Dalam Islam berlaku kaidah, "Tidak ada hukuman kecuali oleh sebab adanya pelanggaran, dan tidak ada pelanggaran kecuali adanya nas." Jadi, harus ada nas terlebih dahulu, baru suatu perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai pelanggaran, kemudian diberlakukan hukuman bagi mereka yang melanggar.

Dari sini kita akan dapat memahami betul tentang Kemahaadilan. Allah SWT. menyatakan,  

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
wama kunna muAAaththibeena hatta nabAAatha rasoolan

Dan Kami tidak akan mengazab hingga Kami utus rasul terlebih dahulu. (QS. Al-Israa': 15)

Allah SWT. tidak akan pernah memberikan siksa atau azab kepada orang-orang kafir dan ahli maksiat di neraka nanti, kecuali setelah Allah mengutus rasul kepada mereka untuk menjelaskan tentang syariat-Nya

Dalam QS. Al-Baqarah: 66 Allah berfirman,  

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ
FajaAAalnaha nakalan lima bayna yadayha wama khalfaha wamawAAithatan lilmuttaqeena

Maka Kami jadikan yang demikian itu hukuman yang berat bagi orang-orang pada masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.

Orang-orang yang Islamofobia mencoba memanfaatkan kata "nakaala" dalam ayat tersebut yang bermakna hukuman berat dan telah menyebarkan fitnah terhadap syariat Islam dengan menyatakan bahwa syariat Islam itu terkesan kejam, keras, bertentangan dengan HAM, tidak manusiawi, tidak adil, dzalim, dan bermacam-macam tuduhan lainnya. Ironisnya, tidak jarang pernyataan semacam ini muncul dari orang-orang yang mengaku Muslim, bahkan kadung dijuluki cendekiawan Muslim

Pertanyaannya, benarkah hukum Allah itu keras sebagaimana yang mereka tuduhkan? Untuk menjawab tuduhan yang tidak beralasan tersebut, perlu dipaparkan istimewanya Islam sebagai suatu syariat untuk pedoman hidup. Paling tidak, ada empat keistimewaannya.

Pertama, dalam Islam, kekuasaan mutlak itu hanya di tangan Allah. Kekuasaan menetapkan hukum itu hanya pada Allah, tidak pada perorangan, golongan, partai ataupun pada kesepakatan, seperti yang terjadi pada sistem demokrasi. 

Kalau kita berbicara tentang hukum, hanya hukum Allah-lah yang pasti adil, sedangkan hukum yang dibuat manusia sudah pasti dzalim. Kenapa hukum yang dibuat manusia itu dzalim? Karena tatkala manusia membuat aturan dan hukum, faktor subjektivitas manusianya (hawa nafsunya) ikut memengaruhi aturan dan hukum yang dibuatnya. Inilah salah satu perbedaan yang paling mendasar antara syariat Allah dan hukum buatan manusia. 

Kenapa hukum Allah itu pasti adil? Karena Allah pada saat membuat aturan tidak punya kepentingan apa pun dengan aturan yang dibuatnya lihat QS. Al-Kahfi: 29.  

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
Waquli alhaqqu min rabbikum faman shaa falyumin waman shaa falyakfur inna aAAtadna lilththalimeena naran ahata bihim suradiquha wain yastagheethoo yughathoo bimain kaalmuhli yashwee alwujooha bisa alshsharabu wasaat murtafaqan

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Manusia mau Mukmin atau kafir, mau taat atau maksiat, sama sekali tidak membuat Allah beruntung atau rugi. Aturan yang dibuat oleh yang tidak punya kepentingan inilah yang dijamin adil bagi semua pihak. 

Kedua, syariat Islam bersifat komperhensif, yakni mengatur semua aspek kehidupan. Allah SWT. berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
wanazzalna AAalayka alkitaba tibyanan likulli shayin wahudan warahmatan wabushra lilmuslimeena

Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl: 89)

Ketiga, sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia. Sebagaimana firman Allah

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
alyawma akmaltu lakum deenakum waatmamtu AAalaykum niAAmatee waradeetu lakumu alislama deenan

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maaidah: 3)

Kesesuaian dengan fitrah manusia, maksudnya memandang manusia tidak sebagai hewan sehingga hanya memenuhi kebutuhan biologisnya, tidak juga sebagai malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu. Akan tetapi, seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani sebagaimana dengan firman Allah,  

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Waibtaghi feema ataka Allahu alddara alakhirata wala tansa naseebaka mina alddunya waahsin kama ahsana Allahu ilayka wala tabghi alfasada fee alardi inna Allaha la yuhibbu almufsideena

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77)

Bahkan, keduanya dalam Islam tidak bisa dipisah-pisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Bila seorang Muslim mencari harta itu pun harus dalam rangka dunia dan akhirat, sehingga dalam mencarinya harus sesuai dengan aturan-Nya

Keempat, fleksibel (luwes). Ada beberapa bentuk fleksibilitas syariat Islam, di antaranya,
  • Pertama, dan sisi hawa nafsu, Islam tidak menghendaki manusia itu mematikan hawa nafsu dan juga tidak menyukai manusia yang memenuhi nafsunya tanpa aturan. Yang dituntut adalah upaya pengendalian.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
    Ya ayyuha allatheena amanoo la tuharrimoo tayyibati ma ahalla Allahu lakum wala taAAtadoo inna Allaha la yuhibbu almuAAtadeena

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al-Maaidah: 87)

    الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
    Allatheena yunfiqoona fee alssarrai waalddarrai waalkathimeena alghaytha waalAAafeena AAani alnnasi waAllahu yuhibbu almuhsineena

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran: 134)

    Serta tidak boleh berlebih-lebihan.

    يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
    قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
    Ya banee adama khuthoo zeenatakum AAinda kulli masjidin wakuloo waishraboo wala tusrifoo innahu la yuhibbu almusrifeena
    Qul man harrama zeenata Allahi allatee akhraja liAAibadihi waalttayyibati mina alrrizqi qul hiya lillatheena amanoo fee alhayati alddunya khalisatan yawma alqiyamati kathalika nufassilu alayati liqawmin yaAAlamoona

    Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-A'raaf: 31-32)

    Rasulullah SAW. bersabda,
    "Tiap-tiap ucapan, baik tasbih, takbir, tahmid maupun tahlil adalah sedekah, amar ma'ruf nahi munkar sedekah, bersenggama dengan istri pun sedekah." Para sahabat lalu bertanya, "Apakah melampiaskan syahwat mendapat pahala?" Nabi menjawab, "Tidakkah kamu mengerti bahwa kalau dilampiaskannya di tempat yang haram bukankah itu berdosa? Begitu pula kalau syahwat diletakkan di tempat halal, maka dia memperoleh pahala." (HR. Muslim)
     
  • Kedua, mudah dalam mengerjakan shalat, karena semua bumi ini masjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian. (HR. Ahmad).
  • Ketiga, sangat sedikit yang dibebankan dan yang diharamkan.
  • Keempat, gugurnya kewajiban yang bisa diganti dengan yang lebih ringan. Gugurnya haji karena tidak mampu. Bila tidak mampu shaum, boleh diganti fidiah dan bila tidak dijumpai air untuk berwudhu, boleh bertayamum.

    فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
    Feehi ayatun bayyinatun maqamu ibraheema waman dakhalahu kana aminan walillahi AAala alnnasi hijju albayti mani istataAAa ilayhi sabeelan waman kafara fainna Allaha ghaniyyun AAani alAAalameena

    Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran: 97)

    أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
    Ayyaman maAAdoodatin faman kana minkum mareedan aw AAala safarin faAAiddatun min ayyamin okhara waAAala allatheena yuteeqoonahu fidyatun taAAamu miskeenin faman tatawwaAAa khayran fahuwa khayrun lahu waan tasoomoo khayrun lakum in kuntum taAAlamoona

    (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 184)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
    Ya ayyuha allatheena amanoo la taqraboo alssalata waantum sukara hatta taAAlamoo ma taqooloona wala junuban illa AAabiree sabeelin hatta taghtasiloo wain kuntum marda aw AAala safarin aw jaa ahadun minkum mina alghaiti aw lamastumu alnnisaa falam tajidoo maan fatayammamoo saAAeedan tayyiban faimsahoo biwujoohikum waaydeekum inna Allaha kana AAafuwwan ghafooran

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. An-Nisaa': 43)
  • Kelima, dalam kondisi yang betul-betul "darurat", seorang Muslim diperbolehkan melakukan yang dilarang.

    إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    Innama harrama AAalaykumu almaytata waalddama walahma alkhinzeeri wama ohilla bihi lighayri Allahi famani idturra ghayra baghin wala AAadin fala ithma AAalayhi inna Allaha ghafoorun raheemun

    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 173)

    قُل لَّا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    Qul la ajidu fee ma oohiya ilayya muharraman AAala taAAimin yatAAamuhu illa an yakoona maytatan aw daman masfoohan aw lahma khinzeerin fainnahu rijsun aw fisqan ohilla lighayri Allahi bihi famani idturra ghayra baghin wala AAadin fainna rabbaka ghafoorun raheemun

    Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -- karena sesungguhnya semua itu kotor -- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-An'aam: 145)

    إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    Innama harrama AAalaykumu almaytata waalddama walahma alkhinzeeri wama ohilla lighayri Allahi bihi famani idturra ghayra baghin wala AAadin fainna Allaha ghafoorun raheemun

    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nahl: 115)
  • Keenam, pelaksanaan kewajiban ada yang mutlak harus sempurna tetapi ada juga ruksyah (keringanan).
  • Ketujuh, gugurnya kewajiban berperang bagi yang tidak mampu, di antaranya orang-orang buta dan pincang

    لَّيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَمَن يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا
    Laysa AAala alaAAma harajun wala AAala alaAAraji harajun wala AAala almareedi harajun waman yutiAAi Allaha warasoolahu yudkhilhu jannatin tajree min tahtiha alanharu waman yatawalla yuAAaththibhu AAathaban aleeman

    Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (QS. Al-Fath: 17)
  • Kedelapan, dihalalkan beberapa jenis binatang ternak yang dulu diharamkan.  
  • Kesembilan, larangan shaum sepanjang tahun penuh.  
  • Kesepuluh, bertahap dalam pelaksanakan kewajiban, sebagaimana pelarangan khamar.

    يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
    Yasaloonaka AAani alkhamri waalmaysiri qul feehima ithmun kabeerun wamanafiAAu lilnnasi waithmuhuma akbaru min nafAAihima wayasaloonaka matha yunfiqoona quli alAAafwa kathalika yubayyinu Allahu lakumu alayati laAAallakum tatafakkaroona

    Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. Al-Baqarah: 219)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
    Ya ayyuha allatheena amanoo la taqraboo alssalata waantum sukara hatta taAAlamoo ma taqooloona wala junuban illa AAabiree sabeelin hatta taghtasiloo wain kuntum marda aw AAala safarin aw jaa ahadun minkum mina alghaiti aw lamastumu alnnisaa falam tajidoo maan fatayammamoo saAAeedan tayyiban faimsahoo biwujoohikum waaydeekum inna Allaha kana AAafuwwan ghafooran

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. An-Nisaa': 43)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    Ya ayyuha allatheena amanoo innama alkhamru waalmaysiru waalansabu waalazlamu rijsun min AAamali alshshaytani faijtaniboohu laAAallakum tuflihoona

    Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maaidah: 90)
  • Kesebelas, tidak ada perantara antara hamba dan Allah, baik dalam akidah maupun dalam ibadah, tidak seperti kesalahan yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani.

    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
    Ittakhathoo ahbarahum waruhbanahum arbaban min dooni Allahi waalmaseeha ibna maryama wama omiroo illa liyaAAbudoo ilahan wahidan la ilaha illa huwa subhanahu AAamma yushrikoona

    Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)
  • Keduabelas, ada hubungan interaksi sosial dengan non-Muslim, khususnya ahli kitab.

    الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
    Alyawma ohilla lakumu alttayyibatu wataAAamu allatheena ootoo alkitaba hillun lakum wataAAamukum hillun lahum waalmuhsanatu mina almuminati waalmuhsanatu mina allatheena ootoo alkitaba min qablikum itha ataytumoohunna ojoorahunna muhsineena ghayra musafiheena wala muttakhithee akhdanin waman yakfur bialeemani faqad habita AAamaluhu wahuwa fee alakhirati mina alkhasireena

    Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS. Al-Maaidah: 5)
Jadi, dari semua yang dipaparkan di atas, sebetulnya tidak ada alasan lagi bagi umat Islam untuk tidak menjadikan Islam sebagai hukum untuk pegangan hidup dan kehidupan di dunia ini, baik digunakan sebagai hukum formal (negara) maupun non formal.

Tinggal sejauhmana kita sebagai masyarakat Muslim siap melaksanakannya. Kalau tidak maka kita juga harus percaya terhadap apa yang difirmankan Allah SWT.,  

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
waman lam yahkum bima anzala Allahu faolaika humu alkafiroona
waman lam yahkum bima anzala Allahu faolaika humu alththalimoona
waman lam yahkum bima anzala Allahu faolaika humu alfasiqoona

Barang-siapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir, dzalim, dan fasik. (QS. Al-Maaidah: 44, 45, 47)
*** 

[Ditulis oleh IJANG FAISAL, Ketua Umum DPD BKPRMI Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 14 Juni 2012 / 24 Rajab 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Ya ayyuha alnnasu kuloo mimma fee alardi halalan tayyiban wala tattabiAAoo khutuwati alshshaytani innahu lakum AAaduwwun mubeenun
Hai manusia! Makanlah dari apa-apa yang ada di bumi ini yang halal dan baik, dan jangan kamu mengikuti jejak setan karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu. (QS. Al-Baqarah: 168)

Salah satu anugerah bagi manusia dan tak tergantikan oleh apa pun adalah kenikmatan indra pengecap lidah). Dengan indra itu, manusia dapat membedakan rasa manis, pahit, asin, asam, gurih, pedas, dan rasa lainnya.

Betapa tersiksanya orang yang kehilangan fungsi saraf pengecap. Makan atau minum apa pun rasanya pasti sama, tidak berasa!

Indra pengecap ini erat sekali kaitannya dengan selera makan. Makanan yang enak di mulut akan melenakan, dikunyah berlama-lama lalu ditelan. Sebaliknya, makanan yang tidak enak, boleh jadi tidak akan dikunyah, bahkan bukan hal mustahil akan segera dimuntahkan.

Sesesungguhnya, makanan yang diperlukan oleh tubuh manusia bukanlah ditentukan oleh rasanya, melainkan oleh kandungan gizinya. Banyak makanan enak dan lezat rasanya tetapi justru tidak baik untuk tubuh kita, bahkan akan mendatangkan berbagai gangguan kesehatan. Dengan bahasa sangat sederhana boleh kita katakan, makanan yang baik dan sehat itu adalah makanan yang enak di perut, bukan hanya enak di mulut.

Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin, tidak hahya mengatur persoalan tauhid, akhlak, ibadah (fiqh), dan syariat, melainkan memberi pula aturan tetang makanan dan minuman yang menyehatkan bagi tubuh. Mengapa demikian? Karena kesehatan tubuh akan sangat memengaruhi praktik ibadah (menjalankan kewajiban sebagai hamba yang harus mengabdi pada Allah), bersyariat (menjalankan hukum Allah), dan berakhlak (bersosialisasi dengan sesama manusia).

Makanan yang baik dalam pandangan Islam memiliki dua aspek, yaitu halaalan thoyiban.
  • Pertama, halaalan. Makanan yang kita konsumsi untuk kepentingan tubuh kita harus halal, baik halal lidzatihi (halal zatnya) mupun halal lighairihi (halal proses mendapatkannya). Makanan halal akan menjadi haram manakala proses atau cara mendapatkannya dengan cara haram. Banyak kasus menunjukkan, makanan yang didapatkan dengan cara tidak halal, meskipun zatnya halal dan baik, tidak mendatangkan keberkahan bagi yang mengonsumsinya. 
  • Kedua, makanan thoyiban (baik) harus mengandung gizi yang dibutuhkan tubuh sehingga menyehatkan. Penting bagi kita untuk mengatur pola makan yang baik, proporsional, dan menyehatkan. Al-Qur'an mengisyaratkan kepada kita bahwa makan hendaknya proporsional, sesuai dengan kapasitas perut kita.
    وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
    wakuloo waishraboo wala tusrifoo
    Makan dan minumlah kalian, tetapi jangan berlebihan.
    (QS. Al-A'raf: 31)
Makan adalah sebuah keharusan, bahkan wajib hukumnya bagi setiap orang, kecuali bagi mereka yang sedang meniatkan diri melaksanakan shaum untuk mengharap ridha Allah. Orang yang sengaja tidak makan, tanpa diniati dengan puasa, termasuk perbuatan dzalim pada diri sendiri. Mogok makan atau mogok minum adalah tindakan menyalahi sunatullah yang diharamkan Islam. Sebaliknya, jika makan dan minum sesuai dengan aturan, penuh dengan rasa syukur, dan dilaksanakan dengan ikhlas, selain akan mendapatkan kemaslahatan bagi tubuh, juga akan dicatat oleh Rokib sebagai aktivitas yang bernilai ibadah.

Argumentasinya apa? Kaidah ushul fiqh mengatakan, sesuatu yang menyebabkan kepada yang wajib adalah wajib. Beribadah itu harus khusyuk. Salah satu kondisi yang mendukung kekhusyukan dalam ibadah adalah sehat fisik. Jadi, sehat itu wajib.

Kesehatan fisik akan didapatkan dari makanan bergizi, makanan yang memenuhi zat-zat yang diperlukan tubuh, seperti karbohidrat, protein, lemak, air, dan sejumlah zat pendukung berupa vitamin. Dengan demikian, mengonsumsi makanan yang bergizi adalah wajib hukumnya.

Jadi, sebaiknya makan dan minumlah secukupnya, makan yang bergizi dan higienis, berolah raga secukupnya, dan beristirahat secukupnya. Antara pola makan, aktivitas kerja, dan istirahat haruslah disesuaikan dan diseimbangkan, karena Allah telah menjadikan manusia dengan sangat proporsional, dengan pola yang sangat seimbang.


وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

WajaAAalna nawmakum subatan
WajaAAalna allayla libasan
WajaAAalna alnnahara maAAashan
dan Kami menjadikan tidur-mu untuk istirahat, dan menjadikan malam sebagai selimut, dan menjadikan siang untuk bekerja. (QS. An-Naba: 9-11)

Akhirnya, jika makanan yang kita konsumsi temasuk makanan yang baik (thoyib), bergizi, higienis, lalu masuk ke dalam perut secara proporsional, kemudian dicerna dengan baik pula, akan mendatangkan kemanfaatan bagi tubuh. Tubuh akan segar, bugar, sehat, dan bertenaga.

Makanan halal yang didapat dengan cara yang halal pun akan menimbulkan ketenangan batin. Dengan demikian, tatkala ada panggilan untuk ibadah dan bermuamallah dalam upaya menegakkan syariat Islam, akan dijalaninya dengan penuh kesungguhan, semangat, ikhlas, dan khusyuk karena tidak ada kendala baik dalam fisik maupun kejiwaan. Pola makan yang baik akan memengaruhi pelaksanaan ibadah dan muamalah.***

[Ditulis oleh NANA SUKMANA, Pengurus DKM Asy-Syifa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Kencana Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 8 Juni 2012 / 18 Rajab 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Media massa kerap memberitakan mengenai munculnya aliran sesat. Bisa pemimpinnya mengaku nabi, praktik ibadah yang menyimpang, atau kesesatan lainnya. Kita juga mendengar mengenai aliran Al-Qur'an suci yang hanya mengakui Al-Qur'an dan tidak mengakui As-sunnah sebagai sumber hukum. 

Perlu diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah ada di Jawa Barat sejak 1955 (dahulu Majelis Ulama, disingkat MU) dan diresmikan secara nasional tahun 1970. Sebagai wadah berkumpulnya para ulama dari berbagai organisasi Islam, MUI telah beberapa kali mengeluarkan fatwa mengenai aliran sesat yang meresahkan umat dan menggoyahkan akidah.   

Tujuan MUI mengeluarkan fatwa adalah agar aparat keamanan dapat mengambil tindakan hukum sesuai dengan aturan dan perundang-undangan di Indonesia. 

Kalau kita melihat perbandingan di zaman Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq RA., di Provinsi Yamamah ada juga Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi, bahkan didukung penuh oleh orang-orang di daerahnya. Musailamah kemudian dibunuh oleh Wahsyi pada pertempuran Yamamah. 

Berkembangnya aliran sesat bisa disebabkan beberapa hal.  

Pertama, mencari hidayah Allah dengan cara salah, seperti bertapa dan merenung. Islam tidak mengenal bertapa. Ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dapat melalui shaum, tahajud, dan dzikir. Justru ketika bertapa, setan akan lebih mudah masuk sampai-sampai ada orang yang mengaku menjadi nabi. 

Kedua, akibat ada orang yang dipuji secara berlebihan, dikultuskan, dianggap suci. Jebakan setan ini bahkan dapat menimpa para ulama. Ketika doa sering dikabulkan, makin banyak orang yang datang meminta pertolongan, baik untuk disembuhkan dari penyakit maupun untuk hal-hal lain.

Penulis sendiri pernah dimarahi ayah karena beberapa kali mendoakan orang agar sembuh dari penyakitnya dan ternyata benar-benar sembuh dan kebetulan hal tersebut terekspos wartawan. Alasan ayah penulis marah adalah karena hal tersebut dapat menjadikan ulama beralih profesi menjadi dukun dan dapat memudahkan iblis menggoda ulama untuk lebih mementingkan perdukunannya daripada fungsi utamanya. Lebih parah lagi, dapat membuat ulama dikultuskan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam

Ketiga, ada pula aliran sesat yang tujuannya mengumpulkan harta. Kita kenal adanya Negara Islam Indonesia (NII). Mereka punya baiat setelah syahadat, harus patuh kepada imam jauh di atas kepatuhan terhadap orang tua dan kepada suami (bagi wanita). 

Bentuk kepatuhan tersebut juga dapat berupa pengalihan nama surat-surat tanah menjadi milik imam atau guru, sehingga si imam menjadi orang yang sangat kaya dengan kekayaan dari muridnya.  

Keempat, bisa juga diakibatkan nafsu syahwat imam atau guru. Seperti ada aliran di Jawa Barat yang cara ibadahnya ialah di dalam kegelapan, cenderung kepada perdukunan. Setelah diteliti, ternyata mereka beribadah tanpa busana, sungguh hal yang sangat jauh dari petunjuk Allah SWT., naudzu billah min dzalik. Ujung-ujungnya tentu agar si imam dapat memilih wanita sesuka nafsunya, sangat jauh dari ajaran Islam.

Kelima, maraknya aliran sesat bisa juga akibat penyebaran dakwah yang belum merata. Dakwah masih terfokus di kota atau pinggiran kota, sedangkan di pedalaman belum tersentuh dakwah.

Ingatlah bila ada yang mengaku sebagai nabi, pastilah ia berbohong, karena Rasulullah Muhammad SAW. adalah rasul terakhir.

Ketika Rasulullah keluar menuju Perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali untuk tinggal di Kota Madinah. Ali pun berkata, "Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?

Rasulullah bersabda,
"Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, tetapi tidak ada nabi setelahku." (HR. Bukhari)

Bila ada yang mengingkari Al-Qur'an, sunah, atau menambahkan sumber hukum sendiri selain Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta ijtima para ulama, dapat dipastikan kesesatannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Ya ayyuha allatheena amanoo ateeAAoo Allaha waateeAAoo alrrasoola waolee alamri minkum fain tanazaAAtum fee shayin faruddoohu ila Allahi waalrrasooli in kuntum tuminoona biAllahi waalyawmi alakhiri thalika khayrun waahsanu taweelan

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisaa: 59)

Ternyata, kedua prinsip mendasar yakni berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunah Nabi tersebut belum sampai kepada umat Islam secara keseluruhan. Padahal, dengan prinsip tersebut, begitu banyak aliran sesat yang dapat terbantahkan dengan mudah. 

Semoga kita dilindungi Allah SWT. dari hal-hal yang menyesatkan. Amin.*** 

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Yayasan Ad Dakwah, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 7 Juni 2012 / 17 Rajab 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
inna Allaha la yughayyiru ma biqawmin hatta yughayyiroo ma bianfusihim

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra'd: 11)

Hidup ini penuh perjuangan. Tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa perjuangan, tidak ada keberhasilan hidup tanpa peluh, keringat, dan air mata. Bahkan, Thomas Alva Edison berkata, "Kesuksesan adalah 1% kegeniusan dan 99% adalah kerja keras." Semakin kita merasakan perjuangan hidup, semakin dekat pula penemuan kita akan makna kehidupan yang sesungguhnya.

Seorang Muslim yang memiliki cara pandang optimistis dan meletakkan perjuangan hidup sebagai bagian dari dinamika hidup yang bergulir, akan melihat bahwa setiap hari hidup akan semakin berisi dan berarti. Ibarat sekuncup teh, hanya akan mengeluarkan sari ketika diseduh dan dimasukkan ke dalam air panas. Demikian pula hidup manusia, terkadang harus masuk dalam panas serta getirnya kehidupan, baru mengeluarkan makna kehidupan yang sesungguhnya.

Kita bisa menarik sedikit proses pembelajaran dari seekor rusa. Ketika seekor anak rusa dilahirkan induknya ke bumi, ia langsung dibanting ke tanah dan mendapati udara dingin, tanah kasar, dan angin kencang. Sungguh suatu keadaan yang belum pernah dirasakan oleh anak rusa ketika berada dalam perut induknya. Anak rusa tetap berharap, sang induk dapat melindunginya ketika ia baru lahir. Namun, tidak demikian dengan keadaannya sekarang, malah sang induk menendangnya hingga berguling-guling ke tanah.

Anak rusa itu merasa kaget bukan main atas tindakan induknya, tetapi belum sempat kekagetan itu hilang, ia sudah ditendang lagi oleh induknya, tendang lagi, dan ditendang lagi. Segera ia sadar bahwa kalau sedikit saja terlambat untuk bangun dan berdiri, sang anak akan segera ditendang induknya. Akhirnya, ia segera bangkit dan berlari menghindari tendangan induknya, berlari dan berlari. Sang induk pun tersenyum bangga melihat anaknya yang baru lahir mampu berdiri dan berlari.

Mungkin pembelajaran yang diberikan sang induk terkesan kasar. Namun, kita bisa mengambil hikmah bahwa binatang buas paling suka menyantap anak rusa yang baru lahir. Itulah sebabnya, induk rusa tidak menginginkan anaknya yang baru lahir, mati sia-sia tanpa perjuangan.

Itulah kehidupan. Ketika saya membaca buku-buku kisah para sahabat Rasul, saya menemukan bahwa kesalehan, kekuatan, karya-karya dan prestasi besar yang bermanfaat bagi umat di muka bumi, dilakukan dengan penuh perjuangan dan kerja keras. Salah satu yang mengesankan hati saya adalah ketika membaca kisah Abu Hurairah RA., seorang periwayat hadits yang akrab dengan kelaparan.

Tokoh kita ini biasa berpuasa sunah tiga hari setiap tengah bulan hijriah, mengisi malam harinya dengan membaca Al-Qur'an dan shalat tahajud. Akrab dengan kemiskinan, dia sering mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar. Dalam sejarah ia dikenal paling banyak meriwayatkan hadits. Dialah Bapak Kucing Kecil (Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya.

Abu Hurairah RA. adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah, yaitu orang-orang papa yang tinggal di pondokan masjid (pondokan ini juga diperuntukkan buat para musafir yang kemalaman). Begitu dekatnya dengan Nabi, sehingga beliau selalu memanggil Abu Hurairah RA. untuk mengumpulkan ahli shuffah jika ada makanan yang hendak dibagikan.

Abu Hurairah RA. adalah salah seorang tokoh kaum fakir miskin. Abu Hurairah RA. sering lapar ketimbang kenyang. Ia sosok yang teguh berpegang pada sunah Nabi. Ia kerap menasihati orang agar jangan larut dengan kehidupan dunia dan hawa nafsu. Ia tak membedakan antara kaum kaya dan kaum miskin, petinggi negeri atau rakyat jelata dalam menyampaikan kebenaran. Ia pun selalu bersyukur kepada Allah dalam keadaan susah dan senang.

Di Madinah, ia bekerja serabutan, menjadi buruh kasar bagi siapa pun yang membutuhkan tenaganya. Acap kali dia harus mengikatkan batu ke perutnya guna menahan lapar yang amat sangat. Menurut shahibul hikayat, ia pernah kedapatan berbaring di dekat mimbar masjid. Gara-gara perbuatan aneh itu, orang mengiranya agak kurang waras. Mendengar kasak-kusuk di kalangan sahabat ini, Nabi segera menemuinya. Abu Hurairah RA. bilang, ia tidak gila, hanya lapar. Lalu Nabi pun segera memberinya makanan.

Sejak menikah, Abu Hurairah RA. membagi malamnya atas tiga bagian: untuk membaca Al-Qur'an, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadits. Ia dan keluarganya meskipun kemudian menjadi orang berada tetap hidup sederhana. Ia suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan menyedekahkan rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.

Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula, ia mengembuskan napas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78 tahun. Meninggalkan warisan yang sangat berharga, yakni hadits-hadits Nabi, bak butiran-butiran ratna mutu manikam, yang jumlahnya 5.374 hadits.

Akhirnya, saya teringat sebuah pepatah tua yang mengatakan, "Ada kemungkinan, setelah Anda berusaha keras Anda tetap tidak berhasil. Tetapi tidaklah mungkin untuk mendapatkan hasil apa pun tanpa pernah mau bekerja keras." Sikap pantang menyerah mencerminkan karakter kegigihan yang membuat seseorang dapat mencapai segala tujuan yang dicita-citakan. Kesuksesan dapat digambarkan sebagai suatu proses menghadapi setiap permasalahan, bertahan untuk mencapai tujuan, berusaha tanpa mau menyerah, dan akhirnya mencapai tujuan yang diinginkan.

Pada suatu ketika, ada seorang pemuda yang datang menemui orang suci dan berkata, "Guru, saya adalah orang yang cepat marah, tolong doakan agar saya dapat lebih sabar." Sambil tersenyum, sang guru mengajak anak muda ini untuk berdoa, dalam doanya, orang suci itu bertutur, "Tuhan, berikanlah anak muda ini mulai besok pagi masalah yang sulit, dan juga pada siang hari hal-hal yang lebih sulit lagi, dan pada malam hari juga...." Si anak muda dengan cepat menarik lengan orang suci tersebut dan berkata, "Guru, bukan itu yang saya minta...." Namun, sang guru terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan hal-hal yang sulit bagi anak muda itu.

Setelah selesai dia berkata, "Untuk menjadi sabar, Anda harus diuji oleh hal-hal yang sulit. Tanpa itu semua, niscaya Anda tidak akan menjadi seorang yang sabar." Intinya, dibutuhkan daya tahan yang tinggi untuk dapat lulus menjadi seorang juara.***

[Ditulis oleh USEP SAEFUROHMAN, Koordinator Umum Kajian Ilmu Muslim Muda (KIMM) Kabupaten Bandung, pegiat Kajian Islam Ilmiah Pemuda Yayasan Pesantren Islam (YPI) Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 1 Juni 2012 / 11 Rajab 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by 
u-must-b-lucky
Sebelas tahun setelah menerima wahyu, oleh Allah SWT., Nabi Muhamad SAW., diperjalankan pada malam hari (Isra) dari Masjidil Haram, Mekah ke Masjidil Aqsa, Jerusalem. Dari sana, diangkat ke langit (Miraj). Menembus batas atmosfir jagat, hingga mencapai ufuk terjauh dan tertinggi (as Sidratul Muntaha). Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Israa: 1, dan An Najm: 1-18.

Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. dihiasi berbagai kisah fantastis. Penuh dengan contoh-contoh (ibrah), agar manusia (umat Islam) berbuat kebaikan, sekaligus meninggalkan keburukan. Menurut beberapa hadits, segala peristiwa yang disaksikan Nabi Muhammad SAW. itu dijelaskan terperinci oleh Malaikat Jibril AS. yang mendampingi beliau.

Umpamanya, ada sekumpulan manusia yang tak henti-henti memamah daging mentah busuk, penuh belatung. Padahal, di depannya terdapat daging segar yang sudah dimasak sedap. Malaikat Jibril AS. menerangkan, itulah contoh kelakuan para pezina. Mereka sudah disediakan "daging masak" halal, bersih, tetapi masih tergiur "daging mentah" yang haram, kotor, dan berderajat bangkai. 

Di situ Nabi SAW. juga melihat sekelompok orang tak henti-henti mengguntingi lidah sendiri hingga berlumuran darah. Setiap lidah putus, tersambung lagi, lalu digunting lagi. Begitu berulang-ulang. Malaikat Jibril AS. menjelaskan, itulah contoh kelakuan manusia tukang gosip (gibah), penyebar berita bohong (fitnah), pengadu domba, dan pembuka aib orang lain (namimah). Hukumannya di akhirat lebih mengerikan daripada mengguntingi lidah sendiri.

Itulah sebagian kecil dari peristiwa Isra Miraj. Namun, yang terpenting, esensi dari Isra Miraj, adalah makna peran dan fungsi masjid, mengingat perjalanan itu dimulai dari masjid menuju masjid. Kemudian, Nabi SAW. menerima periritah shalat fardhu lima waktu secara langsung tatkala beraudensi dengan Allah SWT.

Dikaitkan dengan kondisi aktual masa kini, dimana umat Islam rata-rata sedang mengalami keterpurukan di berbagai belahan bumi, perlu menyerap kembali spirit Isra Miraj. Bukan hanya sebatas mengagumi keajaiban Isra Miraj yang dialami Nabi SAW., melainkan harus menggali semangat hakikat Isra Miraj. Minimal mengaktualisasikan kembali tiga faktor penting di balik kandungan peristiwa tersebut.

Pertama, peran dan kegunaan masjid. Nabi SAW. berjalan dari satu masjid (al Haram, Mekah) ke masjid lain (al Aqsa, Jerusalem). Dapat ditarik kesimpulan, masjid merupakan tempat mulia, yang harus diutamakan. 

Ketika hijrah ke Yatsrib (Madinah), Nabi SAW. lebih dulu membangun masjid di kawasan Quba. Baru membangun rumah. Ini merupakan sunah yang sering terlupakan. Pada masa kini sering terjadi, umat Islam berlomba-lomba membangun rumah dahuli. Membangun masjid belakangkan. Sering terjadi, rumah sudah berkali-kali direnovasi, masjid masih belum selesai. Padahal, masjid merupakan titik pemberangkatan bagi siapa saja yang ingin mendapat petunjuk Allah SWT.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Innama yaAAmuru masajida Allahi man amana biAllahi waalyawmi alakhiri waaqama alssalata waata alzzakata walam yakhsha illa Allaha faAAasa olaika an yakoonoo mina almuhtadeena

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah: 18)

Kedua, meningkatkan nilai dan tujuan shalat. Salah satu "oleh-oleh" terpenting dari Isra Miraj adalah shalat fardhu lima waktu. Shalat merupakan ibadah paling utama dalam rukun Islam. Setiap Muslim, rajin berpuasa, murah hati mengeluarkan zakat, sedekah, infaq, menunaikan ibadah, tetapi malas melaksanakan shalat fardhu, maka segala kebaikan dan kebajikan tadi menjadi tidak berguna sama sekali. Pasalnya, shalat jati diri setiap Muslim beriman

Perintah shalat dalam Al-Qur'an ditegaskan berkali-kali, sebelum rukun-rukun Islam lainnya. Perintah mengeluarkan zakat, didahului oleh perintah menegakkan shalat (lihat QS. Al Baqarah : 43,83,110,177,277; An Nisa: 77,162; Al Maidah: 12,55; Al-A'raf: 156; At Taubah: 11,18,71; Al Hajji: 41,78; An Nur: 56; An Naml: 3; Luqman: 4; Al Ahzab: 3; Al Mujadalah: 13; Al Muzammil: 29; Al Bayyinah: 5; Maryam: 55; Al Anbiya: 73). 

Shalat juga memiliki peran mencegah kerusakan dan kemunkaran.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون
Otlu ma oohiya ilayka mina alkitabi waaqimi alssalata inna alssalata tanha AAani alfahshai waalmunkari walathikru Allahi akbaru waAllahu yaAAlamu ma tasnaAAoona

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 45)

Akan tetapi, mengapa sekarang amat merebak kejahatan dan kemungkaran? Bahkan para pelakunya mayoritas Muslim? Salah satu penyebabnya, umat Islam belum mampu menegakkan shalat secara benar, baik syarat rukunnya, maupun niat, tujuan serta kekhusyukannya, sehingga tergelincir ke dalam shalat yang bersifat sahun (seadanya, formalitas belaka) dan yuro'un (ingin mendapat pujian manusia, sekadar cari muka). 

Ketiga, menjunjung tinggi keunggulan umat Islam adalah segala bidang kehidupan nyata di dunia, dan kehidupan abadi di akhirat. Melalui Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW. sudah membuktikan reputasi Islam secara komprehensif integral. Memegang teguh prinsip tauhid (Allah Maha Esa), pasrah hanya kepada-Nya (Dainunnah lillahi wahdah), dilanjutkan kepada umatnya agar selalu unggul tak terungguli oleh yang lain (al Islamu ya'lu wa la yu'la alaihi). 

Perjalanan Miraj Nabi SAW. ke Sidratul Muntaha merupakan simbol keunggulan tersebut sebab nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya, dari Adam AS. hingga Isa AS., tak pernah diperlakukan seistimewa itu. 

Namun, kenyataan sekarang, umat Islam akhir zaman, seolah-olah tak mampu menyangga amanat tersebut. Bahkan, umat Islam diinjak-injak, dirusak akidahnya, dilecehkan ibadahnya, diganggu muamalahnya, dan digerogoti akhlaknya. 

Umat Islam yang seharusnya menjadi hamba-hamba Allah yang sempurna, paripurna, ahli ibadah yang taat tekun, banyak beramal saleh, aktif, kreatif, menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu meladeni musuh seberapa pun hebatnya  

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا
Faitha jaa waAAdu oolahuma baAAathna AAalaykum AAibadan lana olee basin shadeedin fajasoo khilala alddiyari wakana waAAdan mafAAoolan


Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. (QS. Israa: 5)

Pada kenyataannya umat Islam ternyata tak berdaya. Kalah di segala sektor. Hanya mampu menjadi konsumen, bukan produsen. Sekadar epigon, pengekor, bukan peminpin. 

Padahal, Allah SWT. dan Rasul-Nya, telah menetapkan ketentuan agar umat Islam memiliki kekuatan fisik, material serta mental spiritual. Di antaranya, melalui kekuatan iman dan penguasaan iptek  

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِين أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Ya ayyuha allatheena amanoo itha qeela lakum tafassahoo fee almajalisi faifsahoo yafsahi Allahu lakum waitha qeela onshuzoo faonshuzoo yarfaAAi Allahu allatheena amanoo minkum waallatheena ootoo alAAilma darajatin waAllahu bima taAAmaloona khabeerun

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadallah: 11)

Tampaknya hal ini sudah diabaikan umat Islam. Berdasarkan data-data Islamic World Bank (Bank Dunia Islam) tahun 2006, perilaku generasi muda umat Islam dan umat Yahudi di Timur Tengah, tatkala anak-anak muda Yahudi berdesakan masuk universitas-unversitas termashyur Amerika, seperti Yale, Berkeley, Harvard, MIT, untuk mendapat ilmu-ilmu mutakhir, generasi muda Muslim memadati hotel dan kasino di London, Paris, Pattaya, Kuta, dan Iain-lain. Mereka mabuk minuman keras, diiringi musik dalam dekapan wanita-wanita mata duitan. Ketika para remaja Yahudi terjun ke pusat-pusat saham di WTC, Wall Street, dan lain-lain, remaja-remaja Muslim sedang asyik berjudi di Las Vegas, Monte Carlo, dan lain-lain. Akibatnya, umat Yahudi sudah unggul sebelum bertarung. Menyingkirkan umat Islam yang kalah sebelum siap siaga. 

Jika dikaji dan direalisasikan, tiga nilai saripati Isra Miraj di atas akan menjadi modal dasar umat Islam untuk meraih kembali kejayaannya yang hilang diambil alih orang lain.

Insya Allah.***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan Cibiuk, Garut juga pembimbing haji dan umrah BPIH Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 31 Mei 2013 / 10 Rajab 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky