Segala puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah Rabbul 'alamin, kita bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan bahwa Muhammad itu hamba dan utusan Allah SWT.

Bila kita memperhatikan sekujur tubuh kita, dari mulai ujung rambut sampai ke ujung kaki, selanjutnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, bagian manakah yang paling kuat maka semakin dilihat apalagi teliti kita memperhatikannya, semakin yakinlah bahwa diri kita dengan kehidupannya merupakan gabungan dari berbagai kelemahan dan kerentanan akan kerapuhan.

Dalam pada itu, diri dan sekujur tubuh yang lemah ini diyakini akan menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Ketika becermin diri sambil memandanginya, muncul pertanyaan, akankah bagian-bagian dari anatomi tubuh ini selamat dari Azab Allah SWT. yang teramat keras dan menyakitkan. Di sini, di dalam hati ini, insya Allah telah tertanam suatu keyakinan bahwa Allah SWT. akan senantiasa menerima amal ibadah kita, yang kecil maupun yang besar, yang kita lakukan kapan pun dan di mana pun, selama kita ikhkas hati ketika menunaikannya, berdasarkan ilmu dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya.

Di sini, dan masih di dalam hati ini, insya Allah telah tertanam suatu keyakinan bahwa Allah SWT. akan senantiasa mengampuni setiap dosa atau kesalahan hamba-hamba-Nya. Bagi-Nya tiada dosa kecil dan besar, ketika ia berkehendak mengampuninya tiada sembarang apa pun yang dapat menghalangi-Nya, karena Ia gafurun rahim, Maha Mengampuni dosa dan Maha Kasih Sayang. Namun, tentu saja, hamba itu harus menyesali kesalahannya, menuntut ilmu, beriman dan menggantinya dengan amal-amal saleh.

Gunung-gunung itu, bumi ini, dan bahkan bintang-bintang itu, pernah ditawari untuk memikul beban tanggung jawab jabatan dan kepemimpinan, tetapi mereka menolak dan merasa bahwa mereka makhluk kerdil hina nan tak berdaya. Firman Allah

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Inna AAaradna alamanata AAala alssamawati waalardi waaljibali faabayna an yahmilnaha waashfaqna minha wahamalaha alinsanu innahu kana thalooman jahoolan

Sesungguhnya Kami telah kemukakan amanah (Kami) kepada langit dan bumi serta gunung-gunung (untuk memikulnya), maka mereka enggan memikulnya dan bimbang tidak dapat menyempurnakannya. Maka manusia sanggup memikulnya. Sesungguhnya kebanyakan manusia sering melakukan kedzaliman dan membuat yang tidak patut dikerjakan. (QS. Al-Ahzab: 72)

Dalam keadaan makhluk-makhluk alam jagat raya yang raksasa itu menolak beban tanggung jawab kepemimpinan disebabkan merasa kecil, majulah manusia ke depan dengan sikap gagah dan congkaknya. Manusia makhluk lemah, kecil, dan rapuh itu pun sering lupa diri lalu merasa perkasa dan besar. Lalu dengan gagahnya menyatakan kesiapannya untuk memikul amanat jabatan kepemimpinan itu. Ternyata kebanyakan sebabnya mereka demikian karena dada manusia sering dipenuhi niat penipuan, kelaliman, dan hanya pandai berbicara dan tidak cukup cakap dalam membuktikan janji-janjinya. Dengan demikian, yang terjadi adalah kebodohan dan membodohkan.

Suatu ketika Rasulullah SAW. bersabda, dari Abu Huraerah RA. dari Nabi SAW., Beliau bersabda,
"Sesungguhnya kalian akan berambisi kepada kepemimpinan, padahal kepemimpinan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat Itulah sebaik-baik yang memalingkan dan seburuk-buruknya yang memisahkan" (Hadits Sahih Riwayat Al-Bukhari, Sahih Al-Bukhari, XVIII: 61, No. 7148)

Pernah juga Abu Dzar Al-Ghifari RA. meminta jabatan kepada Rasulullah SAW. Akan tetapi, apa sabda Beliau menanggapi permintaan itu. Diterangkan oleh Abu Dzar,
"Wahai Rasulullah, mengapa Anda tidak memberiku jabatan? Maka beliau menepuk bahuku, kemudian bersabda, Wahai Abu Dzar, Sesungguhnya kamu lemah, sedangkan jabatan itu amanah, dan jabatan itu adalah kerugian dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mendapatkannya secara hak dan menunaikan tanggungjawabnya." (Hadits Sahih Riwayat Muslim, Sahih Muslim, VI: 6, No. 4823)

Kita, atau setiap individu dari setiap diri, sejatinya merupakan pemimpim, pengayom, penanggung jawab. Setiap diri wajib dapat mempertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya keselamatan diri di hadapan Allah SWT., mempertanggungjawabkan setiap waktu, kesempatan, rezeki, kemampuan, dan para bawahan yang kita pimpin di hadapan Allah SWT.

Mari kita evaluasi ketika kita menjadi pemimpin di rumah, kita mempertanggungjawabkan amal kita dan juga apa yang kita tanamkan kepada mereka. Lalu bagaimana dengan para pemimpin yang menerima amanah Allah SWT. yang harus memikul jabatan dan kepemimpinan dengan bobot yang lebih berat dan skop yang lebih luas. Betapa hal yang menjadi beban tanggung jawab mereka, sungguh tidak terhingga.

Seorang ibu akan ikut bertanggung jawab akan pekerjaan anaknya, seorang suami dan bapak di rumah, akan ikut bertanggung jawab. Sesuai dengan kapasitas jabatan dan kepemimpinan setiap orang. Bukan main beratnya beban yang dipikul oleh setiap individu, apalagi jika ditambah dengan kesanggupan-kesanggupan lainnya. Tiada suatu amanat pun dari Allah SWT., kecuali akan melahirkan kapasitas, dan setiap kapasitas diri manusia akan mengakibatkan tanggung jawab besar dihadapan Allah SWT.

Marilah introspeksi, dan marilah kita mencontoh sikap Rasulullah SAW. berikut. Dari Aisyah RA., ia mengatakan,
"Tidak pernah sekali pun Rasulullah SAW. dihadapkan kepada satu di antara dua pilihan, selain niscaya beliau memilih yang lebih ringan. Kecuali apabila pilihan yang lebih ringan itu mengakibatkan berdosa. Bila demikian, beliau paling jauh dari perbuatan dosa." (Hadits Sahih Riwayat Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahkad bin Hanbal, VI: 118, No. 24874)

Akhirnya, mari kita serahkan diri kita sepenuhnya kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Hanya Ia yang memiliki keselamatan yang hakiki di dunia dan akhirat. Mudah-mudahan dalam mengemban amanah kepemimpinan diridhai dan dilindungi serta ditolong oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kita jadi pemimpin bukan karena rakus atau ambisius, karena rakus dan ambisius itulah yang sering menggelapkan mata akan beban, tanggung jawab dan akibat yang akan diderita. Aqulu qouli hadza wa astagfindloha Hi wa lakum. Robbanaa atinafiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah wa qina azaban nar. ***

[Ditulis oleh WAWAN SHOFWAN SHALEHUDDIN, Ketua Bidang Dakwah PP Persis. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 13 Desember 2012 / 29 Muharam 1434 H., pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Siapa pun yang mengkaji Islam dengan menggunakan kecerdasannya dan kejernihan hatinya akan menyimpulkan bahwa Islam merupakan agama profesional. Rahasianya adalah ajaran Islam tidak sekadar rutinitas ritual melainkan juga sebagai ideologi. Seluruh aspek kehidupan merupakan sebuah sistem utuh yang telah diciptakan oleh Dzat Mahasempurna yakni Allah SWT. Dan, dalam realitasnya juga bisa dimengerti bahwa sistem Islam tersebut sesuai dengan fitrah manusia, dapat memuaskan akal dan menenangkan hati.

Demikian halnya, terhadap persoalan perilaku (behavior), yang secara khusus menyangkut produktivitas hidup dan kerja, Islam demikian memberikan panduan dan bimbingan yang luar biasa. Hanya orang yang tidak mempelajari Islam atau orang yang terlebih dulu tidak menyukai Islam, mereka sudah antipati denganya. Seakan Islam merupakan agama nenek moyang yang tidak memiliki sistem sebagaimana gambaran orang-orang yang buta dengan Islam. Padahal jika dipelajari, maka dalam konteks ini, Islam demikian mengatur terhadap persoalan kerja, kinerja, dan sebagainya.

Islam mengajarkan bahwa kerja merupakan bagian dari aktivitas ibadah. Bekerja tidak sekadar untuk mendapatkan penghasilan atau rezeki tetapi juga bernilai tambah karena Islam menegaskan bahwa bekerja keras melaksanakan kewajiban rumah tangga bagi seorang pria akan diganjar dalam bentuk pahala.

Hal ini terangkum dalam Al-Qur'an Surat Adz Dzariat ayat 56,


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Wama khalaqtu aljinna waalinsa illa liyaAAbudooni

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dari ayat tersebut saja sudah bisa dipahami bahwa jika suatu pekerjaan disebut merupakan bagian dari ibadah maka barang siapa melakukannya maka akan mendapatkan pahala.

Islam memberikan motivasi yang luar biasa bagi umatnya untuk berprestasi. Islam, dalam banyak hadits memberikan pujian dan penghargaan yang sangat besar bagi kaum Muslim yang menjadi pekerja keras. Bahkan dikatakan oleh Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi bahwa,
"Tidakkah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari keringatnya sendiri."

Dari Zubair bin Awwam, Rasulullah SAW. bersabda,
"Jika salah seorang dari kalian pergi membawa kapaknya, lalu datang membawa seikat kayu bakar di punggungnya, lalu ia menjualnya hingga Allah menyelamatkannya dari kehinaan. Maka yang demikian itu jauh lebih baik dari ia meminta-minta pada orang lain." (HR Bukhari)

Apa yang diungkapkan dalam hadits di atas bermakna bahwa ajaran Islam sudah mewanti-wanti agar umatnya sungguh-sungguh bekerja secara aktif dan tidak bergantung kepada orang lain. 

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW. bersabda
"Al yadul 'ulya khairun minal yadissufla — tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."
Artinya kinerja seorang Muslim adalah aktif bukan pasif. Seorang Muslim tidak akan menjadi "benalu" yang hinggap dan hanya membebani orang lain.

Allah melalui wahyu-Nya menganjurkan setiap manusia untuk meraih kehidupan yang lebih baik baik dunia maupun akhirat seperti yang tercantum dalam Surat Al Qashash  ayat 77, yang berbunyi,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Waibtaghi feema ataka Allahu alddara alakhirata wala tansa naseebaka mina alddunya waahsin kama ahsana Allahu ilayka wala tabghi alfasada fee alardi inna Allaha la yuhibbu almufsideena

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dalam konteks ini mestinya ada kesadaran kuat untuk menjalankan "teologi kerja (job theology)" atau suatu niat suci untuk selalu menganggap pekerjaan kita sebagai ibadah dan bentuk pengabdian kita pada Yang Mahaagung.

Ketika kita bekerja di kantor dengan asal-asalan dan menghasilkan kualitas di bawah standar, atau ketika ketika kita hanya mempu menciptakan pelayanan yang centang-perenang dan membuat para pelanggan patah arang, maka mestinya kita menanggap ini semua sebagai sebuah "dosa" dan kita mesti merasa malu dihadapan Yang Mahatahu.

Sebaliknya, ketika kita selalu bisa mempersembahkan kinerja yang istimewa, atau ketika kita mampu mengagas dan melaksanakan ide-ide kreatif untuk memajukan perusahaan, maka mestinya ini semua tidak melulu didasari oleh keinginan untuk naik pangkat, atau mendapat bonus yang besar, melainkan pertama-tama mesti dilatari oleh niatan suci untuk beribadah.

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad juga adalah seorang pedagang yang ulet. Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Bila kamu telah shalat Subuh, maka janganlah kamu tidur dan meninggalkan rezeki."

Selanjutnya Nabi mengatakan,
"Sesungguhnya Allah tak menyukai hamba yang santai (tak bekerja)."

Umar RA. mengatakan, "Janganlah kamu duduk saja berdoa, 'Ya Allah berilah aku rezeki', padahal ia tahu bahwa Allah tak akan menurunkan hujan emas dan hujan perak."

Dalam Surat Al-Insyirah ayat 7, Allah berfirman,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
Faitha faraghta fainsab

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,

Kesemuanya ini sudah jelas menjadi penanda bahwa Islam sangat mendorong timbulnya etos kerja dan paradigma berusaha pada diri setiap kaum Muslim. Upaya menanamkan semangat bekerja dan berusaha ini hendaknya dilakukan sejak dini. Inilah yang dicontohkan oleh Luqman al Hakim kepada kita, dimana disebutkan dalam Kitab Mukhtasor Minhajul Qashidin bahwa ia menyemangati anak untuk bekerja. Ia berkata, "Wahai anakku, teruslah berusaha mencari penghasilan, karena tidaklah seorang terkena kemiskinan kecuali akan mendapatkan tiga hal; lemah dalam agama, lemah dalam akal, dan yang lebih buruk dari itu semua, berkurangnya kewibawaan."
Manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Oleh karena itu, Islam senantiasa memotivasi umatnya untuk terus bersemangat dalam bekerja dan berusaha. Setiap Muslim harus berusaha untuk mandiri, tidak membebani orang lain, apalagi dengan meminta-minta setiap saat. Bekerja dalam Islam bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan, tetapi juga bagian dari pelaksanaan ibadah yang melahirkan kemuliaan.

Wallahu'alam bissawab. ***

[Ditulis oleh DEDE SURYADI, pengurus DKM Al-Ikhlas Karanganyar, Bahara, Kabupaten Ciamis. Tulisan disalin dari Hraian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 7 Desember 2012 / 23 Muharam 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Lebah, sejenis serangga kecil, menjadi judul pada sebuah surat Al-Qur'an, An Nahl (Surah 16). Bahkan Allah SWT. memberi ilham kepada Lebah untuk membuat sarang di bukit-bukit di atas pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Waawha rabbuka ila alnnahli ani ittakhithee mina aljibali buyootan wamina alshshajari wamimma yaAArishoona

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", (QS. An-Nahl: 68)

Kemudian memakan bermacam buah-buahan, seraya tetap menempuh jalan petunjuk Allah. Sehingga dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya serta mengandung obat menyembuhkan bagi manusia. Di situ terdapat tanda-tanda keagungan Allah SWT. bagi manusia yang berfikir.

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Thumma kulee min kulli alththamarati faoslukee subula rabbiki thululan yakhruju min butooniha sharabun mukhtalifun alwanuhu feehi shifaon lilnnasi inna fee thalika laayatan liqawmin yatafakkaroona

kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl: 69)

Imam Fakhruddin ar Razi, penulis kitab tafsir Mafatihul Ghaib menguraikan dua ayat di atas sebagai berikut, "Hewan setingkat lebah, mendapat ilham naluri dari Allah SWT. untuk menempuh perjuangan hidup di bawah naungan rahmat-Nya. Tidak pernah menyeleweng dari petunjuk-Nya. Lurus menempuh jalan yang diridhai-Nya. Hasilnya tidak sia-sia. Mendatapgkan manfaat bagi dirinya sendiri sebagai mahluk yang hidup bersih, satu padu menjalin kebersamaan. Juga manfat bagi mahluk lain. Terutama manusia. Sebab dari perut lebah keluar cairan madu yang lezat dan mengandung obat menyehatkan."

Coba bandingkan dengan manusia sendiri. Apa yang keluar dari perut mereka? Cuma kotoran belaka yang amat menjijikkan. Tak peduli manusia itu tampan, cantik, kaya-raya, berkuasa, sohor, dan lain-lain yang hebat-hebat. Jauh berbeda dengan lebah yang dianggap hewan hina dina, tapi mampu hidup mulia dan berguna.

Maka sangat wajar, jika Nabi Muhammad Rasulullah SAW., memisalkan kehidupan umat Islam itu, bagai Lebah,
"Matsalalul mu'mini kamatsalin nahlati an akalat akalat thayyibatan wa in wadla'at thayyibatan wa in wa qa'at ala udi nakhirin lam takrahu". Artinya, "Contoh mukmin ibarat lebah. Jika lebah makan, memakan yang baik-baik. Jika membuang kotoran, kotoran yang baik-baik (berbentuk madu). Jika hinggap di atas ranting pohon, tak menyebabkan ranting patah." (Hadits sahih riwayat Imam Bukhari)

Kegotongroyongan Lebah yang hidup berkelompok, tak terpisahkan satii sama lain dalam berbuat kebaikan dan kebajikan, benar-benar merupakan bukti penerapan perintah Allah SWT. kepada manusia beriman, yaitu

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

wataAAawanoo AAala albirri waalttaqwa

tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, (QS. Al Maidah: 2)


Begitu patuh Lebah terhadap perintah Allah SWT. agar

فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ

faoslukee subula rabbiki

tempuhlah jalan Rabbmu. (QS. An-Nahl: 69)

Sehingga tidak pernah melanggar larangan-Nya.

تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

taAAawanoo AAala alithmi waalAAudwani

jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al-Maidah: 2)

Manusia, sebagai makhluk istimewa, diberi anugerah akal pikiran, anggota tubuh, dan panca indera amat sempurna, sering kali kalah oleh Lebah. Jika lebah mampu bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, manusia sering lalai. Kesatupaduan berbuat kebaikan dan menjalankan perintah Allah SWT., sekaligus meninggalkan larangan-Nya, nyaris tak pernah terwujud dalam kenyataan sehari-hari. Sebab, manusia lebih suka mengerjakan yang dilarang oleh Allah SWT., yaitu bekerja sama dalam dosa dan permusuhan.

Fakta dan data sudah banyak terbuka. Banyak terbaca. Terdengar tiap saat. Bagaimana manusia berbuat dosa dan permusuhan itu. Melakukan korupsi, kongkalikong, patgulipat secara berjemaah. Tahu sama tahu. Bersekekongkol menggerogoti segala macam bidang dan lapangan yang bukan hak. Kemudian jika terbongkar, muncullah saling tuding. Saling lempar kesalahan dan tanggung jawab. Sehingga berkembang menjadi permusuhan. Pertarungan kepentingan satu sama lain, yang jelas-jelas "taawanu alal itsmi wal udwan", walaupun para pelakunya merasa bersih, merasa terjerumuskan, merasa dilibatkan. Padahal ketika berbuat, asyik enjoy bersama-sama.

Lebah tidak seperti itu. Mereka memakan makanan yang baik-baik, seperti sari bunga, air buah, atas usaha sendiri. Mereka terbang belasan kilometer setiap hari. Setelah berhasil mendapat makanan, mereka langsung pulang ke sarang. Menyetorkan makanan itu untuk diolah secara kolektif menjadi madu. Tidak pernah ada Lebah, satu atau dua ekor, singgah dulu ke tempat-tempat lain. Menyimpan sebagian makanan perolehannya untuk dikelola sendiri. Dalam arti mencuri, korupsi, mengkhianati kebersamaan. Tidak.

Di tempat mencari makan pun, Lebah tidak pernah menimbulkan kerusakan. Tak ada ranting patah. Tak ada kelopak bunga berguguran. Tak ada buah membusuk. Apalagi menimbulkan polusi, kerusakan lingkungan, protes dari penduduk sekitar, yang merasa dirugikan, seperti sering terjadi di tengah kehidupan manusia masa kini.

Sungguh Mahabenar firman Allah SWT. yang menempatkan Lebah sebagai objek hikmah, bahan renungan, dan koreksi diri bagi manusia beriman yang mau berpikir. Kehidupan Lebah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. di atas, seharusnya menjadi model kehidupan umat Islam beriman. Segala sesuatu hanya mengandung kebaikan dan kebaikan semata. Manusia yang jika mendapat kesenangan, bersyukur (in ashibat hu sarra-u syakara). Jika mendapat kesusahan, bersabar (in ashabat hu dlarra-u shabard). Karena semua itu merupakan kebaikan dan kebaikan pula.

Jika tidak demikian, maka berlakulah firman Allah SWT., yang menyatakan bahwa penghuni neraka jahanam, kebanyakan dari kalangan manusia dan jin, karena ketidakmampuan mereka menggunakan anggota badan dan panca indera untuk memahami, menyaksikan, mendengar, dan merasakan ayat-ayat Allah (melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya). Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Walaqad tharana lijahannama katheeran mina aljinni waalinsi lahum quloobun la yafqahoona biha walahum aAAyunun la yubsiroona biha walahum athanun la yasmaAAoona biha olaika kaalanAAami bal hum adallu olaika humu alghafiloona

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A'raaf: 179)

Wallahu 'alam. ***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan Cibiuk, Garut, pembimbing Haji dan Umrah BPIH Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 6 Desember 2012 / 22 Muharam 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
As-Syuhhu atau serakah adalah bakhil atau kikir yang disertai sifat tamak. Bahaya yang akan ditimbulkan dari sifat serakah ini adalah saling berebut harta dan kedudukan di antara orang-orang. Yang diawali dengan saling curiga, saling fitnah, saling bersaing dalam hal menumpuk harta, saling jegal, sampai bisa terjadi perkelahian, tawuran, bahkan pertumpahan darah. Bahaya lain yang ditimbulkannya adalah menghalalkan segala cara demi memenuhi sifat serakah, dan rakusnya itu, tanpa menghiraukan aturan halal dan haram serta aturan negara.

Melihat fakta kehidupan kita sekarang ini, banyak orang yang senang mencari rezeki dengan cara haram. Mungkin dengan cara korupsi, suap-menyuap, rentenir, dengan cara menjilat, bahkan dengan cara yang kasar atau kekerasan sekalipun. Semua ini didorong oleh nafsu keserakahan yang terjadi di mana-mana, menjalar serta mewabah pada seluruh sektor kehidupan, baik dalam urusan birokrat, politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, bahkan sampai ke urusan agama.

Fakta-fakta inilah yang perlu kita renungkan. Kita wajib muhasabah, introspeksi, mawas diri karena mungkin saja keserakahan itu dilakukan oleh diri kita sendiri. Segeralah istighfar dan mohon perlindungan kepada Allah SWT. Sebagai bahan renungan, ada baiknya kita perhatikan dan resapi, serta tindak lanjuti nasihat Rasulullah SAW. kepada Suwaid Al-Azdi, ketika ia menghadapi Beliau untuk meminta nasihat.

Sebagaimana dikisahkannya, "Saya adalah orang yang ketujuh di antara tujuh orang utusan kaumku untuk menghadap Rasulullah SAW. Sesampainya di rumah Rasul, kami berbincang-bincang dengan Beliau. Lantas Beliau bertanya, 'Siapakah kalian ini?' Kami menjawab, 'Wahai Rasul kami orang-orang beriman.' Rasul bersabda, 'Setiap yang diucapkan itu harus sesuai dengan faktanya. Coba buktikan kebenaran ucapanmu dan buktikan pula kebenaran imanmu.' Kami menjawab, 'wahai Rasul, kami telah mengimani rukun iman, dan kami telah melaksanakan rukun Islam, dan kami telah melaksanakan lima akhlak yang baik semenjak zaman jahiliah. Jika engkau berkenan kami akan terus melaksanakannya, dan jika tidak, kami akan meninggalkannya. Adapun yang lima itu adalah, kami selalu bersyukur kepada Allah jika mendapat kenikmatan, bersabar jika ditimpa musibah, rela menerima takdir baik atau buruk, jujur dan teguh pendirian ketika berhadapan dengan musuh di waktu berperang, dan tidak pernah curang terhadap lawan."

Rasul bersabda, "Jika benar apa yang engkau katakan, maka engkau termasuk orang-orang yang bijaksana, termasuk ulama dan fukaha, bahkan mendekati sifat-sifat kenabian. Tapi untuk lebih sempurnanya lagi, apa yang dilakukan kalian, aku akan tambahkan lagi lima perkara, yaitu, 
  1. Janganlah kalian mengumpulkan sesuatu yang kalian sendiri tidak sempat untuk memakannya.
  2. Janganlah kalian membangun sesuatu yang sebetulnya kalian tidak akan dapat menempatinya.
  3. Janganlah kalian berlomba-lomba pada sesuatu yang kalian sendiri pada keesokannya akan kehilangan.
  4. Bertakwalah kepada Allah yang kalian akan kembali kepada-Nya, dan kalian akan dihisab di hadapan-Nya.
  5. Dan besemangatlah kalian pada sesuatu yang oleh kalian akan didahulukan (bagi bekal akhirat) nanti dan pada kalian dikekalkan."
Inti dari nasihat Rasullullah SAW. di atas, menurut para ulama adalah jangan menjadi orang yang serakah. Alangkah ruginya kalau hidup hanya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Lalu kita gunakan sekadar untuk kenikmatan sesaat, untuk secuil kemegahan yang semu. Sampai nekat atau berani melanggar ketentuan Allah atau Rasul-Nya dan meningalkan kewajiban agamanya. Setelah hartanya menumpuk ternyata tidak bisa dimanfaatkan. Jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri tidak sempat dinikmatinya. Akhirnya, disedekahkan tidak, dihadiahkan tidak, dinikmati sendiri juga tidak. Sungguh rugi, yang tinggal hanya capek, dan hati yang galau tidak menentu, akhirnya stres.

Tren masa kini banyak orang membeli tanah seluas-luasnya, lalu dibangun bangunan sebanyak-banyaknya, tetapi akhirnya tidak dapat ditempati olehnya. Dijual tidak laku karena harganya mahal, dipakai orang lain juga tidak, disedekahkan apalagi. Ujung-ujungnya rumah yang dibangun itu berantakan tidak terurus, mubazir.

Untuk apa berlomba-lomba pada sesuatu yang pada akhirnya akan hilang. Hilang karena disita yang berwajib karena melanggar hukum. Atau hilang karena jabatan dilengserkan karena tidak bisa melaksanakan amanat. Padahal, modal semula sangat besar dan dalam persaingan yang sangat ketat.

Sesungguhnya ajaran Islam tidak melarang hidup bergelimang dengan kemegahan, bahkan kita diperintahkan untuk bekerja keras mencari harta, ilmu, pengaruh, juga kedudukan. Asalkan semua yang kita usahakan itu dalam rangka mencari ridha Allah dan berada dalam koridor nilai-nilai kebenaran.
Nasihat Rasulullah SAW. kepada Suwaid al-Azdi dan teman-temannya, yang intinya nasihat untuk kita umatnya, agar kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, karena semuanya akan berpulang kepada-Nya, dan diminta tanggung jawabnya. Rasul memerintahkan kita agar berlomba-lomba dengan penuh semangat dalam hal-hal kebaikan, yaitu beramal saleh sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan bekal kelak di akhirat. Mesti diingat pula bahwa dunia dengan segala kesenangannya adalah fana, tidak kekal abadi.

Semoga kita dijauhkan dari sifat serakah yang hanya mendatangkan petaka yang jauh dari keberkahan dan hanya mendatangkan murka Allah SWT. Sebagaimana diingatkan Allah dalam salah satu firman-Nya,

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ


Hatta itha jaa ahadahumu almawtu qala rabbi irjiAAooni LaAAallee aAAmalu salihan feema taraktu

Ada orang yang sangat menyesal saat maut menjemput, hingga orang tersebut berteriak, Ya Tuhanku, kembalikan rohku ke dunia, agar aku bisa berbuat amal saleh. (QS. Al Mukminun: 99-100)

Penyesalan yang sia-sia. Nau'dzubillahi mindzalik!

Wallahu 'Alam.***

[Ditulis oleh H. EDDY SOPANDI, peserta majelis taklim di beberapa masjid, antara lain Al-Furqon UPI, Istiqomah, Viaduct, Salman ITB. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 30 November 2012 / 16 Muharam 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Seorang guru bertanya kepada siswanya. "Ada berapa Lebaran di Indonesia?" Lalu, seorang anak menjawab, "Banyak Pak." "Apa saja?" tanya gurunya kembali. "Ada Lebaran Syawal, Lebaran haji, dan Lebaran yatim." Kok Lebaran yatim?

Bagi Anda yang baru mendengar kata Lebaran yatim tentu akan merasa janggal bahkan aneh. Padahal, tak sedikit kaum Muslimin yang dengan setia merayakan Lebaran yatim yang jatuh setiap 10 Muharam. Banyak lembaga pendidikan, masjid, yayasan, ataupun Muslimin secara pribadi menyerahkan bantuan dan santunan kepada anak-anak yatim dan yatim piatu dengan tujuan menggembirakan mereka.

Lalu, dari mana sejarah Lebaran yatim? Sesungguhnya agak sulit melacak sejarah Lebaran yatim. Namun, yang pasti momentum itu merupakan upaya penyadaran kaum Muslimin agar tak melalaikan kewajibannya menyantuni anak-anak yatim. Meskipun santunan itu tak hanya dalam sehari dalam setahun, melainkan setiap saat karena anak-anak yatim juga anak-anak Indonesia yang membutuhkan kasih sayang dan uluran tangan agar kehidupannya lebih baik.

Ada satu kisah menarik dari Kitab Durratun Nashihin (Mutiara Petuah Agama). Diceritakan riwayat Anas bin Malik RA., pada suatu pagi Idulfitri, Rasulullah SAW. bersama keluarga dan beberapa sahabatnya seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendoakan Muslimin dan Muslimah agar merasa bahagia pada hari raya itu. Namun, tiba-tiba Rasulullah melihat di satu sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.

Rasulullah SAW. lalu bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW. meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut, "Anakku, mengapa engkau menangis? Bukankah hari ini adalah hari raya?"

Gadis kecil itu terkejut bukan kepalang. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita, "Pada hari raya ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orangtua. Semua anak bermain dengan riang gembira. Aku teringat pada ayahku sehingga aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir ayahku membelikanku gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu, suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah SAW. membela Islam dan meninggal. Sekarang ayahku sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?"

Setelah Rasulullah SAW. mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata, "Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan aku katakan kepada-mu. Apakah kamu ingin agar aku, Rasulullah menjadi ayahmu? Apakah kamu juga ingin Ali menjadi pamanmu? Apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu, Hasan juga Husein menjadi adik-adikmu, dan Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?"

Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah SAW. menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan.

Syahdan tatkala Nabi SAW. meninggal dunia, anak kecil itu keluar seraya menaburkan debu ke atas kepalanya, meminta tolong sambil berteriak, "Aku sekarang menjadi anak asing dan yatim lagi." Maka oleh Ali Bin Abi Thalib RA. (dalam riwayat lain Abu Bakar Ash Shiddiq RA.) anak itu dipungutnya.
Kalau kita kaji Al-Quran, kata yatim disebut sebanyak 23 kali, sedangkan kata pembesar disebut hanya 10 kali, dan itu pun dikaitkan dengan sifat-sifat negatif. Begitu tingginya Al-Qur'an mengangkat anak yatim, hingga kita dilarang untuk menghardik anak yatim, dan mengancamnya dengan ancaman yang berat kepada orang yang memakan harta benda anak yatim.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

Araayta allathee yukaththibu bialddeeni
Fathalika allathee yaduAAAAu alyateema

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. (QS. Al-Maa'un: 1-2)

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Laysa albirra an tuwalloo wujoohakum qibala almashriqi waalmaghribi walakinna albirra man amana biAllahi waalyawmi alakhiri waalmalaikati waalkitabi waalnnabiyyeena waata almala AAala hubbihi thawee alqurba waalyatama waalmasakeena waibna alssabeeli waalssaileena wafee alrriqabi waaqama alssalata waata alzzakata waalmoofoona biAAahdihim itha AAahadoo waalssabireena fee albasai waalddarrai waheena albasi olaika allatheena sadaqoo waolaika humu almuttaqoona

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 177)

Semoga kita bisa menjadi penyayang dan penyantun anak-anak yatim.***

[Ditulis oleh H. HABIB SYARIEF MUHAMMAD ALAYDRUS, Ketua Yayasan Assalam Bandung, mantan Ketua PW NU Jabar, dan mantan anggota MPR RI. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 29 November 2012 / 15 Muharam 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Rasulullah SAW. pernah bercerita,
Dahulu, sebelum zamanmu, ada tiga orang bepergian. Mereka berlindung ke dalam sebuah gua untuk bermalam. Tiba-tiba pintu gua tertutup oleh sebuah batu yang tergelincir dari atas bukit. Ketiganya berkata, "Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita dari batu besar ini kecuali kita berdoa kepada Allah dengan menggunakan amal saleh yang pernah kita lakukan."

Salah seorang di antara mereka berkata, "Ya Allah, dahulu saya mempunyai dua orangtua yang telah berusia lanjut. Saya tidak pernah mengutamakan keluarga dan harta saya sebelum mereka berdua. Pada suatu hari, saya sedang pergi jauh mencari kayu dan saya tidak kembali kepada mereka berdua sehingga keduanya telah tertidur. Saya telah memerah susu untuk keduanya, tetapi saya tidak mau membangunkannya dan tidak mau pula memberi minum keluarga sebelum keduanya. Sementara itu, saya menunggu keduanya bangun, mangkuk susu tetap berada di tangan sehingga waktu fajar. Sementara itu, anak-anak terus merengek dan bergelayutan di kedua kaki saya. Namun, tetap tidak saya berikan minum kepada mereka sehingga kedua orangtua saya bangun dan minum susu. Ya Allah, jika perkara itu saya lakukan karena mencari ridha-Mu, bebaskanlah kami dari batu besar ini!" Tiba-tiba, batu itu pun bergerak dan membuka sedikit, tetapi mereka belum bisa keluar.

Lalu, salah seorang yang lainnya berdoa, "Ya Allah, dahulu saya mempunyai sepupu, seorang gadis anak pamanku yang sangat kucintai. Saya benar-benar telah berhasrat terhadapnya untuk berbuat zina, tetapi dia selalu menolak. Di suatu masa, saat kesulitan melanda, dia datang lalu saya berikan kepadanya 120 dinar dengan syarat ia menyerahkan dirinya kepada saya dan dia pun bersedia. Ketika dia sudah berada dalam kekuasaanku, aku telah duduk di antara kedua kakinya, tiba-tiba ia berkata, 'Bertakwalah kepada Allah, janganlah kau rusak kehormatan diriku kecuali dengan haknya (menikah)!' Aku langsung meninggalkannya walaupun ia adalah orang yang sangat kucintai. Dan, aku pun tidak meminta kembali emas yang kuberikan kepadanya. Ya Allah, jika apa yang telah kulakukan itu semata-mata untuk mencari ridha-Mu, bebaskanlah kami dari batu ini!" Batu itu pun bergeser sedikit, tetapi mereka masih belum bisa keluar.

Orang ketiga berkata, "Ya Allah, saya pernah mempekerjakan beberapa orang dan telah kuberikan upahnya kepada mereka, hanya seorang yang belum menerimanya karena ia telah pergi. Maka, upahnya itu kukembangkan sehingga menjadi harta yang banyak. Pada suatu hari orang itu datang dan berkata kepadaku, Wahai hamba Allah, tunaikanlah gajiku!' Maka aku berkata, "Semua yang kamu lihat berupa unta, sapi, kambing, dan budak penggembalanya adalah milikmu.' Orang itu berkata, Wahai hamba Allah, kamu jangan mengejekku!' Saya katakan kepadanya, 'Saya tidak mengejekmu!' Maka ia pun mengambil seluruhnya dan menggiringnya tanpa sedikit pun yang disisakan. Ya Allah, jika aku melakukan ini adalah semata-mata mencari keridhaan-Mu, bebaskanlah kami dari keadaan kami sekarang ini." Tiba-tiba batu itu pun bergeser sehingga mereka dapat keluar dari gua tersebut. (HR. Bukhari)

Ibnu Tin berkata, "Konsekuensi dari hadits tersebut memunculkan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga amal saleh yang dapat memecahkan masalah yang dihadapi seseorang."

  • Pertama, menghormati dan menghargai kedua orangtua. Artinya, berbakti kepada keduanya merupakan amal saleh yang dapat menembus benteng ketika kita menghadapi masalah yang sangat besar.
    Orangtua yang merasa ditemani, disayangi, dan dicintai merupakan modal besar yang menambah kekuatan ijabah pada doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah. Sebaliknya, orangtua yang hampa kasih sayang dan cinta anaknya, juga anak yang mengabaikannya akan melukai perasaan dan hati keduanya. Yang tidak sedikit orang tua menangis setiap hari karena tidak merasakan keberadaan anak-anaknya. Mereka lupa menyapa jiwa orangtuanya karena tersibukkan dengan teman dan aktivitasnya. Sungguh durhaka anak tersebut sehingga doa-doanya terhijab karena tidak ada kekuatan dari doa orangtuanya.
    Rasulullah SAW.
    bersabda,
    "Setiap dosa ditangguhkan (balasan-nya) oleh Allah sesuai kehendak-Nya hingga hari kiamat kecuali durhaka kepada kedua orangtua. Karena Allah mempercepat siksa-Nya terhadap pelakunya semasa hidup di dunia sebelum kematiannya." (HR. Al-Hakim)
    Bila keluarga kita ingin berkah, rezekinya berlimpah, dan cepat menemukan solusi dari setiap masalah, temanilah orangtua kita selagi hidup, cintailah sepenuh hati, dan berbaktilah sepenuh raga kita. Karena kedua orangtua adalah manusia paling jujur dan paling ikhlas doa-doanya bagi semua anaknya.
  • Kedua, bantulah orang yang membutuhkan tanpa pamrih. Ciri orang yang menolong tanpa pamrih adalah ia memiliki hati yang bersih serta suci dari sifat iri dan mengharapkan sesuatu dari orang yang dibantu sehingga melahirkan rasa takut kepada Allah.
    Sampaikanlah bantuan kepada mereka yang membutuhkan tanpa harus kita menunggu dia menghormati dan menghargai kita. Bukankah Rasulullah SAW mengingatkan kepada umatnya bahwa mempermudah kebutuhan orang lain dengan ikhlas dan karena takut kepada Allah, itu akan mengurai setiap masalah yang dihadapi.
    "Siapa yang memudahkan penyelesaian masalah saudaranya, Allah akan mudahkan baginya dari masalah-masalah dunia dan akhiratnya." (HR. Tirmidzi)
    Bagi calon para pemimpin, berikanlah bantuan bagi rakyatnya tanpa harus kita berniat agar mereka memilihmu karena niat yang salah akan membuahkan hasil yang bermasalah. Akan tetapi, bantulah orang yang membutuhkan dengan hati yang tulus dan jujur karena Allah, seraya berdoa kepada-Nya,
    "Ya Allah, bukalah hati mereka untuk selalu mencintai dan mendoakan kebaikan bagiku." (HR. An-Nasai)
  • Ketiga, amanah (tepercaya) terhadap apa yang bukan haknya. Amanah menurut Ibnu Mandzur memiliki makna ketenteraman hati. Dalam kesempatan lain ia berkata, "Amanah adalah segala sesuatu yang dipercayakan untuk dijaga, baik itu harta, kehormatan, maupun rahasia." (Al-Kulliyat:68)
    Jika seseorang dititipi harta yang bukan miliknya, dia harus berniat mengelola dan menyampaikannya kepada pemiliknya. Demikian juga apabila seseorang diberi amanah sebuah kepemimpinan, dia harus mampu menenteramkan hati rakyatnya, menjaga kehormatan bawahannya, dan menutupi kelemahan masyarakatnya. Pemimpin yang amanah, dialah yang tidak akan memperkaya dirinya dengan cara memiskinan orang. Siapa pun yang amanah, ia akan mendatangkan kemudahan untuk melewati kesulitan hidupnya, demikian pesan Nabi dalam hadits di atas.
Sungguh bagus perkataan Ali bin Abu Thalib RA. di depan Umar bin Khaththab RA. sebagai khalifah, "Seandainya ada seekor anak kambing lari ke pantai, niscaya Umar akan dihukum pada hari kiamat kelak lantaran kambing itu." (Asadul Ghabah, Ibnu At-sir:160)

Sungguh indah doa Nabi dalam menghadapi permasalahan hidup,

اَللَّـهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْـنَـَنا الَّذِيِ هُـَو عِـصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِـْيهَا مَعَـاشُنَا  وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَـَنا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَـادِنَـا وَاجْعَـلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَـلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
"Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang merupakan tempat hidup kami, perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami, dan jadikanlah kehidupan kami sebagai penambah kebaikan kami, serta jadikanlah kematian kami sebagai istirahat kami dari segala keburukan." (HR. Muslim)
***

[Ditulis oleh UCU NAZMUDIN, pengajar di Pesantren Tahdzibul Washiyah, Gumuruh-Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 23 November 2012 / 9 Muharam 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky