Pertanyaan yang sering muncul di benak kita dan terus menerus membutuhkan jawaban kita, yaitu mengapa Allah menciptakan manusia? Apakah hikmah dibalik penciptaan manusia? Serta tujuan apa yang akan dikerjakan manusia di bumi ini?

Pertanyaan ini telah membuat bingung akal-akal manusia dalam menjawabnya, apakah dari kalangan cendekiawan, orang-orang yang jenius, lebih-lebih yang di bawah mereka, khususnya ketika mereka menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan ilmu kalam dan filsafat yang bersandarkan kepada akal-akal mereka. Dan tidaklah seluruh akal itu berada dalam kebingungan kecuali akal-akal yang di sinari dengan wahyu Allah, berpetunjuk dengan petunjuk-Nya, serta mengikuti Rasulullah SAW. Itulah akal yang akan mengetahui jawaban dari pertanyaan ini dengan berdasarkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari sini bisa kita ketahui bahwa akal itu tidak mungkin bisa sendirian untuk mengetahui aqidah, karena aqidah itu ilmu yang berkaitan dengan hal-hal ghaib. Dan hal-hal yang ghaib itu, jika akal ini berbicara tentangnya tanpa bersumber dari wahyu, maka akan sesat. Hal ini di karenakan akal itu hanya bisa menggambarkan hal-hal yang diketahui yang sampai padanya dengan jalan panca indra. Dan ketika hal itu sudah keluar dari areal bumi ini (yakni sudah termasuk urusan alam ghaib. ed.), maka dia akan terjatuh dalam kebingungan yang besar. Allah SWT. berfirman:


أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya tersebut dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An’am (6): 122)

Dan mungkin pula akal itu berdalil dengan apa-apa yang dia lihat dan yang dia dengar, bahwa Tuhannya, penciptanya dan memberi rezeki kepadanya adalah Allah Al-Wahid, Al-Ahad, yang tidak melahirkan dan yang tidak dilahirkan, Allah SWT. berfirman:

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ ۖ أَفَلَا يَسْمَعُونَ
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنفُسُهُمْ ۖ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan). Maka apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan)? Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri . Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (QS. As-Sajadah (32): 26-27)

Dan jika kita telah tahu bahwa akal itu tidak bisa sendirian untuk mengetahui hikmah penciptaan manusia dan jin, maka wajib bagi kita untuk mempelajari hikmah diciptakannya manusia dan jin dari Al-Qur’an yang tidak ada kebathilan di dalamnya. Allah SWT. menjelaskan dalam Al-Qur’an hikmah diciptakannya jin dan manusia dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51): 56)

Di dalam ayat ini Allah SWT. menyatakan bahwa diciptakannya jin dan manusia itu adalah untuk beribadah. Maka ibadah itulah hikmah diciptakannya manusia dan jin, dan juga kerenanyalah Allah menciptakan langit, bumi, dunia, akherat, surga dan neraka. Dan oleh karenanya pula Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab yang menjelaskan antara yang halal dan yang haram, dan untuk menguji kita siapa yang paling baik amalannya. Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

(Dia-lah) yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk (67): 2)

Allah SWT. menciptakan hamba-hamba-Nya dan mengeluarkan mereka ke dunia ini. Lalu mengabarkan kepada mereka bahwa mereka akan berpindah ke alam lain. Dan Allah memerintahkan mereka serta melarang mereka dan menguji mereka dengan berbagai macam syahwat yang menentang perintah serta larangan-Nya. Maka barang siapa yang tunduk kepada perintah Allah, Allah akan memberikan balasan yang terbaik kepadanya di negeri akhirat, dan barang siapa yang cenderung (menuruti) hawa nafsunya dan membuang perintah-perintah Allah serta melakukan larangan-Nya, maka baginya adalah sejelek-jelek balasan. (Lihat Tafsir As-Sa’di Juz 5 hal. 429)

Maka seluruh hamba itu diciptakan untuk ibadah, akan tetapi di antara mereka ada yang diciptakan untuk ibadah tanpa mendapatkan ujian, seperti malaikat, sehingga ibadah itu merupakan tabi’at mereka dan mereka tidak menginginkan selainnya (ibadah). Allah SWT. menyatakan tentang mereka:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ
لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

Dan mereka berkata : “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”. Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu adalah hamba-hamba yang di muliakan). Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. Al-Anbiya’ (21): 26-28)

Dan diantara hamba Allah tersebut ada yang diciptakan untuk ibadah disertai ujian kepada mereka, seperti jin dan manusia. Mereka di uji dengan berbagai macam syahwat (kesenangan-kesenangan dunia, ed.). seperti syahwat makanan, syahwat minuman, syahwat nikah, syahwat menguasai dan lain-lain. 

Sebagaimana pula mereka diuji dengan teman-teman yang jelek serta syubhat-syubhat (keracunan pemahaman, ed.). yang diterima oleh hati-hati mereka. Dan ujian yang lebih besar lagi adalah setan yang senantiasa mengintai sejak dikeluarkannya Adam dari surga untuk menyesatkan anak cucu Adam dan menjatuhkan mereka di dalam kekufuran, kesyirikan, kefasikan serta kemaksiatan. Oleh karena itu, ibadah yang merupakan kewajiban mereka itu ada ujian-ujiannya, yaitu dengan adanya seruan-seruan untuk menyelisihinya (atau menentang kewajiban itu, ed.). Maka barang siapa yang menjawab seruan-seruan tersebut serta ta’at kepada setan, maka dia termasuk orang-orang yang menyimpang yang berhak untuk di masukkan ke neraka jahanam, sebagai mana Allah SWT. berfirman:

قَالَ فَالْحَقُّ وَالْحَقَّ أَقُولُ
لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكَ وَمِمَّن تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ

Allah berfirman : “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya. (QS. Shaad (38): 84-85)

Adapun orang-orang yang mendahulukan keta’atan kepada Allah dan semangat untuk mencari keridhoan-Nya, serta mengikuti Rasulullah, maka dialah mu’min yang sejati yang dijanjikan dengan derajat yang tinggi di dalam surga Firdaus.

Adapun tujuan yang akan di capai manusia dalam amalan-amalan itu berbeda-beda sesuai dengan penngetahuannya serta aqidah mereka. Diantara mereka ada yang mengenal Tuhannya dan mengetahi haq Allah atasnya, dan dia beriman dengan akan bertemunya dia dengan Allah (di akhirat), serta dia mengetahui kadar dunia ini hanyalah tempat persinggahan untuk menuju akherat, lalu dia mengambil apa-apa yang berguna baginya serta bekal yang mengantarkan kepada keridhoan Allah dan surganya, maka itulah tujuan hidup yang akan di capai dengan usahanya.

Dan diantara mereka ada yang tidak mengetahui hal tersebut tidak mengenal Tuhannya, tidak mengenal hak-Nya, serta tidak beriman terhadap pertemuannya dengan Allah (di akhirat), bahkan dia menyangka bahwa dunia dan kelezatannya serta kehidupannya adalah sebagai tujuannya, maka dia berusaha untuk semata-mata mencari dunia, menghabiskan waktu dan umurnya untuk mengumpulkan harta, maka dunia menjadi tujuan akhir segala aktivitasnya. Allah SWT. menyatakan tentang dua model golongan manusia tersebut dalam ayat-Nya:

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akherat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka adalah orang-orang yang usahanya di balasi dengan kebaikan. (QS. Al-Israa’: 19)

Adapun orang kafir yang murni itu berusaha untuk dunia saja, karena dia tidak beriman kecuali kepada hal itu saja, dan tidak cenderung kecuali hanya pada hal tersebut. Allah SWT. berfirman:

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا

Barang siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (dunia), maka Kami segerakan baginya didunia itu apa yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (QS. Al-Israa’: 18)

Adapun muslim yang berbuat maksiat maka dia berada di antara keduanya.
 

Wallahu a’alamu bish-shawab. *** (Ditulis oleh : Al Ustadz Muhammad Irfan untuk Buletin Asy Syariah Vol.15/03/1429H/2008) 

by
u-must-b-lucky
Ketika menjanjikan melakukan sesuatu hal, kita diperintahkan agar mengucapkan kalimat "insya Allah" (jika Allah menghendaki). Perintah ini termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Kahfi (18) ayat 23-24,

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا
إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

Wala taqoolanna lishayin innee faAAilun thalika ghadan
Illa an yashaa Allahu waothkur rabbaka itha naseeta waqul AAasa an yahdiyani rabbee liaqraba min hatha rashadan

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) 'Insya Allah'.

Menggunakan kalimat "insya Allah" ketika menjanjikan melakukan sesuatu pun telah dipraktikkan oleh para nabi dan rasul sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Seperti dicontohkan oleh Nabi Ismail AS. ketika ayahnya, yakni Nabi Ibrahim AS. diperintahkan Allah agar menyembelih anaknya, yakni Ismail AS.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Falamma balagha maAAahu alssaAAya qala ya bunayya innee ara fee almanami annee athbahuka faonthur matha tara qala ya abati ifAAal ma tumaru satajidunee in shaa Allahu mina alssabireena

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Ash-Shaaffat (37): 102)

Begitu juga dilakukan oleh Nabi Musa AS. ketika berjanji kepada Nabi Khidir AS. untuk patuh kepada semua arahannya sepanjang perjalanan menuntut ilmu.

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Qala satajidunee in shaa Allahu sabiran wala aAAsee laka amran

Musa berkata, "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." (QS. Al-Kahfi (18): 69)

Dengan demikian, menggunakan kalimat "insya Allah" merupakan etika bahwa jika kita hendak melakukan sesuatu pada masa akan datang, hendaklah mengembalikan hal itu kepada Yang Maha Mengetahui perkara gaib, yakni Allah SWT. (Tafsir Ibnu Katsir).

Hal ini dilakukan karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dan tidak dapat memastikan hal itu dapat dilakukan karena semuanya kembali kepada kehendak Allah SWT. Manusia berencana dan berusaha, tetapi Allah jualah yang menentukan.

Dengan demikian, selain mengikuti sunah para nabi dan rasul, orang yang bersungguh-sungguh mengucapkan kalimat "insya Allah" ketika menjanjikan hendak melakukan sesuatu hal menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki keimanan yang benar kepada Allah SWT. Itu karena ia meyakini bahwa dirinya tidak akan mampu mewujudkan apa yang dikehendakinya, kecuali dengan kehendak Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Wama tashaoona illa an yashaa Allahu rabbu alAAalameena

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir (81): 29)

Selain itu, menunjukkan akhlak yang mulia, yakni rendah diri terhadap Allah dan rendah hati terhadap sesama manusia. Karena ia menyadari, dirinya tidak akan mampu mewujudkan apa yang dijanjikannya kecuali atas pertolongan dan perlindungan Allah SWT. "Laa haula walaa quwwata illaa billaahil 'azim."

Selain itu, orang yang membiasakan mengucapkan "insya Allah" ketika menjanjikan melakukan sesuatu, termasuk yang mengagungkan kalimat yang mulia ini dan mensyiarkan ajaran Islam.

Dari uraian di atas, dapat kita pahami bahwa kalimat "insya Allah" merupakan kalimat yang agung. Suatu kalimat yang bukan hanya menunjukkan akhlak islami, tetapi juga menunjukkan akan keimanan dan akidah seorang Muslim. Namun demikian, dalam keseharian kita kerap mendapati ada orang yang menyalahgunakan kalimat "insya Allah". Kalimat ini kadang digunakan untuk memperdaya dan mendustai saudaranya.

Sering kita mendapati ada orang yang banyak memberikan harapan terhadap orang lain dengan menggunakan kalimat "insya Allah" dengan tujuan membujuk agar orang itu agar melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya. Namun, ketika ia mendapatkan apa yang dia inginkan dan saudaranya menuntut apa yang telah diucapkannya, ia berkilah bahwa dirinya tidak mengucapkan janji, tetapi mengucapkan "insya Allah". Ia menganggap, dengan mengucapkan "insya Allah", tidak ada kewajiban untuk mewujudkan apa yang ia sampaikan kepada saudaranya.

Selain itu, sering kita mendapati ada orang yang menggunakan kalimat "insya Allah" dengan tujuan menolak secara halus. Ketika diundang seseorang, ia berkata, "Insya Allah, saya akan datang." Padahal, dirinya tidak bermaksud memenuhi undangan tersebut. Ia menganggap dengan mengucapkan "insya Allah", tidak ada kewajiban baginya memenuhi undangan saudaranya.

Perilaku-perilaku di atas menjadikan kalimat "insya Allah" mengalami degradasi nilai. Akibatnya, orang lebih senang mendengar dari saudaranya ucapan "pasti atau iya", ketimbang dengan ucapan "insya Allah" ketika menjanjikan hendak melakukan sesuatu. Mereka menganggap, dengan ucapan "insya Allah" menunjukkan ketidakseriusan orang tersebut.

Sebagai orang beriman, sudah sepantasnya kita menjauhkan diri dari sikap-sikap tersebut. Pasalnya, hal itu akan menjerumuskan kita pada perbuatan durhaka kepada Allah SWT. karena telah jelas bahwa mengucapkan kalimat "insya Allah" ketika menjanjikan melakukan sesuatu merupakan perintah Allah SWT. Sebagaimana yang termaktub dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 23-24 di atas. Lebih dari itu, akan menjerumuskan kita pada kesombongan, kekafiran, dan kesyirikan karena dengan meninggalkan kalimat "insya Allah", kita "menuhankan" terhadap kemampuan diri kita sendiri.

Begitu pun bagi orang yang menyalahgunakan kalimat "insya Allah" dengan tujuan menipu dan mendustai saudaranya, ia mendapatkan dua dosa, dosa kepada Allah SWT. karena telah menjadikan nama Allah untuk berbuat dosa dan dosa terhadap sesama karena ia menipu dan mendustainya.

Untuk itu, mari kita gunakan kalimat "insya Allah" dengan benar yang dibuktikan dengan kesungguhan kita berikhtiar mewujudkan apa yang kita janjikan. Lalu kita serahkan hasil ikhtiar kita kepada Allah SWT. karena semuanya berakhir dengan kehendak Allah SWT. jua.

Semoga dengan kesungguhan kita menggunakan kalimat "insya Allah" ketika menjanjikan hendak melakukan suatu hal, menjadikan kita sebagai orang yang terpercaya yang dapat meninggikan derajat kita di sisi Allah dan dihormati sesama manusia. Amin.

Wallahu 'alam.***

[Ditulis oleh DIKY DILY WS, Ketua FKDT Kecamatan Sukasari, anggota FKDT Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 22 Maret 2013 / 10 Jumadil Awal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Saat ini Indonesia masih dilanda krisis kepemimpinan (crisis of leadership). Era Reformasi yang sudah berlangsung cukup lama belum mampu memberikan perubahan signifikan. Ironisnya, pemimpin yang diharapkan umat, tidak ada rasa keprihatinan terhadap rakyatnya, tidak memiliki rasa malu melakukan korupsi, mengambil uang rakyat dengan jalan batil.

Hal ini menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap mereka semakin menurun. Be-berapa lembaga survei menyebutkan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap beberapa to-koh atau pemimpin di Indonesia berkisar di bawah 50 persen. Artinya, sosok pemimpin yang menjadi harapan masyarakat masih di bawah rata-rata.

Saat ini beberapa tokoh atau calon pemimpin ditampilkan di tengah-tengah masyarakat agar menjadi pemimpin pilihan umat dalam pilkada ataupun pemilu untuk memilih calon presiden belum sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Kurang berhasilnya para pemimpin dalam mengemban tugas selama ini membuat tingkat kepercayaan terhadap mereka menurun.

Pemimpin yang ideal layaknya memiliki kriteria yang ideal pula. Sosok Rasulullah SAW. adalah seorang pemimpin yang ideal. Rasulullah selain sebagai pemimpin agama, juga pemimpin pemerintahan. Ia mampu menerapkan dan melaksanakan tatanan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih (clean government) dan negara yang baik (good government) serta penyelenggaraan pemerintahan yang adil (alhukumah al'adalah). Rasulullah SAW. bukan hanya dalam tataran slogan, melainkan juga implementasi di lapangan lebih dominan.

Kriteria utama pemimpin menurut Islam adalah sidik, amanah, adil, bertanggung jawab, dan punya misi. Kriteria tersebut perlu diawali dengan niat tulus dan ikhlas (husnun niyyah wal ikhlash). Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab dilandasi dengan niat sesuai dengan yang telah Allah gariskan.

Substansi kepemimpinan atau jabatan adalah amanah dan tanggung jawab, bukan semata-mata anugerah dan kemuliaan (fudhul). Jabatan yang diterima oleh seorang pemimpin bersifat temporer. Oleh karena itu, pemimpin yang sejati tidaklah ditentukan oleh rendah tingginya sebuah jabatan, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tanggapan bawahannya, yakni masih tetap diterima masyarakat karena membekas di hati mereka.

Sosok seorang pemimpin yang diharapkan selalu berada di tengah-tengah rakyatnya (populis) dan egaliter sehingga kepemimpinannya selalu dihargai dan disegani, bukan ditakuti. Jejak dirinya (integritas) tidak hanya menjadi rujukan dan contoh banyak orang selama pemimpin itu hidup, tetapi akan terus dirasakan generasi berikut walaupun ia sudah wafat.

Pemimpin itu harus jujur karena akan membawa kebaikan dan kebaikan akan membawa ketakwaan. Bila semua pemimpin jujur, tidak perlu lagi ada KPK. Kita diperintahkan jujur walaupun adakalanya itu menyakitkan. Jujur dalam berkata dan bertingkah laku. Perkataan yang benar mampu dibuktikan dengan perbuatan (implementasi) yang benar pula. Masyarakat tidak cukup disuguhi dengan janji-janji muluk tetapi kenyataannya tidak terwujud.

Pemimpin yang bersikap amanah merupakan kriteria berikutnya karena pemimpin seperti itu yang menjadi harapan umat.

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

inna khayra mani istajarta alqawiyyu alameenu

karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. (QS. Al-Qashash (28): 26)

Dalam sejarah Islam, ada dua peristiwa monumental, yaitu tatkala Khalid bin Walid RA. dan 'Amr bin Ash RA. diangkat menjadi panglima militer walaupun baru masuk Islam (mualaf). Ternyata keduanya sanggup mengemban amanah tersebut dengan efektif.

Seorang pemimpin bisa gagal menunaikan tugas kepemimpinannya karena tidak mampu mempertahankan amanah (khianat) atau karena tidak ada ilmu untuk itu (jahil). Al-Qur'an memberi pelajaran melalui kisah Nabi Yusuf AS. yang diberi kedudukan tinggi oleh raja karena dapat dipercaya (Al-Amin), pandai menjaga amanat (hafizh) dan berpengetahuan (alim).

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Waqala almaliku itoonee bihi astakhlishu linafsee falamma kallamahu qala innaka alyawma ladayna makeenun ameenun
Qala ijAAalnee AAala khazaini alardi innee hafeethun AAaleemun

Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS. Yusuf (12): 54-55)

Ini berarti, kriteria pemimpin diberi tekanan (stressing) yaitu hafizh artinya menjaga amanah. Hal ini disinggung Nabi dalam hadits,
"Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah menjaganya (hafizh) atau menyia-nyiakannya (khianat)." (HR. Nasa'i dan Ibnu Hibban)

Kriteria lainnya, mampu menjunjung hukum dengan memutuskan perkara dengan adil, tepat, dan cepat tanpa membeda-bedakan status mereka (tidak tebang pilih), rakyat atau pejabat, kaya atau miskin. Kehancuran suatu bangsa terdahulu adalah apabila rakyat jelata bersalah ditegakkan hukuman kepada mereka, sementara bila pejabat bersalah diabaikan atau tidak ditegakkan hukuman bagi mereka. (Al Hadits)

Adakah indikasi hadits Nabi tersebut terbukti pada masyarakat kita sekarang? Rasulullah SAW. sendiri menyampaikan, seandainya Fatimah RA., putri Nabi Muhammad SAW. mencuri, pasti ia potong tangannya. Sungguh tegas Rasulullah SAW. menerapkan keadilan kepada umatnya tanpa melihat siapa mereka.

Orang-orang yang menegakkan hukum dengan adil akan mendapatkan naungan dan perlindungan Allah SWT. pada hari kiamat. Demikian pula dalam sabdanya,
"Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara, kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerumuskan oleh kedzalimannya." (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir)

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh HABIB SYARIEF MUHAMMAD ALAYDRUS, Ketua Umum Yayasan Assalaam Bandung, pembimbing utama KBIH Assalaam, mantan anggota MPR dan mantan Ketua PW NU-Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 21 Maret 2013 / 9 Jumadil Awal 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Keajaiban sedekah mungkin sering didengar, baik dalam bentuk tuntunan maupun penuturan pengalaman seseorang. Bagaimana dengan utang? Apakah juga menyimpan keajaiban dan keunikan sebagaimana sedekah?

Banyak hadits terkait soal utang. Mereka yang memberi bantuan meminjamkan utang, disebutkan oleh Rasulullah SAW., pahalanya separuh dari bersedekah.

Dari Ibnu Mas'ud RA.,
"Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda bahwa seorang Muslim yang mempiutangi seorang Muslim dua kali, seolah-olah ia telah bersedekah kepadanya satu kali."

Logikanya sederhana, mengapa memberi utang itu walau tak mengurangi harta pemberi utang, bernilai tinggi. Ada semangat menolong yang luar biasa. Bahkan, kadang bisa lebih bernilai secara ekonomi dari sedekah.

Ketika seseorang bersedekah, mungkin juga orang yang diberi sebenarnya secara ril saat itu tidak terlalu membutuhkan. Berbeda dengan orang yang datang ingin meminjam uang. Kecuali yang memang hobi berutang, mereka biasanya memanfaatkan "fasilitas" itu karena terpaksa. Benar-benar terdesak kebutuhan.

Memberi bantuan pinjaman, tentu saja tanpa bunga (tanpa riba) bernilai tinggi. Mereka itu, mengutip hadits qudsi, tergolong orang-orang yang memudahkan dan membantu saudaranya.
"Barang siapa mempermudah urusan hamba-Ku, akan dipermudah urusannya."

Keajaibannya bagi pemberi pinjaman, memang tak terlihat seperti sedekah, karena biasanya tak terlalu dirasakan. Tidak dalam bentuk kelipatan harta, seperti halnya sedekah.

Yang menarik, ada keajaiban unik dalam proses utang piutang ini sesuatu yang kurang disadari hingga jarang mendapat perhatian apalagi dipraktikkan. Suatu keajaiban bermata pisau ganda yang akan dialami mereka yang berutang.

Mata pisau pertama, jika orang yang berutang itu lalai atau bersikap kurang peduli apalagi tak memperlihatkan iktikad baik untuk membayar, dijamin, ia justru akan makin terjerat kesulitan. Apalagi ketika sekali waktu mendapat rezeki, tetap juga berlagak lupa, kurang peduli untuk membayar. Kesulitan akan makin meningkat. Utang tak terbayar, rezeki yang didapat, kemungkinan besar akan habis.

Mengapa makin terjerat kesulitan? Secara ekonomi dan komunikasi sosial, mereka yang berutang itu tetap terjerat utang dan berpeluang bertambah utangnya. Kemungkinan kedua, karena masih punya utang di mana-mana dan biasanya menghindar dari pemberi utang, dia tanpa menyadari menutup jalan rezekinya sendiri.

Silaturahmi terhenti. Komunikasi dengan sesama makin sempit. Karena silaturrahmi berkurang, ruang-ruang peluang pun otomatis,berkurang. Rezeki pun kemungkinan besar berkurang. Sangat rasional sekali, tuntunan Islam menyangkut soal utang ini. Pararel dengan logika ekonomi.

Mata pisau kedua, kemudahan rezeki, bagi mereka yang bersemangat membayar utang. Ini kejaiban yang tak kalah dahsyat dari sedekah. Bahkan, bisa jadi lebih dahsyat. Namun, karena tertutup untuk menyeimbangkan keuangan, terkesan tak terlihat. Anda mungkin tak merasa mendapat rezeki besar, karena rezeki yang Anda dapat langsung sepenuhnya dibayarkan untuk utang. Jadi kurang terlihat sebagai tumpukan rezeki.

Ada jaminan Allah dan Rasul-Nya. Mereka yang bersemangat membayar utang akan dipermudah rezekinya. Selalu terbuka jalan keluar untuk membayar utang, jika seseorang memperlihatkan kesungguhan untuk membayar, yang dibuktikan dengan segera membayar utangnya ketika mendapat rezeki. Rasulullah SAW. bersabda,
"Barang siapa berutang dengan maksud melunasinya, maka Allah akan membantunya (untuk melunasinya)."

Disebutkan dalam hadits lain, Rasulullah SAW. bersabda,
"Seseorang yang berutang dan Allah melihat yang bersangkutan berniat untuk melunasinya, niscaya Allah akan menjadikan dia dapat melunasinya di dunia ini."

Bagaimana kalau rezeki yang diperoleh tak terlalu besar dan kebutuhan sendiri perlu juga dipenuhi? Bayarlah utang itu sebagian. Tak harus semuanya.

Katakanlah, Anda mempunyai utang Rp. 500.000,- lalu sekali waktu memperoleh rezeki Rp. 400.000,- dan masih ada keperluan memenuhi kebutuhan hidup. Tak perlu dibayar semua. Kebutuhan hidup tetap dipenuhi. Yang penting perlihatkan iktikad membayar utang walau mungkin hanya membayar sebagian. Jadi, bayarkan yang separuh dan penuhi kebutuhan hidup dari sisanya.

Konteks hadits Rasulullah SAW. pada persoalan utang, tidak menekan apalagi memaksa kita segera membayar keseluruhan. Mereka yang sedang tidak mampu membayar bahkan dianjurkan dibebaskan oleh si pemberi utang. Asal memang benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk membayar.

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Wain kana thoo AAusratin fanathiratun ila maysaratin waan tasaddaqoo khayrun lakum in kuntum taAAlamoona

Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah (2): 280)

Yang ditekankan di sini adalah iktikad dan kesungguhan untuk membayar. Jadi, ketika mampu hanya membayar separuh, bayar segera. Insya Allah, akan ada rezeki lain yang akan datang. Bukan bersikap sebaliknya ketika memiliki uang, tetapi tak memperlihatkan iktikad untuk melunasi utang.

Pilihannya sudah jelas. Dengan membayar utang, rezeki akan dipermudah. Namun, jika mengabaikan alias lalai membayar utang, akan mengalami kesulitan mendapat rezeki. ***

[Ditulis oleh MIQDAD HUSEIN, aktivis DDII, tinggal di Kota Depok. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 15 Maret 2013 / 3 Jumadil Awal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky