PEMIMPIN PILIHAN UMAT

Saat ini Indonesia masih dilanda krisis kepemimpinan (crisis of leadership). Era Reformasi yang sudah berlangsung cukup lama belum mampu memberikan perubahan signifikan. Ironisnya, pemimpin yang diharapkan umat, tidak ada rasa keprihatinan terhadap rakyatnya, tidak memiliki rasa malu melakukan korupsi, mengambil uang rakyat dengan jalan batil.

Hal ini menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap mereka semakin menurun. Be-berapa lembaga survei menyebutkan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap beberapa to-koh atau pemimpin di Indonesia berkisar di bawah 50 persen. Artinya, sosok pemimpin yang menjadi harapan masyarakat masih di bawah rata-rata.

Saat ini beberapa tokoh atau calon pemimpin ditampilkan di tengah-tengah masyarakat agar menjadi pemimpin pilihan umat dalam pilkada ataupun pemilu untuk memilih calon presiden belum sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Kurang berhasilnya para pemimpin dalam mengemban tugas selama ini membuat tingkat kepercayaan terhadap mereka menurun.

Pemimpin yang ideal layaknya memiliki kriteria yang ideal pula. Sosok Rasulullah SAW. adalah seorang pemimpin yang ideal. Rasulullah selain sebagai pemimpin agama, juga pemimpin pemerintahan. Ia mampu menerapkan dan melaksanakan tatanan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih (clean government) dan negara yang baik (good government) serta penyelenggaraan pemerintahan yang adil (alhukumah al'adalah). Rasulullah SAW. bukan hanya dalam tataran slogan, melainkan juga implementasi di lapangan lebih dominan.

Kriteria utama pemimpin menurut Islam adalah sidik, amanah, adil, bertanggung jawab, dan punya misi. Kriteria tersebut perlu diawali dengan niat tulus dan ikhlas (husnun niyyah wal ikhlash). Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab dilandasi dengan niat sesuai dengan yang telah Allah gariskan.

Substansi kepemimpinan atau jabatan adalah amanah dan tanggung jawab, bukan semata-mata anugerah dan kemuliaan (fudhul). Jabatan yang diterima oleh seorang pemimpin bersifat temporer. Oleh karena itu, pemimpin yang sejati tidaklah ditentukan oleh rendah tingginya sebuah jabatan, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tanggapan bawahannya, yakni masih tetap diterima masyarakat karena membekas di hati mereka.

Sosok seorang pemimpin yang diharapkan selalu berada di tengah-tengah rakyatnya (populis) dan egaliter sehingga kepemimpinannya selalu dihargai dan disegani, bukan ditakuti. Jejak dirinya (integritas) tidak hanya menjadi rujukan dan contoh banyak orang selama pemimpin itu hidup, tetapi akan terus dirasakan generasi berikut walaupun ia sudah wafat.

Pemimpin itu harus jujur karena akan membawa kebaikan dan kebaikan akan membawa ketakwaan. Bila semua pemimpin jujur, tidak perlu lagi ada KPK. Kita diperintahkan jujur walaupun adakalanya itu menyakitkan. Jujur dalam berkata dan bertingkah laku. Perkataan yang benar mampu dibuktikan dengan perbuatan (implementasi) yang benar pula. Masyarakat tidak cukup disuguhi dengan janji-janji muluk tetapi kenyataannya tidak terwujud.

Pemimpin yang bersikap amanah merupakan kriteria berikutnya karena pemimpin seperti itu yang menjadi harapan umat.

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

inna khayra mani istajarta alqawiyyu alameenu

karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. (QS. Al-Qashash (28): 26)

Dalam sejarah Islam, ada dua peristiwa monumental, yaitu tatkala Khalid bin Walid RA. dan 'Amr bin Ash RA. diangkat menjadi panglima militer walaupun baru masuk Islam (mualaf). Ternyata keduanya sanggup mengemban amanah tersebut dengan efektif.

Seorang pemimpin bisa gagal menunaikan tugas kepemimpinannya karena tidak mampu mempertahankan amanah (khianat) atau karena tidak ada ilmu untuk itu (jahil). Al-Qur'an memberi pelajaran melalui kisah Nabi Yusuf AS. yang diberi kedudukan tinggi oleh raja karena dapat dipercaya (Al-Amin), pandai menjaga amanat (hafizh) dan berpengetahuan (alim).

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Waqala almaliku itoonee bihi astakhlishu linafsee falamma kallamahu qala innaka alyawma ladayna makeenun ameenun
Qala ijAAalnee AAala khazaini alardi innee hafeethun AAaleemun

Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS. Yusuf (12): 54-55)

Ini berarti, kriteria pemimpin diberi tekanan (stressing) yaitu hafizh artinya menjaga amanah. Hal ini disinggung Nabi dalam hadits,
"Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah menjaganya (hafizh) atau menyia-nyiakannya (khianat)." (HR. Nasa'i dan Ibnu Hibban)

Kriteria lainnya, mampu menjunjung hukum dengan memutuskan perkara dengan adil, tepat, dan cepat tanpa membeda-bedakan status mereka (tidak tebang pilih), rakyat atau pejabat, kaya atau miskin. Kehancuran suatu bangsa terdahulu adalah apabila rakyat jelata bersalah ditegakkan hukuman kepada mereka, sementara bila pejabat bersalah diabaikan atau tidak ditegakkan hukuman bagi mereka. (Al Hadits)

Adakah indikasi hadits Nabi tersebut terbukti pada masyarakat kita sekarang? Rasulullah SAW. sendiri menyampaikan, seandainya Fatimah RA., putri Nabi Muhammad SAW. mencuri, pasti ia potong tangannya. Sungguh tegas Rasulullah SAW. menerapkan keadilan kepada umatnya tanpa melihat siapa mereka.

Orang-orang yang menegakkan hukum dengan adil akan mendapatkan naungan dan perlindungan Allah SWT. pada hari kiamat. Demikian pula dalam sabdanya,
"Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara, kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerumuskan oleh kedzalimannya." (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir)

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh HABIB SYARIEF MUHAMMAD ALAYDRUS, Ketua Umum Yayasan Assalaam Bandung, pembimbing utama KBIH Assalaam, mantan anggota MPR dan mantan Ketua PW NU-Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 21 Maret 2013 / 9 Jumadil Awal 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky

0 comments: