersebut." (HR. Muslim)

Singkatnya, pada setiap pertemuan/pelaksanaan ibadah, Allah SWT. menaburkan kasih sayang berupa kemurahan ampunan-Nya. Dalam hadits lain yang mutafakun alayh dijelaskan bahwa,
"Setiap pertemuan ibadah fardu, dari shalat ke shalat, dari puasa ke puasa, dari umrah ke umrah, dan dari haji ke haji ada kifarat."
Demikian juga dari Jumat ke Jumat, Allah menebarkan kifarat, ampunan-Nya. Doa dipenuhi. Allah SWT. berfirman,  

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Waitha saalaka AAibadee AAannee fainnee qareebun ojeebu daAAwata alddaAAi itha daAAani falyastajeeboo lee walyuminoo bee laAAallahum yarshudoona

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah (Muhammad) bahwasanya, Aku adalah dekat. Aku mengabulkan setiap permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al-Baqarah: 186)

Berkaitan dengan hari Jumat, Nabi SAW. dalam hadits riwayat Abu Dawud yang insya Allah sudah lama kita kenal mengisyaratkan,
"Siang hari Jumat itu dua belas jam. Tidaklah didapati seorang hamba Muslim pada saat-saat itu meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah memberinya. Maka carilah saat-saat tersebut setelah Ashar."

Selanjutnya berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Nabi SAW. bersabda,
"Sesungguhnya pada hari Jumat ada saat-saat, yaitu seorang Muslim tidaklah ia berdiri shalat dan meminta kebaikan kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya. Lalu beliau berkata, dan saat-saat tersebut adalah saat yang singkat." (HR. Muslim)

Tentang saat yang singkat ini ada pendapat ulama yang menegaskan bahwa saat yang singkat itu adalah saat khatib duduk sejenak di antara dua khotbah

Sementara jaminan pengampunan dosa yang khusus berkaitan dengan shalat Intidzar bisa kita pahami dari hadits sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini. Jadi, tidak ada lagi alasan kita melaksanakan ibadah shalat Jumat dengan asal-asalan, terutama bagi kita, para pembaca yang tidak berusia muda dan tidak termasuk orang yang amat rajin berbuat amal saleh, maka melaksanakan shalat Jumat dengan sepenuh keimanan, sepenuh pengharapan kepada Allah akan taufik, hidayah, dan maghfirah-Nya, adalah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. 

Semoga Allah membimbing kita dengan ketaatan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga akhir hayat. Terutama dengan istiqamah melaksanakan shalat fardu berjemaah di masjid dan menunaikan serangkaian ibadah Jumat secara paripurna, tidak melewatkan shalat sunat Tahiyatul Masjid, Intidzar, wajib Jumat, dan sunat Badiyah Jumat, serta doa-dzikir-nya. Amin.*** 

[Ditulis oleh DAENG NURJAMAL, dosen STP Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 4 Mei 2012 / 12 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"] 

by 
u-must-b-lucky
Pertanyaan ke mana, mungkin paling sering digunakan secara massal dan fenomenal. Penyanyi dangdut Ayu Tingting baru-baru ini meraup sukses karena mendendangkan lagu "Alamat Palsu" yang penuh kata tanya, "Ke mana, ke mana?" Setengah abad sebelumnya (1969), mendiang penyanyi Ellya M. Haris (Khadam) mengalami hal serupa, berkat lagu "Kau Pergi Tanpa Pesan" yang dimulai dengan kata tanya "Ke mana?" Demikian pula Elvie Sukaesih yang lagunya "Ke Mana", sangat populer pada pertengahan 1970-an.
Kata tanya ke mana memang sangat umum. Menjadi keperluan pokok dalam percakapan sehari-hari. Namun, akan mengandung makna sangat mendalam karena di situ terdapat gambaran ketidaktahuan manusia yang serba lemah dan terbatas pengetahuannya.

Apalagi jika dilontarkan oleh Allah SWT., Sang Maha Pencipta kata, sekaligus Pencipta makhluk pengguna kata, kalimat, dan bahasa

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
Faayna tathhaboona

maka ke manakah kalian akan pergi? (QS At-Takwir: 26)

Sayyid Qutub, penulis tafsir "Fi Dzilalil Qur'an" menyebut pertanyaan tersebut, sangat menyentak. Menguak kesadaran setiap insan atas ketakberdayaan dirinya menghadapi kekuasaan Allah SWT., yang telah memberi pilihan jelas tentang arah kehidupan di jalan lurus. Namun, kebanyakan manusia mengabaikannya. Justru terseret ke arah jalan sesat dan menyesatkan yang membawa kepada kehancuran di dunia dan akhirat.

Sebelum melontarkan pertanyaan lumrah tetapi sangat dahsyat itu, Allah SWT. terlebih dulu memaparkan kondisi alam semesta pada saat terjadi hari kiamat. Yaitu tatkala matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan, sehingga seluruh makhluk lintang pukang mencari penyelamatan. Tak ingat apa-apa lagi.
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ
وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ
وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ
وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ
وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
Itha alshshamsu kuwwirat Waitha alnnujoomu inkadarat Waitha aljibalu suyyirat Waitha alAAisharu AAuttilat Waitha alwuhooshu hushirat Waitha albiharu sujjirat Waitha alnnufoosu zuwwijat

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh) (QS. At-Takwir : 1-7)

Termasuk unta-unta bunting yang akan melahirkan. Dalam tradisi Arab, memelihara unta adalah sangat istimewa. Selain menjadi sumber nafkah, juga sebagai gengsi. Jumlah unta peliharaan menjadi salah satu ukuran kekayaan dan kehormatan. Terlebih jika banyak di antara unta peliharaan bunting-bunting. Berarti sehat-sehat, di samping akan menambah koleksi jumlah unta. Menunggui dan menjaga unta bunting siap melahirkan merupakan tugas penting setiap anggota keluarga. Tidak boleh dibiarkan telantar, terutama pada saat bayi unta keluar dari rahim induknya.

Dalam tradisi modern, unta bunting mungkin setara dengan emas intan, deposito, tabungan, saham, harta bergerak, harta tidak bergerak, dan lain-lain yang juga menjadi ukuran dan kehormatan duniawi. Akan tetapi, ketika terjadi guncangan kiamat, semua tak berarti. Harta, kekayaan, kehormatan, tak perlu lagi dipertahankan. Semua gonjang-ganjing. Tak tahu arah pelarian.

Di daratan, gunung-gunung sudah hancur lebur. Di lautan, air menggelegak. Panas jutaan derajat. Kemudian ruh dipertemukan dengan tubuh. Manusia yang sudah mati dibangkitkan kembali. Yang masih hidup mengalami kematian pula bersama proses pelenyapan alam semesta, dan juga dihidupkan lagi seperti yang sudah mati terdahulu. Lalu digiring ke alam mahsyar, untuk menempuh perhitungan amal perbuatan. Yaumul Hisab. Hari Perhitungan, Hari Pengadilan yang dipimpin langsung oleh Allah SWT. Ahkamul Hakimin. Hakim Mahahakim. Di situ, bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, dosa apa yang membuat mereka dibunuh?
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ
بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ
Waitha almawoodatu suilat Biayyi thanbin qutilat

dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, (QS. At-Takwir: 8-9)

Dalam tradisi Arab Jahiliyah (sebelum kedatangan Islam), memiliki bayi perempuan dianggap aib, noda, penghinaan. Karena yang dibutuhkan adalah bayi laki-laki yang kelak tumbuh dewasa menjadi pahlawan. Akibatnya, setiap bayi perempuan yang baru lahir, langsung dikubur hidup-hidup hanya karena rasa malu keluarga yang tumbuh dari keangkuhan dan kesombongan heroisme belaka. Namun, tradisi Jahiliyah tersebut, ternyata masih terus tumbuh berkembang pada zaman modern. Tatkala sebagian manusia merasa malu mempunyai bayi. Bukan hanya perempuan tetapi juga lelaki. Malu karena lahir dari hubungan tidak sah, hubungan gelap, perzinaan yang terkutuk sehingga membawa dosa tambahan terkutuk pula. Yaitu pembunuhan terhadap bayi tak berdosa. Bahkan berbagai praktik pembunuhan bayi di abad Jahiliyah modern ini lebih sadis. Mulai dari aborsi janin, baik ilmiah, maupun non-ilmiah, maupun pembunuhan langsung begitu bayi keluar. Termasuk juga membuang dan menelantarkan bayi atau anak-anak yang masih membutuhkan asuhan dan kasih sayang orangtua.

Kemudian catatan amal perbuatan dibuka terang-terangan. Gamblang segamblang-gamblangnya. Tak ada sedikit pun yang disembunyikan, direkayasa, diputarbalikkan. Neraka telah dinyalakan. Siap menelan para pendosa. Surga telah dibukakan. Siap menyambut para penerima pahala kebajikan. Setiap jiwa, saat itu, akan mengetahui apa yang dikerjakannya.
وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ
وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ
وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ
وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ
Waitha alssuhufu nushirat Waitha alssamao kushitat Waitha aljaheemu suAAAAirat Waitha aljannatu ozlifat AAalimat nafsun ma ahdarat

dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, (QS. At-Takwir: 10-14)

Dipaparkan pula posisi Malaikat Jibril, sebagai panglima para malaikat, yang telah bertugas menyampaikan wahyu Ilahi kepada Nabi Muhammad SAW., berupa ayat-ayat Al-Qur'an. Mustahil jika ayat Al-Qur'an itu merupakan perkataan setan terkutuk.
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ
ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ
مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ
وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ
وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ
Innahu laqawlu rasoolin kareemin Thee quwwatin AAinda thee alAAarshi makeenin MutaAAin thamma ameenin Wama sahibukum bimajnoonin Walaqad raahu bialofuqi almubeeni Wama huwa AAala alghaybi bidaneenin Wama huwa biqawli shaytanin rajeemin

sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, (QS. At-Takwir: 19-25)

Ayat-ayat Al-Qur'an itu merupakan peringatan bagi semesta alam. Bagi siapa saja di antara manusia yang bersedia menempuh jalan lurus.
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ
لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
Wama huwa AAala alghaybi bidaneenin Wama huwa biqawli shaytanin rajeemin Faayna tathhaboona In huwa illa thikrun lilAAalameena Liman shaa minkum an yastaqeema

Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka ke manakah kamu akan pergi? Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (QS. At-Takwir: 24-28)

Untuk memperoleh petunjuk ke jalan lurus tersebut, Allah SWT. menguji manusia dengan kewajiban menempuh proses pembelajaran.
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Wama tashaoona illa an yashaa Allahu rabbu alAAalameena

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir: 29)

Atas kehendak-Nya, berhasil meraih pencapaian posisi terpuji. Tunduk patuh menjalankan segala perintah Allah SWT., sekaligus meninggalkan segala larangan-Nya yaitu taqwa.

Maka pertanyaan, "Ke mana kalian akan pergi?" Jawabannya jelas sudah. Apakah menuju jalan lurus yang dipandu petunjuk Al-Qur'an menuju ridha Allah SWT., atau menuju jalan sesat menyesatkan seperti yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang dimurkai-Nya

Namun, jika direnungkan, dicamkan, dan diyakinkan, mengenai kekuasan Allah SWT. terhadap masa depan dan masa akhir kehidupan dunia dan alam semesta, sebagaimana dipaparkan secara rinci di atas, mustahil jika ada orang yang memilih jalan terkutuk, penuh dosa kemaksiatan yang tak mungkin dapat tertanggungkan dalam Hari Pengadilan Yang Maha Adil.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Sirata allatheena anAAamta AAalayhim ghayri almaghdoobi AAalayhim wala alddalleena

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 7)

Tentu semua ingin memilih jalan lurus, penuh amal kebaikan dan kebajikan, serta janji ganjaran dan pengampunan dari Allah al Wahabul Ghoffar

Semoga kita tetap berada di situ, bersama orang-orang yang mendapat petunjuk.***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan, Cibiuk, Garut juga pembimbing haji dan umrah BPIH Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 3 Mei 2012 / 11 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Iblis atau setan merupakan musuh abadi manusia. Selama manusia masih bernapas, setan akan selalu berusaha menyesatkannnya dari jalan Allah SWT. Beragam cara pun dilakukannya untuk membuat manusia menderita di dunia maupun akhirat. Salah satu caranya adalah dengan memberi janji manis kepada manusia. Janji palsu. Tipu daya iblis untuk menghasut manusia.
Janji manis iblis merupakan bujuk rayu iblis yang dirasukkan kepada pikiran manusia agar melakukan suatu kemaksiatan atau kedurhakaan yang dibumbui janji-janji manis sehingga manusia lupa dan tidak menyadarinya. Bentuk janji manis itu berupa kesenangan dan kenikmatan yang selaras dengan hawa nafsu manusia.

Namun, ketika manusia sudah melakukan apa yang dikehendakinya, bukan kesenangan dan kenikmatan yang didapatkannya, melainkan kebencian dan kemurkaan Allah SWT. Janji manis iblis hanya tipu dayanya belaka. Allah SWT. berfirman,

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا
أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا

YaAAiduhum wayumanneehim wama yaAAiduhumu alshshaytanu illa ghurooran
Olaika mawahum jahannamu wala yajidoona AAanha maheesan

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya. (QS. An-Nisa: 120-121)

Tipu daya iblis dengan cara memberikan janji manis ini pernah dilakukannya kepada Nabi Adam AS., yang menyebabkan Nabi Adam dan istrinya, Hawa keluar dari surga. Kemudian Nabi Adam AS., menyadari kesalahannya lalu bertobat dan Allah SWT. menerima tobatnya. Janji manis iblis ini diumbarnya ketika Adam AS., dilarang oleh Allah SWT. agar tidak memakan buah dari sebuah pohon, kemudian Iblis mendatangi Adam AS. membujuk dan memberi janji manis kepadanya dengan cara merasuki pikirannya bahwa bila ia dan istrinya, Hawa memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah SWT., ia dan istrinya akan kekal berada dalam kenikmatan surga.

Oleh karena itu, Iblis menamai pohon buah itu dengan khuldi yang berarti kekekalan sebagai akal bulusnya. Sebagaimana dikisahkan di dalam Al-Qur'an Surat Thaaha: 120-121

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ

Fawaswasa ilayhi alshshaytanu qala ya adamu hal adulluka AAala shajarati alkhuldi wamulkin la yabla
Faakala minha fabadat lahuma sawatuhuma watafiqa yakhsifani AAalayhima min waraqi aljannati waAAasa adamu rabbahu faghawa

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan?, dan sesatlah ia.

Janji manis iblis ini diumbarnya ketika manusia dikuasai hawa nafsunya, lengah dari mengingat Allah, dan ketika berpaling dari ajaran Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT., berfirman, 

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Waman yaAAshu AAan thikri alrrahmani nuqayyid lahu shaytanan fahuwa lahu qareenun

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf: 36)

Ketika manusia sudah terbujuk rayu janji manis iblis, akan menyebabkan berbagai macam keburukan. Di antaranya, timbulnya permusuhan dan kebencian di antara manusia. Kemudian akan menumbuhkan rasa takut pada diri untuk melakukan amar makruf nahi munkar, Allah berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Innama thalikumu alshshaytanu yukhawwifu awliyaahu fala takhafoohum wakhafooni in kuntum mumineena

Sesungguhnya itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali-Imran: 175)

Selanjutnya, akan menumbuhkan maraknya kejahatan. Allah SWT. berfirman, 

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Alshshaytanu yaAAidukumu alfaqra wayamurukum bialfahshai waAllahu yaAAidukum maghfiratan minhu wafadlan waAllahu wasiAAun AAaleemun

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 268)

Sebagai orang yang beriman sudah sepantasnya mengetahui janji-janji manis iblis ini agar tidak terhasut dengan tipu dayanya. Sebab, bila sudah terhasut oleh janji manisnya, akan membuat diri kita lupa kepada Allah SWT., dan akan menenggelamkan kita dalam kemaksiatan. Pada akhirnya akan menjadikan diri kita menjadi orang yang menderita di dunia dan akhirat.

Agar tidak terpedaya oleh janji manis iblis, upaya yang harus kita lakukan antara lain, 
  • Pertama, berpegang kepada teguh kepada Al-Qur'an dan sunah. Allah SWT. berfirman,

    أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ كَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُم
    Afaman kana AAala bayyinatin min rabbihi kaman zuyyina lahu sooo AAamalihi waittabaAAoo ahwaahum

    Maka, apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (QS. Muhammad: 14)
  • Kedua, lakukan berbagai amal ibadah dengan penuh keikhlasan. Sebab, dengan ibadah yang ikhlas akan menjadikan setan tidak akan mampu menyesatkannya walaupun dengan memberikan janji-janji manis. Hal ini dinyatakan sendiri oleh setan kepada Allah SWT. sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Hijr: 39-40,

    قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
    إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
    Qala rabbi bima aghwaytanee laozayyinanna lahum fee alardi walaoghwiyannahum ajmaAAeena
    Illa AAibadaka minhumu almukhlaseena

    Iblis berkata, Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.
  • Ketiga, berlindung kepada Allah ketika mendapatkan gangguan setan. Allah SWT. berfirman,

    وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
    Waimma yanzaghannaka mina alshshaytani nazghun faistaAAith biAllahi innahu huwa alssameeAAu alAAaleemu

    Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat: 36)
Bentuk permohonan kita kepada Allah SWT. agar terhindar dari rayuan setan telah diajarkan oleh Rasulullah SAW., yaitu,

"A'uudzu billaahisamii'il 'aliim minasyaithaanirrajimi min hamzihi wanafkhihi wanafatsihi."

"Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari rayuan, tiupan, dan embusannya.
Semoga kita semua dapat mengamalkannya dan dapat terhindar dari bujuk rayu iblis dan setan yang senantiasa akan berupaya menggoda manusia. 

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh H. MOCH HISYAM, ketua DKM Al-Hikmah RW 07 Sarijadi Bandung, anggota Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 27 April 2012 / 5 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by 
u-must-b-lucky
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
OdAAu ila sabeeli rabbika bialhikmati waalmawAAithati alhasanati wajadilhum biallatee hiya ahsanu

Ajaklah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (bijaksana), pelajaran (nasihat) yang baik, dan cegahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl: 125)

Dakwah merupakan sebuah proses yang berkesinambungan. Dakwah bukan sebatas ceramah, melainkan mengubah sasaran dakwah agar bersedia masuk ke jalan Allah, dan secara bertahap menuju perkehidupan yang islami. Suatu proses yang berkesinambungan bukan insidental atau kebetulan, melainkan benar-benar direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara terus-menerus oleh para pengemban dakwah. Selama ini kita terlalu sempit dalam memahami dakwah sehingga sebatas datang ke sebuah pengajian lalu berceramah dan pulang lagi dengan berharap materinya bisa diterima masyarakat.

Sudah bukan waktunya lagi, dakwah dilakukan asal jalan, tanpa sebuah perencanaan yang matang, baik yang menyangkut materi, tenaga pelaksana, maupun metode yang dipergunakannya. Memang benar, sudah menjadi hukum Allah (sunnatullah) apabila kebenaran pasti menghancurkan kebatilan.  

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Waqul jaa alhaqqu wazahaqa albatilu inna albatila kana zahooqan

Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. Al-Isra: 81)

Tetapi "sunnatullah" ini berkaitan dengan sunnatullah yang lain, yakni Allah sangat mencintai dan meridhai kebenaran yang diperjuangkan dalam sebuah barisan yang rapi dan teratur. 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ
Inna Allaha yuhibbu allatheena yuqatiloona fee sabeelihi saffan kaannahum bunyanun marsoosun

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaff: 4)

Dakwah itu memiliki arti yang lebih luas dan cara penyampaian yang sangat beragam. Karena ada beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk berdakwah. Bisa secara langsung atau tatap muka dalam artian seorang dai atau penceramah langsung berhadapan dengan pendengarnya untuk memberikan nasihat-nasihat keagamaan dalam ruang dan waktu. Bisa juga secara tidak langsung melalui media baik televisi, radio, media cetak, internet, dan Iain-lain.

Allah SWT. telah mewajibkan setiap Muslimin untuk berdakwah atau menyebarkan agama Allah. Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Sampaikanlah dariku walau satu ayat."

Oleh dasar itulah, apabila kita mendapatkan suatu ilmu baru dan kita memiliki kesempatan, kita harus menyampaikan dan mengamalkan ilmu tersebut.

Dakwah tidak hanya dilakukan seorang dai atau penceramah kondang. Asal kita mau, kita juga bisa berdakwah. Apalagi dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sehingga setiap orang dengan mudah membagi ilmu dan nasihat kepada orang lain kapan pun dan di mana pun.

Dakwah bisa dilakukan dengan cara mudah, murah, cepat serta tidak berbelit-belit lagi. Islam adalah agama dakwah artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Kemajuan dan kemunduran umat Islam sangat berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya.

Al-Qur'an menyebutkan kegiatan dakwah ahsa ul qaula (ucapan dan perbuatan yang paling baik) seperti dalam QS. Fushilat: 33

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Waman ahsanu qawlan mimman daAAa ila Allahi waAAamila salihan waqala innanee mina almuslimeena

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

Predikat "khaira ummah" (umat terbaik dan terpilih) hanyalah diberikan Allah kepada kelompok umat yang aktif terlibat dalam kegiatan dakwah.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kuntum khayra ommatin okhrijat lilnnasi tamuroona bialmaAAroofi watanhawna AAani almunkari watuminoona biAllahi walaw amana ahlu alkitabi lakana khayran lahum minhumu almuminoona waaktharuhumu alfasiqoona

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

Pertolongan Allah juga diberikan kepada orang-orang yang selalu menegakkan shalat, mengeluarkan infak, aktif melakukan kegiatan amar ma'ruf nahi mungkar atau dakwah

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
Allatheena okhrijoo min diyarihim bighayri haqqin illa an yaqooloo rabbuna Allahu walawla dafAAu Allahi alnnasa baAAdahum bibaAAdin lahuddimat sawamiAAu wabiyaAAun wasalawatun wamasajidu yuthkaru feeha ismu Allahi katheeran walayansuranna Allahu man yansuruhu inna Allaha laqawiyyun AAazeezun

Allatheena in makkannahum fee alardi aqamoo alssalata waatawoo alzzakata waamaroo bialmaAAroofi wanahaw AAani almunkari walillahi AAaqibatu alomoori

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al-Hajj: 40-41)

Sebaliknya, azab Allah akan turun kepada siapa saja yang enggan melakukan kegiatan dakwah

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Kanoo la yatanahawna AAan munkarin faAAaloohu labisa ma kanoo yafAAaloona

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. Al-Maidah: 79)

Dalam kehidupan dunia, azab tersebut bisa berbentuk munculnya pemimpin-pemimpin yang jahat, dzalim, dan angkara murka yang menguasai semua kehidupan kaum Muslimin.

Salah satu kekurangan dalam berdakwah di kalangan umat Islam adalah masih sedikitnya dai yang terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat. Dai tersebut membumi dan selalu bersama dengan masyarakat untuk memberdayakannya. Cara dakwah seperti itu dilakukan kaum non-Muslim sehingga mereka mampu meraih umat karena umat merasa tertolong.
Apalagi tujuan dakwah bukan sebatas masalah ibadah khusus (mahdah) melainkan juga kehidupan dalam sehari-hari masyarakat. Tujuan dakwah secara umum adalah mengubah sasaran perilaku dakwah agar mau menerima ajaran Islam dan mengamalkannya dalam tatanan kenyataan kehidupan sehari-hari, baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, keluarga, maupun sosial kemasyarakatan. Tujuan akhirnya tercipta kehidupan yang penuh dengan keberkahan langit (samawi) dan keberkahan bumi (ardhi). 

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Wala tufsidoo fee alardi baAAda islahiha waodAAoohu khawfan watamaAAan inna rahmata Allahi qareebun mina almuhsineena

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A'raf: 56)

Masyarakat juga mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, serta terbebas dari azab neraka.

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Olaika lahum naseebun mimma kasaboo waAllahu sareeAAu alhisabi

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Al-Baqarah: 202)

Tentu dalam menunjang dakwah integral ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena seorang dai harus mampu menghidupkan masyarakat sekaligus menghidupi keluarganya. Peranan lembaga zakat, infak, dan sedekah amat ditunggu untuk bisa menjadi penyokong utama keberhasilan dakwah. Selain itu, pesantren maupun lembaga pendidikan Islam juga mendukung dakwah integral ini karena mereka memiliki sumber daya manusia (SDM) mumpuni. Semoga. 

Wallahu a'lam.***

[Ditulis oleh H. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Yayasan Ad Dakwah, dan Pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 26 April 2012 / 4 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Hidup adalah anugerah. Hidup dan mati adalah dua peristiwa yang merupakan takdir Allah yang harus diterima dan diimani setiap Mukmin. Keduanya merupakan ujian bagi manusia yang diberikan Allah untuk memilih dan memilah siapa yang terbaik amalnya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Allathee khalaqa almawta waalhayata liyabluwakum ayyukum ahsanu AAamalan

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk: 2)

Kebanyakan manusia merasa takut/ngeri menghadapi kematian, sehingga umumnya berharap umur panjang.

يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ
yawaddu ahaduhum law yuAAammaru alfa sanatin wama huwa bimuzahzihihi mina alAAathabi an yuAAammara

Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. (QS. Al-Baqarah: 96)

Atau kata-kata penyair Chairil Anwar dalam sebuah puisinya, "Aku ingin hidup seribu tahun lagi." Padahal Al-Qur'an memberikan gambaran bahwa kematian itu ibarat tidur panjang, sebagai istirahat dari kegiatan duniawi. Sebagaimana Allah berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allahu yatawaffa alanfusa heena mawtiha waallatee lam tamut fee manamiha fayumsiku allatee qada AAalayha almawta wayursilu alokhra ila ajalin musamman inna fee thalika laayatin liqawmin yatafakkaroona

Allah memegang jiwa orang ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia tahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan Dia lepaskan kembali jiwa yang lain (yang tidur), sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (QS. Az-Zumar: 42)

Kematian bagi orang Muslim adalah kenikmatan karena telah "diistirahatkan" oleh Allah dari segala beban aktivitas dunia. Bahkan, hal ini pernah disampaikan juga oleh seorang filsuf Jerman Schopenhauer yang berkata, "Mengantuk itu nikmat, tetapi lebih nikmat lagi tidur, sedangkan yang lebih nikmat dari tidur adalah mati."

Kematian bagi seorang Muslim juga sebuah kegembiraan karena akan menuju kebahagiaan abadi, yaitu saat-saat perjumpaan dengan Allah SWT. 

Al-Qur'an menggambarkan,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
Inna allatheena qaloo rabbuna Allahu thumma istaqamoo tatanazzalu AAalayhimu almalaikatu alla takhafoo wala tahzanoo waabshiroo bialjannati allatee kuntum tooAAadoona 
Nahnu awliyaokum fee alhayati alddunya wafee alakhirati walakum feeha ma tashtahee anfusukum walakum feeha ma taddaAAoona

Orang-orang yang meyakini Tuhan kami adalah Allah, kemudian istiqamah (berpegang teguh dengan keyakinan tersebut), turun malaikat kepada mereka (di saat-saat kematiannya). Sambil (menenangkan) dengan berkata, 'Janganlah kalian khawatir (menghadapi kematian), jangan pula bersedih (meninggalkan dunia dan keluarga), dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia (bagi keluarga yang kamu tinggalkan) dan di akhirat (bagi kamu sekalian). Di sana kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta. (QS. Fussilat: 30-31)

Sementara bagi orang kafir dan para pendosa, kematian adalah sesuatu yang mengerikan.

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا ۙ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
Walaw tara ith yatawaffa allatheena kafaroo almalaikatu yadriboona wujoohahum waadbarahum wathooqoo AAathaba alhareeqi

Seandainya kamu melihat para malaikat mencabut ruh orang kafir sambil memukul muka dan punggung mereka lalu berkata, "Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar. Tentu kamu akan melihat suatu pemandangan yang sangat mengerikan. (QS. Al-Anfaal: 50)

Terhadap dua takdir itu, ada berbagai sikap manusia dalam menghadapinya. Pertama orang yang ingin mati dan ada pula yang takut mati. Orang yang ingin mati pasti takut hidup, dan orang yang takut mati pasti karena mencintai hidup. Ada pula orang yang tidak takut mati dan tidak takut hidup. Orang yang ingin mati dan takut hidup banyak faktor penyebabnya. Penderitaan yang panjang, kesedihan yang berlarut-larut, perasaan tidak berguna, tidak berdaya, kemiskinan yang akut, lingkungan yang buruk biasanya mendorong seseorang untuk stres, depresi, dan akhirnya takut menghadapi hidup alias frustrasi.

Sifat-sifat seperti ini sangat tercela dalam pandangan Islam dan perlu dihindari. Seorang Muslim dianjurkan untuk selalu mempunyai sifat optimistis dalam mengharap rahmat Allah SWT. Sebagaimana yang dicontohkan oleh keteguhan sikap Nabi Yaqub AS. ketika harus kehilangan anaknya, Yusuf AS. Kehilangan anak yang paling dicintai bertahun-tahun tidak membuat ia putus asa, dan ia selalu berharap pertolongan Allah SWT.

Seberat apa pun musibah dan penderitaan yang dialami seorang Mukmin, segetir apa pun kemiskinan yang dialami, sepahit apa pun kehidupan yang dirasakan, sesakit apa pun penyakit yang diderita, janganlah berputus asa. Karena putus asa tidak akan menyudahi penderitaan, tidak akan menghentikan kemiskinan bahkan justru sebaliknya, akan menambah kesengsaraan dan penderitaan.

Seorang Muslim tidak boleh mengharapkan kematian karena beratnya musibah, karena hidup itu adalah nikmat dan anugerah yang tiada nilainya. Boleh jadi di balik beratnya musibah itu ada hikmah yang terkandung di dalamnya, berupa pengampunan dosa dan pemberian rahmat-Nya jika dijalani dengan penuh kesabaran.

Seperti sabda Nabi dalam sebuah hadits,
"Janganlah salah seorang di antaramu mengharapkan kematian karena beratnya musibah yang menimpa."

Jika terpaksa melakukannya, hendaklah dia berdoa dengan,

Allohumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khoirol lii wa tawaffanii idzaa kaanati wafaatu khoirol lii. 

(Ya Allah berilah aku umur panjang jika hidup itu masih lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku.)

Akan tetapi, bukan lantas bunuh diri. Hal di atas diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW. berkata,
"Sesekali janganlah dari kalian mengharapkan kematian, sebab jika dia orang yang soleh bisa jadi, agar bisa bertambah amal baiknya, dan jika dia bukan orang baik agar bisa bertaubat. Sebab jika sudah mati, semua amalnya akan terputus dan sesungguhnya umur bagi seorang Mukmin itu tidak akan menambah kecuali kebaikan." (HR. Bukhari-Muslim)

Setiap Muslim yang baik tentu menginginkan hidupnya berakhir dengan husnul khotimah (akhir yang baik) dan bukan su'ul khotimah (akhir yang buruk). Jika seseorang memutuskan bunuh diri, berarti ia telah su'ul khotimah karena Nabi telah menyatakan bahwa orang bunuh diri adalah penghuni neraka.

Dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
"Barang siapa menjatuhkan diri dari gunung hingga membunuh dirinya, maka akan selalu terjatuh dalam neraka jahanam selamanya. Barang siapa meminum racun hingga membunuh dirinya, maka ia akan selalu minum racun dalam neraka jahanam selamanya. Dan barang siapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka ia akan selalu menusukkan besi itu dalam neraka jahanam selamanya." (HR. Bukhari)

Bagi setiap Muslim, hidup adalah ladang amal kebajikan dan kematian adalah saat memanen pahala yang telah dijanjikan Allah SWT. di akhirat nanti.

Wallahualam bissawab.***

[Ditulis oleh H. AGUS ISMAIL, khatib dan imam Jumat di beberapa masjid, tinggal di Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 20 April 2012 / 28 Jumadil Awal 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky