وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Wayasaloonaka AAan thee alqarnayni qul saatloo AAalaykum minhu thikran
 Inna makkanna lahu fee alardi waataynahu min kulli shayin sababan

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), tentang Zulqarnain. Katakanlah, Aku akan bacakan kepadamu tentang kisahnya. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu. (QS. Al Kahfi: 83-84)

Nama Zulqarnain sangat dikenal di kalangan umat Islam, terutama yang rajin ngaderes Al-Qur'an Surat Al Kahfi (Surah No. 18). Ia sosok seorang pemimpin yang berani menerapkan keadilan. Menghukum yang salah dan menghargai orang-orang yang berbuat kebaikan. Suka menolong rakyat menghadapi kesulitan. Bahu-membahu, bantu-membantu menyediakan sarana untuk menciptakan ketenteraman dan kesejahteraan warganya.
Surat Al Kahfi sendiri, di kalangan umat Islam dipercaya berkhasiat untuk menolak dajal, baik dajal dalam bentuk fisik nyata menjelang saat-saat hari kiamat kelak, maupun dajal dalam bentuk personifikasi perbuatan-perbuatan tercela. Seperti korupsi, penyelewengan hukum, ambisi kekuasaan, menghalalkan segala cara dalam mempertahankan kedudukan, dan lain-lain.

Dr. Ali Hasan Al an Nadwi, penulis tafsir Surat Al Kahfi (1980), menyatakan, Surat Al Kahfi merupakan penguat mental ketakwaan setiap Muslim, pembuka cakrawala keimanan, sehingga terang benderang pembeda antara haq dan batil, irhan dan kafir, sebagaimana tercantum dalam ayat 29:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Waquli alhaqqu min rabbikum faman shaa falyumin waman shaa falyakfur

Dan katakanlah: kebenaran itu datang dari Rabb sembahanmu, maka barang siapa ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barang siapa ingin kafir, biarlah kafir....

Sementara Yusuf Amir Ali, penulis The Holly Quran (1934), menyatakan, Surat Al Kahfi mengandung kabar dari perilaku orang-orang terdahulu dalam menorehkan sejarah perjuangan menegakkan keadilan, pemberantasan kemungkaran, penjabaran ilmu serta hukum-hukum ilahiah yang berlaku sepanjang zaman.

Kisah Zulqarnain terdapat dalam Surat Al Kahfi ayat 83-101. Para ahli tafsir, seperti Ibnu Katsir, memperkirakan, ia hidup 3,000 tahun sebelum Masehi. Sezaman dengan Nabi Ibrahim AS. dan Nabi Ismal AS. Bahkan, disebutkan, Zulqarnain pernah membantu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merehabilitas bangunan Kabah.

Zulqarnain merupakan raja (penguasa) di muka bumi, yang berlaku kasih sayang kepada rakyatnya. Menerapkan hukum tanpa pandang bulu. Tidak pernah pilih kasih. Ia juga suka turba alias turun ke bawah. Istilah sekarang blusukan (Sunda: kukurusukan, bebelesekan), termasuk ke kawasan-kawasan terpencil. Hingga ia mengetahui benar aspirasi rakyat secara tepat. Untuk diberi bantuan dan pemecahan masalah. Bukan untuk dibujuk rayu suaranya agar mendukung atau memilih dia. Zulqarnain pantang melakukan hal-hal tercela semacam itu.

Seperti waktu tiba di sebuah kawasan yang amat terpencil di bawah lembah dua gunung, ia menemukan kelompok penduduk yang teraniaya oleh kejahatan dua makhluk, Yajuj dan Majuj. Dua jenis makhluk perusak lingkungan alam dan kehidupan. Kejahatan mereka berlangsung terus-menerus tanpa ada yang berani melawan. Mereka "sakti mandraguna", karena didukung sistem yang memungkinkan mereka leluasa berbuat sekehendak hati dalam mendapat kesenangan pribadi. Para pemimpin lokal seolah-olah tak berdaya melawan, karena sudah masuk dalam sistem kejahatan mereka. Menerima suap sogok, komisi, fee, dan lain-lain agar membiarkan Yajuj dan Majuj bebas berbuat apa saja. Mengeruk sumber daya alam tanpa memikirkan kondisi masa depan. Asal untung sekarang. Mengeksploitasi sumber daya manusia habis-habisan. Yang pintar-pintar dijadikan "budak intelekual", ilmuwan "pesanan". Yang awam diperas tenaganya dengan upah murah tanpa jaminan layak.

Ketika datang Zulqarnain ke sana, penduduk mengadu. Mohon bantuan menghentikan kejahatan Yajuj dan Majuj beserta antek-anteknya. Bahkan, mereka siap membayar berapa saja, asal benar-benar aman. Zulqarnain menolak iming-iming upah. Pertama, karena belum mulai bekerja. Kedua, sebagai penguasa yang berkewajiban melindungi rakyat, tak elok mendapat "jatah" apa saja di luar fasilitas sebagai pemimpin yang sudah diperoleh secara sah dan resmi. Malah Zulqarnain mengatakan, fasilitas (gaji, tunjangan, dan sebagainya) berupa anugerah Allah SWT. lebih baik dan lebih cukup daripada hasil pungli kepada rakyat.

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

Qaloo ya tha alqarnayni inna yajooja wamajooja mufsidoona fee alardi fahal najAAalu laka kharjan AAala an tajAAala baynana wabaynahum saddan

Mereka berkata, hai Zulqarnain, sesungguhnya Yajuj dan Majuj itu, orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka buatkanlah dinding pemisah antara kami dengan mereka, nanti kami memberi sesuatu upah kepadamu. (QS. Al-Kahfi: 94)

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ

Qala ma makkannee feehi rabbee khayrun

Zuqarnain pun menjawab, "Apa yang dikuasakan oleh Allah SWT. kepadaku, lebih baik...." (QS. Al-Kahfi: 95)

Zulqarnain menolak fee dari proyek yang akan digarapnya. Karena tujuannya bukan mencari keuntungan melainkan untuk menolong rakyatnya dari gangguan keamanan dan rongrongan penjahat. Ia hanya meminta, semua orang ikut terlibat bekerja. Minimal menyediakan bahan-bahan berupa potongan-potongan besi dan tembaga.

Dari kedua bahan tersebut, Zulqarnain membuat benteng raksasa yang membentang di antara kedua lembah gunung, sehingga Yajuj dan Majuj tak dapat lagi lewat ke sana. Tak dapat lagi pulang anting, baik diam-diam maupun terang-terangan, menyebarkan virus-virus kerusakan material-finansial dan mental spiritual terhadap rakyat yang bertahun-tahun menjadi sasaran kerakusan dan kejahatannya.

Alhasil, diperlukan pemimpin tegas berwibawa untuk merombak sistem yang semerawut di segala bidang. Pemimpin yang menjadikan rakyatnya sebagai aset berharga. Pemimpin yang siap sedia melindungi rakyatnya dari segala gangguan, baik internal maupun eksternal. Yang mampu menyapu tingkah laku Yajuj dan Majuj masa kini. Ya, pemimpin model Zulqarnain itu bukan pemimpin yang hanya dekat dan sayang kepada rakyat sebatas pada musim tertentu. Bukan pemimpin yang suka melakukan markup, pungli, atau rekayasa dalam berbagai kegiatan yang mengatasnamakan rakyat. Zulqarnain adalah cermin pemimpin yang adil, jujur, terbuka, dan selalu mementingkan rakyatnya. ***

[Ditulis Oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan Cibiuk Garut, pembimbing haji dan umrah BPIH Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 7 Februari 2013 / 26 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Bagaimana kita memahami perintah Allah SWT. dalam menyikapi iman dan Islam seseorang? Tidak sedikit umat yang mengaku Islam tetapi tidak melakukan shalat, tidak melaksanakan puasa Ramadhan, tidak menunaikan zakat (walaupun tergolong muzaki), termasuk tidak mau berangkat haji walaupun sudah diberi kecukupan dan kemampuan oleh Allah SWT. Kalau kita baca sejarah kehidupan Rasulullah SAW. dan para sahabatnya, kita tidak akan temukan sahabat yang meninggalkan ajaran Islam. Jangankan para sahabat, orang-orang munafik sekalipun tetap melaksanakan ajaran Islam sekalipun dengan kondisi dan motivasi yang berbeda. Hal ini dengan jelas tergambar dalam ayat berikut,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Inna almunafiqeena yukhadiAAoona Allaha wahuwa khadiAAuhum waitha qamoo ila alssalati qamoo kusala yuraoona alnnasa wala yathkuroona Allaha illa qaleelan

Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa: 142)

Dalam hal ini, orang-orang munafik sama-sama melaksanakan ajaran Islam (khususnya ibadah mahdhoh) sebagaimana orang beriman yang lain walaupun malas-malasan dengan motivasi ingin dipuji. Oleh karena itu, para sahabat tidak ada yang tahu siapa saja orang-orang munafik waktu itu. Mereka hanya kenal pentolan munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Para sahabat memang bisa menduga orang munafik dari perilaku keseharian di luar ibadah mahdhoh yang mereka lakukan, tetapi tidak berani/bisa memastikan. Mereka baru tahu seseorang memang termasuk kelompok munafik ketika Rasulullah SAW. tidak mau melakukan shalat jenazah untuk orang tersebut.

Tentu saja Arab Badui dalam ayat di atas tidak terkategori kelompok munafik. Lantas, kenapa Allah memerintahkan Rasulullah SAW. mengatakan mereka belum beriman tetapi baru Islam? Arab Badui hidup di pedalaman gurun pasir dengan perilaku yang cenderung kasar dan pengetahuan yang terbatas. Ada di antara mereka yang pernah kencing di dalam Masjid Nabawi sehingga menimbulkan kemarahan para sahabat dan nyaris mau dipukul. Akan tetapi oleh Rasulullah SAW. didekati dan diberi nasihat yang membuat Arab Badui tersebut sangat terkesan kepada Rasulullah SAW. sehingga masuk Islam. Saking terkesannya dengan pendekatan Rasulullah SAW., dia berdoa, "Ya Allah masukkanlah saya dan Rasulullah SAW. ke dalam surga dan tidak yang lain."

Karena hidup di gurun dan jarang berinteraksi dengan masyarakat luar, pemahaman mereka sangat terbatas. Itu pulalah sebabnya di awal keislamannya, mereka lebih menonjolkan amalan fisik dan kurang memahami esensi di balik amalan tersebut. Dalam konteks inilah Allah tidak hanya mengingatkan Arab Badui, tetapi juga seluruh kaum Muslimin agar tidak terjebak hanya pada amalan fisik, tetapi melupakan esensi di balik amalan tersebut. Bukankah sekarang banyak kaum Muslimin yang terjebak pada lahiriahnya shalat, tetapi abai akan esensi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar. Seolah shalat hanya seremonial ibadah yang kering makna dan tidak berdampak pada kehidupan nyata. Begitu juga puasa yang tidak mengantarkan pada ketaqwaan (kemampuan menjaga diri dari hal-hal yang dimurkai Allah) menandakan landasan penggerak puasa bukan keimanan yang bersemayam dalam hati. Terhadap hal ini, Rasulullah SAW. menegaskan,
"Betapa banyak orang yang puasa tiada lain yang dia dapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."

Keimanan yang masuk ke hati adalah keimanan yang melahirkan keyakinan, bukan keraguan. Keimanan yang berbuah amal yang dilakukan dengan segenap kesungguhan dan pengorbanan. Buahnya adalah manfaat yang diperoleh orang lain dari kesalehan seorang Muslim. Bukankah Rasulullah SAW. menegaskan,
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."

Sebaliknya, banyak yang mengaku Muslim dan beriman tetapi abai terhadap kesulitan tetangga justru menjadi tanda gugurnya iman.
"Tidak beriman seorang kamu, jika dia tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya merintih kelaparan." (Al Hadits)

Panggilan iman inilah yang membuat seorang Sa'id Al Muhafah membatalkan keberangkatan hajinya begitu mengetahui ada tetangganya yang berhari-hari kelaparan sebagaimana kisah berikut:
    Abu Abdurrahman Abdullah bin Mubarak, ulama terkenal di Mekah, pada suatu ketika setelah selesai menjalani salah satu ritus haji beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit. Ia mendengarkan percakapan mereka. "Berapa banyak jemaah haji tahun ini?" tanya malaikat yang satu. "Tujuh ratus ribu," jawab malaikat kedua. "Berapa banyak yang ibadah hajinya diterima?" kata malaikat yang bertanya tadi. "Tidak satu pun," jawab malaikat yang kedua.
    Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. Ia menangis dalam mimpinya. Semua orang telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan. Namun, semua usaha mereka menjadi sia-sia. Dengan gemetaran ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat tadi. "Namun, ada seorang yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia, seluruh haji mereka diterima oleh Allah. Siapa orang tersebut? Sa'id bin Muhafah, tukang sol sepatu di Kota Damsyiq (Damaskus)."
    Mendengar ucapan itu, ulama ini langsung terbangun. Sepulang haji ia tidak langsung pulang ke rumah, tetapi menuju Kota Damaskus, Suriah. Sampai di sana dia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebutkan malaikat dalam mimpinya. Sesampai di sana, Abdullah bin Mubarak menemukan tukang sol sepatu yang berpakaian lusuh. Ia pun menceritakan mimpinya. "Saya ingin tahu adakah sesuatu yang telah Anda perbuat sehingga berhak mendapatkan pahala haji mabrur." "Wah, saya sendiri tidak tahu." "Coba ceritakan bagaimana kehidupan Anda selama ini." Sa'id bin Muhafah bercerita, "Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar, 'Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata laka wal mulka la syarika laka.' Setiap kali aku mendengar itu aku selalu menangis. Ya Allah aku rindu Mekah, Ya Allah aku rindu melihat Kabah. Izinkan aku datang ya Allah. Oleh karena itu, sejak puluhan tahun lalu, setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya tahun ini saya punya 350 dirham cukup untuk saya melaksanakan haji."
    Akan tetapi, Sa'id bin Muhafah batal berangkat haji. Waktu itu, istrinya yang sedang hamil dan mengidam mencium wangi masakan dan memintanya mencarikan sumbernya lalu minta sedikit untuknya. Temyata, sumber wangi masakan itu berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dan enam anaknya. Sa'id pun bilang pada janda tersebut bahwa istrinya ingin masakan yang dibuat wanita tersebut meskipun sedikit. Namun, janda itu berkata, "Makanan ini tidak dijual Tuan," katanya berlinang air mata. Janda itu pun menceritakan bahwa sudah beberapa hari ini mereka tidak makan karena di rumah tidak ada makanan. Hari itu mereka melihat keledai mati lalu diambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi mereka, daging itu halal karena kalau tidak memakannya, mereka akan mati kelaparan. Mendengar ucapan itu, spontan Said menangis lalu segera pulang. Ia ceritakan kejadian itu pada istrinya, dia pun ikut menangis. Lalu, mereka. memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu. Uang peruntukan haji sebesar 350 dirham itu pun dia berikan kepada mereka. 
    'Ya Allah di sinilah hajiku. Ya Allah di sinilah Mekahku," ujar Sa'id Al Muhafah. Mendengar cerita tersebut, Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata sembari berkata, "Kalau begitu, engkau memang patut mendapatkan haji mabrur." ***
[Ditulis oleh H. ENDRIZAL NAZAR, dai dan pengurus YPM. Nurul Hidayah, Arcamanik Endah. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 1 Februari 2012 / 20 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Bangkrut adalah kata keterpurukan yang amat parah. Bangkrut adalah sebuah kata yang sangat ditakuti manusia, bahkan momok yang mengerikan karena umumnya bukan hanya menghabisi manusia dari segi material dan finansial, tetapi juga dapat meremukkan mental dan moral.

Oleh karena itu, bangkrut jadi gambaran bagi suatu evolusi dari kesuburmakmuran, kejayaan, dan kecukupan, bahkan bisa jadi kelebihan dan keunggulan, lalu jatuh pailit, serba-habis, dan berbalik menjadi miskin disertai mental dan moral yang jatuh. Bahkan, tidak jarang menjadi garim (tenggelam di dalam utang). Hal seperti ini dapat menimpa siapa pun, baik perseorangan, yayasan, perusahaan, bahkan lembaga, hingga lembaga besar seperti suatu negara sekalipun.

Yunani yang notebene merupakan sokoguru ekonomi Eropa ambruk dengan demo-demo dari masyarakat yang berkelanjutan. Bahkan, Yunani tidak mampu walau hanya untuk membayar gaji PNS. Mereka mencoba menawarkan beberapa pulau yang sekiranya dapat dijual. Amerika yang utang tahap I-nya jatuh tempo, ketar-ketir untuk mempertahankan kehidupan ekonomi, dengan ancaman jatuh tempo utang tahap II-nya. Jadi, Eropa dan Amerika, di ambang kebangkrutan.

Sementara itu, ada cerita yang sering dianggap sederhana. Konon, seorang tuan/bos dengan banyak pekerja atau karyawan bergerak di bidang perusahaan toko besi dan material. Ia tampak berhasil dengan beberapa kendaraan besar pengangkut barang, beberapa rumah mewah serta vila di tempat-tempat yang elite. Istri-istri dan anak-anaknya pun masing-masing berkendaraan mewah, sehinggga terlihat sebagai keluarga yang teramat mulia dan terhormat dengan limpahan harta dan kekayaan.

Akan tetapi, karena keberhasilan yang dirasakannya demikian melimpah, ia lupa diri. Ia gila judi, terbuai dengan perempuan nakal, bahkan minuman keras. Suatu ketika dia dikejar-kejar oleh bank dan bandar. Kekayaan yang dimilikinya terus disita, hingga pihak bank menyatakan kebangkrutannya karena tidak ada lagi yang bisa ditarik. Kini ia hanyalah seorang yang tidak mempunyai keberanian untuk keluar rumah. Ia senantiasa mengurung diri di sebuah rumah kecil kontrakan. Ia pun tidak mempunyai kemampuan untuk bertemu dengan orang-orang; malu, pilu, dan terhina rasanya. Setiap orang yang ditemui seakan mencibir dan memandangnya dengan pandangan yang merendahkan. Dua istri mudanya pulang kepada orang tuanya masing-masing. Tinggallah istri pertamanya yang sesekali tampak keluar, mungkin untuk mendapatkan keperluan sekadar makan dan minum. Adapun anak-anaknya yang dahulu dimanjakan dengan berbagai fasilitas dan kemewahan tetapi tanpa terayomi kebutuhan rohani dan akhlaknya, entah di mana dan bagaimana nasibnya. Mereka bahkan malu dikatakan anak bapaknya.

Ini hanyalah sekelumit kisah yang tidak mustahil dialami oleh yang lainnya dengan nama dan kasus yang berbeda tetapi dengan substasi yang sama, lebih besar atau lebih kecil. Masih adakah dari kita yang sedang mempersiapkan nasib menuju prahara seperti itu? Nauzubillahi min zalik.

Pertanyaannya, apakah ini benar-benar kebangkrutan? Dalam pandangan Islam, cerita ini sesungguhnya amat sederhana karena bagaimana pun urusan dunia, kekayaan atau kemiskinan, kekurangan atau kelebihan, mendapatkan jabatan atau kehilangan jabatan, semua itu merupakan hal yang relatif dan tidak absolut. Bukankah Rasulullah SAW. telah bersabda,
"Dua rakaat qabla subuh lebih baik dari dunia dan segala isinya." (HR. Muslim)

Bahkan, Rasulullah SAW. belum memandang bangkrut terhadap orang yang kaya menjadi miskin, pejabat menjadi rakyat, dan hal-hal lain seperti itu. Sebuah negara sekalipun dengan limpahan utang yang tidak terbayar, sehingga pemerintahannya harus terus-menerus mengemis agar dibebaskan dari beban utangnya atau paling tidak diberi tempo lagi dan lagi.

Di dalam Islam tidak ada istilah negara yang bangkrut. Kalau pun ada, maksudnya adalah negara dengan penduduk yang berakhlak hina, para pejabatnya korup, rakyatnya sudah merasa susah untuk mendapatkan yang halal, wanita-wanitanya sudah tidak malu memamerkan aurat sehingga perzinaan mendapatkan legalitasnya. Pernikahan syah secara syar'i dipersulit dengan berbagai dalih, anak-anak telantar, beringas, dan tawuran. Hal itu karena tidak terpayungi kasih sayang orang tua dan lingkungan. Keamanan tidak lagi terjamin sehingga biaya hidup terus meningkat dan harga-harga tidak terkendali. Minuman keras, perjudian, perkelahian, dan kejahatan semakin meningkat. Jadi, pada dasarnya kembali kepada para pengisi dan pengelola negeri itu.

Suatu ketika Rasulullah SAW. bertanya kepada para sahabatnya,
"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Yang bangkrut dari kita ialah orang yang tidak punya dirham dan perhiasan." Rasulullah SAW. bersabda, "Sesugguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang-orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shaum, shalat, dan zakat, tetapi (malang nian) ia pernah mencaci-maki orang, menuduh orang lain berbuat zina, ia pernah memakan harta orang (dengan tidak halal), membunuh dan memukul ini dan itu, maka diberikanlah dari kebaikan-kebaikannya ke sana kesini sampai apabila telah habis dari kebaikan-kebaikannya itu sebelum benar-benar terlunasi, diambillah keburukan orang-orang yang didzalimnya dibebankan kepadanya lalu dicampakkan ke neraka." (HR. Muttfaq alaih)

Demikian pula apabila suatu negara atau lingkup lainnya yang lebih kecil, penduduknya telah berlaku dzalim, saling tuduh, saling injak, bahkan sesama kawan sudah saling menggunting dalam lipatan, hilanglah rasa silaturahmi dalam hati, yang ada hanyalah rasa curiga dan syak wasangka. Hal ini berarti kebangkrutan telah melanda mereka. Maka wajib bagi setiap umat Muhammad SAW. berlindung dengan sungguh-sungguh dari kebangkrutan seperti ini dan kembali ke jalan Allah SWT. dengan menjalankan syariah-Nya.

Setiap umat Muhammad SAW. hendaklah menyadari bahwa kebaikan yang telah dikerjakanya belumlah banyak. Bahkan, mungkin masih sangat kurang, dengan berbagai kenikmatan, kemampuan, dan kesempatan yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada dirinya. Alangkah malangnya apabila dari kebaikan yang teramat sedikit ini pahalanya harus diberikan kepada yang lain karena kedzaliman yang dilakukannya, lalu dosa orang lain dipikul karena perbuatannya.

Sebenarnya di antara semua itu ada yang lebih bangkrut daripada bangkrut, yaitu orang yang hidup dengan anak yang banyak, harta melimpah, uang yang berlebih, sawah ladang yang luas. Akan tetapi, semua itu mengendalikan dirinya sehingga ia menjadi hamba dunia.

Tidak ada yang dilakukan oleh anak-anaknya selain mendatangkan derita dan coreng-moreng di mukanya, sehingga tidak pernah lagi disebut namanya selain laknatan orang-orang yang didzalimnya. Uang yang banyak dan sawah ladang yang luas itu dihasilkan dengan cara yang dzalim, karena saking banyaknya, tidak sempat dinikmati semuanya, bahkan sebagian miliknya ada yang belum sempat dilihatnya. Namun, ketahuilah, detik demi detik, waktu yang terus berjalan, tetap ia sebagai pemiliknya dan dihisab oleh Allah SWT. sebagai pemiliknya.

Oleh karena itu, berangkat dari harta yang halal, keberkahan harta dan anak saleh dapat diharap, doa-doa yang dipanjatkan besar harapan terijabah, mawadah dan sakinahnya rumah tangga bukan khayalan.

Mudah-mudahan Allah SWT. senantiasa melindungi kita dari kebangkrutan dunia dan akhirat. ***

[Ditulis oleh WAWAN SHOFWAN SHALEHUDDIN, Ketua Bidang Dakwah PP Persis. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 31 Januari 2013 / 19 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Iyyaka naAAbudu waiyyaka nastaAAeenu

Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah: 5)

Segenap aktivitas manusia memiliki nilai ibadah apabila disertai dengan kesucian tujuan. Termasuk ketika kita bekerja. Tujuan itu sangat memegang peranan penting yang menentukan "bernilai" ataukah "tidak bernilai" aktivitas kerja kita. Inti tujuan hidup ialah mengarahkan segala aktivitas tertuju pada pengabdian tanpa henti kepada Allah, sehingga kita memiliki konsep hidup bertauhid.

Allah SWT. berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Wama khalaqtu aljinna waalinsa illa liyaAAbudooni

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-dzariyat: 56)

Ayat ini mengindikasikan, sejatinya kita mendasarkan segala tujuan hidup untuk beribadah kepada-Nya. Dengan prinsip ibadah ini tentunya mengajarkan agar seseorang mampu bekerja sesuai dengan kapasitas semangat, pengabdian, setia, dan loyal pada tujuan perusahaan yang ditetapkan. Dalam bahasa sederhana, ia akan menjadi seorang pekerja yang profesional dan berintegritas. Budaya kerja yang berlandaskan spiritualitas ilahi atau keimanan dapat mendorong seseorang memiliki integritas yang dijunjung tinggi.

Oleh karena itu, ketika kita bekerja akan mengoptimalkan diri sehingga seluruh aktivitas kerja selalu dibarengi dengan doa, harapan, dan kerja keras. Di tengah kondisi ekonomi umat Islam yang mengkhawatirkan, seorang Muslim tentunya harus melakukan ketiga hal tersebut (doa, harapan, dan usaha). Di dalam kalimat-kalimat doa ada penyebutan asma Allah yang bisa dijadikan sebagai pengokoh jiwa kita ketika sedang bekerja. Pengulangan asma Allah ketika berdoa akan memberikan modal bagi seseorang untuk berani menghadapi kerasnya kehidupan.

Dalam bahasa lain, doa semacam dorongan membangun karakter kepribadian yang lebih baik sehingga dapat mengeluarkan riya dari segala lilitan masalah.
"Ya Allah, tiada yang mudah selain yang Kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah." (HR. Ibnu Hibban)

Itulah mengapa doa saya pahami sebagai sesuatu yang bisa memberikan kekuatan diri. Dengan berdoa, seorang manusia menjadi tangguh, kokoh, tabah, disiplin, dan tidak berhenti berkarya untuk kemajuan perusahaan. Sebagai manusia, kita memiliki sifat-sifat dan potensi yang tidak dimiliki makhluk lain. Manusia diciptakan dari tanah dan Ruh Ilahi, kemudian diberi anugerah potensi antara lain: bertanggung jawab, mampu menyusun konsep, mengemukakan, dan menjalankannya.

Ketika kita berdoa sebetulnya tengah mengaktifkan aura kesucian yang sejak dulu diberikan Allah SWT. Ketika berdoa ada asma-asma Allah yang selalu diucapkan dan itu akan menyadarkan atas kehadiran-Nya dalam hidup. Ketika kita sadar atas kehadiran Allah, akan muncul dorongan yang selalu mengarahkan kita dalam berpikir, bersikap, dan bertindak positif.

Oleh karena itu, ketika kita bekerja, semestinya diawali dengan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dalam mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita, kemudian berusaha keras menghasilkan kerja yang berkualitas. Misalnya, ketika pekerjaan harus diselesaikan sesuai target (deadline), tentunya tidak bisa diselesaikan hanya dengan meratapi tanpa ada usaha sungguh-sungguh. Bagi seorang Muslim tumpukan pekerjaan akan dijadikan sebagai sarana beribadah kepada-Nya dan wahana perwujudan keimanan di dunia kerja. Itulah karakter kepribadian seorang pekerja Muslim yang profesional dan berintegritas.

Namun, sebagian dari kita ada yang beranggapan memberikan kontribusi pada perusahaan, kantor, atau di mana kita bekerja adalah hanya dengan melakukan pekerjaan sebesar-besarnya. Tentu saja ini benar dan harus dijadikan dasar pemikiran. Akan tetapi, jangan lupa, kita bisa berkontribusi untuk perusahaan kita, tempat kita bekerja dan berkarya melalui doa-doa sederhana yang dipanjatkan dengan tulus. Dengan berdoa untuk kebaikan orang-orang di sekeliling kita, bawahan, atau atasan kita merupakan wujud kontribusi yang bersifat suci. Allah adalah Penyumbang sejati untuk sebuah kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Tak ada kesuksesan tanpa izin dari-Nya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya demi kesuksesan karier, kemajuan usaha, dan perkembangan bisnis; kita berdoa kepada Sang Maha Pemilik, Allah SWT.

Seorang pekerja yang berdoa posisinya sama dengan orang yang bersedekah. Kita sering kali lupa bahwa sedekah terbesar adalah berdoa. Karena dengan berdoa, seseorang akan mendapatkan berkah dan keberhasilan. Begitu juga ketika kita berdoa sebelum memulai aktivitas kerja di kantor. Apabila aktivitas suci ini dilakukan, segala yang kita kerjakan akan bernilai ibadah. Seorang pekerja yang tidak melupakan kehadiran Allah di kantornya memiliki ketauhidan yang kokoh.

Allah, dalam paradigma kinerjanya tidak hanya hadir di saat bulan Ramadhan, tetapi hadir dalam setiap desah napas hidupnya. Jadi, biasakanlah menutup setiap meeting, rapat, dan pertemuan dengan doa. Caranya, bisa kita lakukan dalam hati sesuai kepercayaan masing-masing. Kita harus yakin bahwa Allah Maha Mendengar doa-doa kita semua, siapa pun dia, sebagai apa pun dia; sebab Allah Maha Kasih yang tidak pernah pilih kasih.

Semoga Allah memberkati Anda semua dan menjadi manusia penyebar kesuksesan bagi yang lain, sukses di alam materi dan alam besar nanti. Kehadiran para pekerja yang bertauhid di instansi pemerintah atau perusahaan-perusahaan dapat mendorong kualitas kerja dan produksi. Selamat bekerja dengan kerangka tauhid.

Allah SWT. berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

OdAAoo rabbakum tadarruAAan wakhufyatan innahu la yuhibbu almuAAtadeena 
Wala tufsidoo fee alardi baAAda islahiha waodAAoohu khawfan watamaAAan inna rahmata Allahi qareebun mina almuhsineena

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut (tidak memaksa). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. 
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (kinerja baik dan berkualitas). (QS. Al-A'raf: 55-56)

Wallahua'alam. ***

[Ditulis oleh H. IDAT MUSTARI, Ketua Biro Agama DPD Golkar Jawa Barat, aktivis ormas di Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 25 Januari 2013 / 13 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Seorang siswa bersama teman-temannya nekat mencegat dan memukuli gurunya di tengah jalan pulang gara-gara tidak tahan diomeli, dihina, diejek, dan dilecehkan gurunya hampir setiap hari di depan teman-temannya di kelas. Pun dengan seorang tetangga yang berniat mengajukan gugatan ke pengadilan karena dituding melakukan tindakan asusila oleh seorang kawannya di kompleks perumahannya. Itulah sedikit contoh kekacauan kemanusiaan yang ditimbulkan oleh lisan yang tak terjaga. Menghina, mengejek, dan memfitnah adalah salah satu bahaya yang disebabkan lisan yang tidak terpelihara.

Lisan, salah satu nikmat anggota tubuh yang luar biasa dahsyat fungsinya. Dengan kehebatan lisannya, seseorang bisa dijuluki da'i sejuta umat. Dengan kedahsyatan lisannya, seseorang disebut orator ulung, dan dengan kekuatan lisannya seseorang digelari ulama sepanjang hayat. Sebaliknya, dengan keburukan lisannya, seseorang bisa dicap sebagai tukang fitnah. Dengan kejelekan lisannya seseorang dijuluki tukang gibah, dan kebusukan lisannya seseorang bisa digelari provokator.

Itulah lisan. Ibarat dua mata pisau, lisan bisa menyelamatkan sekaligus mematikan. Bisa menguntungkan tetapi bisa juga merugikan. Bisa melahirkan pahala tetapi juga dosa. Tentunya, itu semua bergantung pada bagaimana si empunya lisan menggunakannya. Apakah lisan sebagai nikmat Allah digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

Perintah berkata baik telah tertera di dalam Al-Qur'an,

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Waqul liAAibadee yaqooloo allatee hiya ahsanu inna alshshaytana yanzaghu baynahum inna alshshaytana kana lilinsani AAaduwwan mubeenan

Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS. Al-Isra' (17): 53)

Begitu pula dengan wasiat Rasulullah SAW. dalam haditsnya,

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Muttafaq Alaih)

Dengan jelas hadits ini memberikan pelajaran bahwa berkata yang baik adalah salah satu tanda keimanan seseorang, dan jika tidak bisa berkata baik, Rasul menyarankan untuk diam, karena diam itu lebih baik daripada berucap sesuatu yang tidak berguna. Ayat dan hadits ini juga seolah memberikan perintah tegas bahwa setiap orang dari kita harus pandai-pandai menjaga lisannya. Jika tidak bisa menjaganya, akan menimbulkan bahaya kemanusiaan yang berat.

Lisan yang tak terjaga cenderung berbicara sesuatu yang tak berguna, Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya kita diam tidak berdosa, dan tidak akan membahayakan diri maupun orang lain. Manusia memiliki penyakit keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu atau basa-basi untuk menunjukkan perhatian dan kecintaan, atau sekadar mengisi waktu dengan cerita-cerita yang tidak berguna. Rasulullah SAW. mengingatkan,

"Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak berguna." (HR. Tirmidzi)

Lisan yang tak terjaga sering memunculkan perdebatan dan perselisihan. Perdebatan yang berlebihan membuat lisan kita gatal untuk menjatuhkan orang lain dengan menyerang, menyanggah, dan membantah pembicaraan orang lain. Pun orang yang diserang sering kali merasa tidak terima, tak tanggung-tanggung ia melakukan serangan balik dengan kata-kata yang lebih tajam. Perdebatan berlebihan ini sering berakhir dengan perselisihan. Rasulullah SAW. bersabda,

"Tidak akan tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah Allah kecuali mereka melakukan perdebatan." (HR. Tirmidzi)

Lisan yang tak terpelihara lebih suka pada caci maki, ucapan keji dan kotor. Cacian dan makian sering kali timbul karena hati yang penuh kebencian. Saat lisan mencaci maki biasanya diiringi dengan kata-kata keji dan kotor sebagai penguatnya. Apa yang harus kita lakukan jika mendapat cacian dan makian dari orang lain. Kita tidak usah membalasnya. Ada seorang A'rabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi. Sabda Nabi,

"Bertakwalah kepada Allah, jika ada orang yang mencela kekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci maki siapa pun." (HR. Ahmad)

Lisan yang tak terjaga sering kali mudah berbohong dan mengumbar janji palsu. Mulut sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan memutuskan tidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi tanda kemunafikan seseorang.

Lisan yang tak terpelihara hobinya adalah menggibah (menggunjing). Inilah yang paling sering kita lakukan tanpa sadar. Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat tentang arti gibah.
Jawab para sahabat, "Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui." Sabda Nabi, "Gibah adalah menceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia mendengarnya ia tidak menyukainya." Para sahabat bertanya, "Jika yang diceritakan itu memang ada?" Jawab Nabi, "Jika memang ada itulah gibah, jika tidak ada maka kamu telah mengada-ada (fitnah)." (HR Muslim)

Itulah sebagian bahaya yang ditimbulkan dari lisan yang tak terjaga. Paling tidak ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan agar lisan kita selalu terjaga.
  • Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan.
  • Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang mendengarnya.
  • Ketiga, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.
  • Keempat, tidak membicarakan semua yang kita dengar.
    Rasulullah berwasiat,
    "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar." (HR. Muslim)>
Lisan adalah salah satu bentuk nikmat Allah yang harus dijaga dan digunakan sebaik-baiknya di jalan kebaikan. Jika tidak dijaga, akan menimbulkan bahaya hebat di tengah-tengah kehidupan masyarakat, karena keselamatan seseorang bergantung pada bagaimana ia menjaga lisannya. ***

[Ditulis oleh TAUFIK HIDAYATULLAH, khatib dan pengurus DKM Masjid Jami Al-Huda Pacet, Kabupaten Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" edisi Jumat (Pahing) 18 Januari 2013/6 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Waquli iAAmaloo fasayara Allahu AAamalakum warasooluhu waalmuminoona wasaturaddoona ila AAalimi alghaybi waalshshahadati fayunabbiokum bima kuntum taAAmaloona

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. At-Taubah: 105)

Ketika ada pelantikan pejabat, sumpah yang utama adalah harus bersikap profesional dalam bekerja. Tak lupa juga berlaku amanah. Sebenarnya apa itu profesional?
Profesi, profesional, dan profesionalisme jika ditelusuri secara asal historikal konteksnya, berakar dari kata latin profesio yang berarti ikrar.

Bekerja secara profesional adalah pekerjaan mulia dan suci demi pengabdian kepada Tuhan. Pekerjaan mulia dan suci tersebut seiring perjalanan waktu kini telah tidak mulia lagi, diselewengkan karena telah terkontaminasi hal-hal negatif. Seperti merebaknya kata profesi digunakan oleh pekerjaan dan perbuatan tidak suci lagi, seperti dijumpai kata pembunuh profesional, koruptor profesional, atau pelacur profesional.

Padahal, seorang profesional merupakan panggilan hidup, hati, jiwa, dan dikerjakan dengan sepenuh waktu (full time), dikerjakan selama hidupnya. Profesi adalah pekerjaan yang didalamnya terdapat pengetahuan, kecakapan /kemampuan dan keahlian yang secara khusus dipelajari dengan ilmiah. Seorang profesional, memiliki akuntabilitas (tanggung jawab) baik kepada sesama manusia maupun kepada Tuhannya yang disertai dengan komitmen, konsiten, konsekuen (istiqamah) yang tinggi serta sikap pengabdian yang tinggi (ikhlas lillahi ta'ala).

Kita sangat menyayangkan apabila para pejabat dan pelayan masyarakat bekerja secara amatir atau amatiran sebagai lawan kata dari profesional. Bekerja secara amatiran seakan-akan tidak pernah menghasilkan sesuatu yang ditargetkan. Amatiran menunjukkan kepada pekerjaan yang tidak kreatif, dan hasilnya kurang dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

Dalam konteks bahasa maupun budaya, amatir atau bekerja amatiran adalah suatu pekerjaan yang dilakukan dengan hilangnya kemampuan, dikerjakan hanya setengah hati atau asal-asalan. Merriam Webster mengartikan amatir atau amateur adalah seseorang yang melakukan aktivitas tertentu tidak dengan sepenuh hati (bukan panggilan jiwa) dan tidak pula dikerjakan sepenuh waktu. Amatir di dalamnya tidak terdapat komitmen, tidak konsisten, di samping kurangnya pengalaman dan kompetensi (kewenangan).

Padahal, banyak hadits Nabi Muhammad SAW. yang menekankan pentingnya bekerja dengan profesional sekaligus ikhlas sebagai upaya mengemban amanah umat.
"Sesungguhnya Allah SWT. suka melihat hamba-Nya berusaha berpenat lelah mencari rezeki yang halal." (HR Ad-Dailami)

Ada juga hadits lain,

"Usaha yang paling baik ialah usaha orang yang bekerja dengan ikhlas." (HR. Ahmad)

Demikian juga dalam HR. Albaihaqi yang menyatakan,
"Sesungguhnya Allah suka apabila seseorang itu membuat sesuatu perkara ia melakukan dengan penuh ketekunan (memperbaiki dan mempertingkatkannya)."

Lebih baik profesional dalam posisi amatiran daripada tetap amatiran dalam posisi profesional. Misalnya, seorang guru atau dosen, dia profesional sebagai pengajar. Kalau ia mendapat tugas tambahan sebagai ketua jurusan, dekan, atau rektor, tetapi ia batasi dengan aturan tidak dapat terus-menerus menjadi pejabat struktural. Setelah ia selesai melakukan tugas tambahan, ia kembali kepada habitatnya sebagai dosen yang profesional. Jabatan tidak bisa dicari dan diminta, jabatan adalah kepercayaan dan amanah yang bersifat sementara.

Pejabat yang terlalu lama menjabat, jangankan kurang mampu, bila baik pun secara etika-moral, menjabat terlalu lama bisa berdampak buruk. Jabatan dan kekuasaan bukan profesi, karenanya tidak perlu diburu dan dicari. Walaupun kekuasaan dan Jabatan bukan profesi, seseorang yang sedang menjabat harus menjaga amanah, menumbuhkan keadilan, juga harus bertindak profesional dalam melakukan dan mengelola kepemimpinannya.

Kita harus bercermin kepada Sahabat Khalid bin Walid RA. yang setelah masuk Islam menjadi panglima perang tertangguh hingga dijuluki Nabi Muhammad SAW. sebagai Syaifallah (pedang Allah). Perluasan Islam hingga ke Mesir, Irak, dan Syam di masa Khalifah Umar bin Khattab RA. tidak lepas dari ketanggguhan Khalid.

Namun, apa yang didapat Khalid bin Walid RA. ketika sedang menaklukkan Syam? Khalifah Umar bin Khattab RA. malah mencopot jabatan Khalid dan diserahkan kepada orang lain. Bagaimana sikap Khalid? Dia ikhlas menerimanya seraya berkata, "Aku berperang bukan karena Umar, melainkan karena Allah."
Dalam menilai jabatan, Nabi dan para sahabatnya yang utama bukan posisi yang ditempati, apalagi harus dikejar dengan hasrat ambisi. Jabatan itu mutlak amanah yang wajib ditunaikan dengan komitmen dan pertanggungjawaban yang tinggi.

Seorang pemimpin harus bersikap ksatria (al-futuwwah). Siapa pun yang bersedia memegang jabatan umat atau rakyat, maka harus bersikap menunaikan amanah dan memberikan pertanggungjawaban atas jabatannya dengan penuh kehormatan diri.***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 17 Januari 2013 / 5 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky