BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(5) TINGKATAN-TINGKATAN HIDAYAH KHUSUS DAN UMUM

Tingkatan Pertama :
Tingkatan pembicaraan Allah dengan hamba-Nya secara sadar dan langsung tanpa perantara. Ini merupakan tingkatan hidayah yang paling tinggi, sebagaimana Allah yang berbicara dengan Musa bin Imran. Allah befirman :
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
"Dan, Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung." (QS. An-Nisa': 164).

Sebelum ayat ini disebutkan wahyu Allah yang diberikan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya, kemudian mengkhususkan Musa, bahwa Allah berbicara dengan beliau. Ini menunjukkan bahwa pembicaraan ini lebih khusus dari sekedar memberikan wahyu seperti yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Lalu hal ini ditegaskan lagi dengan adanya mashdar dari kallama. Hujjah ini untuk menyanggah pendapat jahmiyah, Mu'tazilah dan golongan-golongan lain yang mengatakan bahwa itu artinya wahyu atau isyarat atau pengenalan terhadap suatu makna, yang artinya bukan bicara secara langsung. Al-Fara' berkata, "Orang-orang Arab menyebut kontak dengan orang lain adalah bicara, dengan cara apa pun dan bagaimana pun. Tetapi makna ini tidak disertai dengan mashdar dari fi'il yang sama. Jika dikuatkan dengan mashdar, berarti hakikatnya memang bicara. Maka apabila dikatakan, "Fulan araada iraadatan", artinya Fulan benar-benar menghendaki.

Ada firman Allah yang lain tentang hal ini :
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan, tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berbicara (langsung) kepadanya, Musa berkata, 'Ya Rabbi, tampakkanlah (Diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau'." (QS. Al-A'raf : 143).

Pembicaraan ini berbeda dengan yang pertama saat Dia mengutusnya kepada Fir'aun. Dalam pembicaraan kali ini Musa meminta untuk dapat melihat Allah. Pembicaraan kali ini berasal dari janji Allah kepadanya. Sementara pada pembicaraan yang pertama tidak didahului dengan janji.

Tingkatan Kedua :
Tingkatan wahyu yang secara khusus diberikan kepada para nabi. Allah befirman
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya." (QS. An-Nisa' : 163).

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ
"Dan, tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir." (QS. Asy-Syura : 51).

Allah menjadikan wahyu dalam ayat kedua ini termasuk bagian dari bicara, sedangkan dalam ayat pertama menjadi lawan bicara. Lawan bicara secara khusus artinya tanpa ada perantara, sedangkan bagian dari bicara yang bersifat umum, berarti penyampaian makna dengan berbagai macam cara.

Tingkatan Ketiga :
Mengirim utusan dari jenis malaikat kepada utusan dari jenis manusia, lalu utusan malaikat ini menyampaikan wahyu dari Allah seperti yang diperintahkan-Nya.

3 (tiga) jenis tingkatan ini dikhususkan hanya bagi para rasul dan nabi, tidak berlaku untuk selain mereka. Utusan malaikat itu bisa berwujud manusia berjenis laki-laki, yang bisa dilihat dengan mata telanjang dan juga berbicara empat mata, dan adakalanya dia menampakkan diri dalam wujud aslinya. Adakalanya malaikat ini masuk ke dalam diri rasul dan menyampaikan wahyu seperti yang diperintahkan, lalu dia melepaskan diri darinya. 3 (tiga) cara ini pernah dialami nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Tingkatan Keempat :
Dengan cara bisikan. Tingkatan ini berbeda dengan wahyu yang sifatnya khusus dan juga berbeda dengan tingkatan para shiddiqin, seperti yang dialami Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu. Hal ini pernah ditegaskan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam :
"Sesungguhnya di tengah umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang mendapat bisikan. Sedangkan dalam umat ini adalah Umar bin Al-Khaththab."

Orang yang mendapat bisikan ialah orang yang mendapat bisikan (firasat) itu secara rahasia di dalam hatinya tentang sesuatu, kemudian dia menyatakannya. Lalu bagaimana dengan sekian banyak orang yang dikuasai imajinasi dan hayalan, yang mengatakan, "Hatiku mendapat bisikan dari Allah ?" Memang tidak bisa disangkal bahwa hatinya mendapat bisikan itu. Tapi dari mana dan dari siapa ? Dari syetan ataukah dari Allah ? Jika dia mengaku berasal dari Allah, berarti dia menyandarkan bisikan itu dari seseorang yang sebenarnya dia pun tidak mengetahuinya secara pasti, bahwa yang membisikkan kepadanya itu benar-benar membisikkan. Ini sama saja bohong. Sementara Umar bin Al-Khaththab, salah seorang dari umat ini yang telah dilegitimasi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai orang yang mendapat bisikan dari Allah, tidak membuat pengakuan seperti itu dan berkata seperti itu, kapan pun, karena Allah telah melindungi dirinya agar tidak berkata seperti itu. Bahkan suatu hari saat sekretarisnya menulis, "Inilah yang diperlihatkan Allah kepada Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaththab", dia berkata, "Tidak, hapus itu. Tapi tulislah: Inilah yang dilihat Umar bin Al-Khaththab. Jika benar, maka ini datangnya dari Allah, dan jika salah, maka ini dari Umar, sedangkan Allah dan Rasul-Nya terbebas darinya." Dia juga pernah berkata ketika memutuskan perkara tentang seorang anak yang tidak jelas bapak ibunya, "Aku memutuskannya berdasarkan pendapatku. Jika benar, maka itu datangnya dari Allah, dan jika salah, maka itu dariku dan dari syetan."

Dengan begitu engkau bisa membedakan antara sosok Umar bin Al-Khaththab dengan sekian banyak orang yang dikuasai hayalan, pembual dan permisivis yang mengatakan, "Hatiku mendapat bisikan (wangsit) dari Allah." Perhatikan dan bandingkan antara keduanya, kemudian berikan hak kepada masing-masing secara proporsional, jangan samakan pembual dengan orang yang tulus.

Tingkatan Kelima :
Dengan cara pemahaman. Allah befirman :
وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا
"Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan, adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan ilmu." (QS. Al-Anbiya' : 78-79)

Allah menyebutkan dua nabi yang mulia ini, memuji keduanya dengan ilmu dan hukum, mengkhususkan Sulaiman dengan pemahaman dalam peristiwa ini.

Ali bin Abu Thalib pernah ditanya seseorang, "Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengkhususkan kalian para shahabat dengan sesuatu tanpa yang lain ?" Ali menjawab, "Tidak pernah, kecuali hanya pemahaman tentang Kitab-Nya seperti yang diberikan Allah kepada seorang hamba."

Pemahaman ini datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan inti kebenaran. Ada perbedaan di antara orang-orang yang berilmu sehubungan dengan pemahaman ini, sampai-sampai ada satu orang yang disamakan dengan seribu orang. Perhatikan pemahaman yang dimiliki Ibnu Abbas, saat dia ditanya Umar dalam pertemuan yang dihadiri para shahabat yang pernah ikut perang Badr dan juga lain-lainnya tentang makna surat An-Nashr. Menurut Ibnu Abbas, surat ini merupakan pengabaran tentang kedekatan ajal beliau. Ternyata jalan pikiran Ibnu Abbas ini cocok dengan jalan pikiran Umar sendiri. Hanya mereka berdua yang memahami seperti ini, sekalipun Ibnu Abbas adalah orang yang paling muda di antara para shahabat yang ada pada waktu itu. Dari sisi mana surat ini bisa dipahami sebagai pengabaran tentang ajal beliau yang sudah dekat kalau bukan karena pemahaman yang sifatnya khusus ?

Tingkatan Keenam :
Penjelasan secara umum. Artinya, penjelasan tentang kebenaran dan kemampuan untuk membedakannya dari yang batil, berdasarkan dalil, bukti dan saksi-saksi penguat, sehingga lalu berubah seperti sebuah kenyataan di dalam hati, seperti sebuah kenyataan yang tampak jelas di depan mata kepala. Tingkatan ini merupakan hujjah Allah atas makhluk-Nya. Dia tidak mengadzab dan tidak menyesatkan seseorang kecuali sete-lah orang tersebut mendapatkan kejelasan ini. Firman-Nya :
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ
"Dan, Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus dijauhi." (QS. At-Taubah : 115).

Kesesatan ini merupakan hukuman bagi mereka yang datangnya dari Allah, karena Dia telah menjelaskan kepada mereka, namun mereka tidak mau menerima dan tidak mengamalkannya. Maka Allah menghukum mereka dengan cara menyesatkannya dari petunjuk. Jadi, Allah sama sekali tidak menyesatkan seseorang kecuali setelah ada penjelasan ini.Jika engkau sudah memahami hal ini, tentu engkau bisa memahami rahasia takdir, sehingga engkau tidak terasuki sekian banyak keragu-raguan dan syubhat tentang masalah ini.

Penjelasan ini ada dua macam: Penjelasan dengan ayat-ayat yang bisa didengar, dan penjelasan dengan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) yang bisa dilihat mata. Keduanya merupakan bukti dan penjelasan tentang keesaan Allah dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Karena itu Allah menyeru hamba-hamba-Nya lewat ayat-ayat-Nya yang bisa dibaca agar memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang bisa dilihat mata. Karena penjelasan inilah para rasul diutus dan pengemban sesudah para nabi adalah para ulama. Setelah ada penjelasan itu, maka Allah menyesatkan siapa pun yang dikehendaki-Nya. Allah menjelaskan, dan Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya serta memberikan petunjuk kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya berdasarkan hikmah-Nya.

Tingkatan Ketujuh :
Penjelasan bersifat khusus. Maksudnya penjelasan yang mendatangkan petunjuk khusus, atau penjelasan yang disusul dengan pertolongan, taufik dan pengenyahan sebab-sebab kehinaan dari hati, sehingga dia tidak kehilangan hidayah. Allah befirman :
إِنْ تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ
"Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya." (QS. An-Nahl : 37).

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
"Sesungguhnya kami tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya." (QS. Al-Qashash : 56).

Tingkatan Kedelapan :
Lewat pendengaran. Allah befirman :
وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ
"Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar." (QS. Al-Anfal : 23)

Memperdengarkan di sini lebih khusus daripada memperdengarkan hujjah dan tabligh, sebab yang demikian itu berangkat dari diri mereka sendiri dan karenanya Allah menegakkan hujjah atas mereka. Yang demikian itu berarti memperdengarkan telinga, sedangkan yang ini memperdengarkan hati. Perkataan mempunyai lafazh dan makna, yang berkaitan dengan telinga dan hati. Mendengarkan lafazh merupakan bagian telinga, sedangkan mendengarkan hakikat makna dan tujuannya merupakan bagian hati. Allah meniadakan pendengaran maksud dan tujuan yang merupakan bagian hati dari orang-orang kafir, dan hanya menetapkan pendengaran lafazh-lafazh yang merupakan bagian telinga.

Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan pemahaman, bahwa tingkatan ini diperoleh lewat sarana telinga, sedangkan tingkatan pemahaman sifatnya lebih umum. Jadi tingkatan ini lebih khusus daripada tingkatan pemahaman, jika dilihat dari sisi ini. Tapi tingkatan pemahaman juga bisa lebih khusus jika dilihat dari sisi yang lain lagi, yaitu karena ia berkaitan dengan makna yang dimaksudkan, kaitan dan isyarat-nya. Inti tingkatan mendengar ialah penyampaian maksud ke hati, yang berarti harus ada penerimaan pendengaran. Berarti dalam tingkatan ini ada 3 (tiga) tingkatan lain : Telinga yang mendengar, hati yang mendengar dan penerimaan atau pemenuhan.

Tingkatan Kesembilan :
Ilham. Allah befirman :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
"Demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams: 7-8).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Hushain bin Al-Mundzir saat dia masuk Islam,
"Katakanlah, 'Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku petunjukku dan lindungilah aku dari kejahatan diriku."

Pengarang Manazilus-Sa'irin (Abu Ismail) menganggap ilham ini sama kedudukannya dengan bisikan di dalam hati. Jadi ilham lebih tinggi daripada firasat. Sebab boleh jadi firasat itu jarang-jarang terjadi atau bersifat insidental dan pelakunya tidak bisa menentukan kapan waktunya atau bahkan ia bisa mengecohnya. Sementara kedudukan ilham sudah jelas. Saya katakan, bisikan di dalam hati lebih khusus daripada ilham. Ilham bersifat umum bagi orang-orang Mukmin, tergantung pada iman mereka. Setiap orang Mukmin mendapat ilham petunjuk dari Allah, yang menghasilkan keimanan kepada-Nya. Sedangkan bisikan dalam hati hanya dikhususkan bagi orang-orang yang memang mendapatkannya, seperti Umar bin Al-Khaththab. Jadi bisikan hati ini merupakan ilham khusus, atau bisa dikatakan wahyu yang diberikan kepada selain para nabi, baik mukallaf atau bukan mukallaf. Wahyu yang diberikan kepada mukallaf seperti firman Allah :
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ
"Dan, Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (QS. Al-Qashash : 7).

Wahyu yang diberikan kepada yang bukan mukallaf :
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
"Dan, Rabbmu mewahyukan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia'."(QS. An-Nahl : 68).

Jika ilham ini dianggap lebih tinggi daripada kedudukan firasat, maka justru bisa melemahkan anggapan itu sendiri. Sebab seperti yang sudah dikatakan di atas, firasat itu jarang-jarang terjadinya. Sementara sesuatu yang jarang-jarang terjadi tidak mempunyai hukum. Jelasnya tentang masalah ini, masing-masing dari firasat dan ilham dibagi menjadi umum dan khusus. Yang khusus pada masing-masing lebih tinggi dari yang umum pada selainnya. Tapi perbedaan yang jelas di antara kedua-nya, firasat lebih berkaitan dengan satu jenis tindakan atau perbuatan, sedangkan ilham murni pemberian, yang tidak bisa diperoleh dengan tindakan atau usaha tertentu.

Tingkatan Kesepuluh :
Mimpi yang benar, yang merupakan satu bagian dari nubuwah, seperti yang dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
"Mimpi yang benar itu merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian dari nubuwah."

Tapi dalam riwayat lain yang shahih disebutkan merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian dari nubuwah. Yang pasti, mimpi merupakan permulaan wahyu. Kebenarannya tergantung kepada orang yang bermimpi, dan mimpi yang paling benar ialah mimpinya orang yang perkataannya paling benar dan jujur. Jika kiamat sudah dekat, maka hampir tidak ada mimpi yang meleset, karena jaraknya yang jauh dari masa nubuwah. Sementara pada masa nubuwah tidak membutuhkan mimpi-mimpi yang benar ini, karena sudah ada kekuatan cahaya nubuwah.

Kebalikan dari mimpi yang benar ini adalah karamah yang muncul setelah masa shahabat, namun tidak muncul pada masa dekatnya hari kiamat. Hal ini disebabkan kuat dan lemahnya iman. Begitulah yang ditegaskan Al-Imam Ahmad.

Ubadah bin Ash-Shamit berkata, "Mimpi orang Mukmin merupakan perkataan yang disampaikan Allah kepada hamba-Nya ketika dia tidur." Mimpi itu layaknya suatu pengungkapan, di antaranya ada yang berasal dari Allah, ada yang berasal dari kejiwaan dan ada yang berasal dari syetan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam :
"Mimpi itu ada tiga macam: Mimpi dari Allah, mimpi sedih dari syetan dan mimpi yang terbawa bisikan seseorang ke dalam hatinya saat terjaga, lalu dia memimpikannya saat tidur."

Mimpi yang menjadi sebab hidayah adalah mimpi yang secara khusus datangnya dari Allah. Sementara mimpi para nabi sama dengan wahyu, karena mimpi mereka terlindung dari syetan. Begitulah kesepakatan umat.

Karena itu Al-Khalil Ibrahim hendak menyembelih putranya, sekalipun itu bermula dari perintah dalam mimpi yang beliau alami. Sedangkan mimpi selain para nabi, bisa dilaksanakan seperti halnya wahyu yang jelas, jika memang tepat. Jika tidak, maka tidak perlu diamalkan. Lalu apa komentar kalian tentang mimpi yang benar ? Jika mimpi itu mimpi yang benar, maka ia tidak akan bertentangan dengan wahyu. Siapa yang ingin agar mimpinya benar, maka hendaklah dia terus-menerus menjaga kejujurannya, memakan yang halal, menjaga perintah dan larangan, tidur dalam keadaan suci, menghadap ke arah kiblat, menyebut asma Allah hingga matanya terlelap. Jika dia berbuat seperti ini, hampir pasti mimpinya bukan mimpi yang dusta.

Mimpi yang paling benar adalah mimpi pada waktu sahur, karena itulah waktu turunnya wahyu, rahmat, ampunan dan saat syetan menyingkir jauh. Sebaliknya, mimpi pada permulaan malam adalah mimpi yang banyak ditebari syetan dan ruh-ruh syetan.


[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit : Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(4) HAKIKAT ASMA' ALLAH

Pembuktian asma' Allah yang 5 (lima), yaitu (Allah, Ar-Rabb, Ar-Rahman, Ar-Rahim dan Al-Malik), dilandaskan kepada 2 (dua) dasar :

Dasar Pertama :

Asma' Allah menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Asma' ini merupakan sifat, yang semuanya baik, husna. Sebab jika asma' itu hanya sekedar lafazh yang tidak mempunyai makna apa pun, maka ia tidak bisa disebut husna dan tidak menunjukkan kesempurnaan, lalu akan terjadi kerancuan antara dendam dan marah yang menyertai rahmat dan ihsan, sehingga kalau berdoa kita harus mengucapkan, "Ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku karena Engkau pendendam". Penafian makna Asma'ul-husna termasuk kufur yang terbesar. Jika Allah mensifati Diri-Nya Al-Qawiyyu, berarti memang Dia benar-benar mempunyai kekuatan. Begitu pula sifat-sifat lainnya.

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
"Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak seharusnya Dia tidur. Dia merendahkan timbangan dan meninggikannya. Amal pada malam hari disampaikan kepada-Nya sebelum siang hari, dan amal siang hari disampaikan kepada-Nya sebelum malam hari. Hijab-Nya adalah cahaya, yang andaikan hijab ini disingkap, maka kemuliaan Wajah-Nya benar-benar membakar pandangan makhluk yang memandang-Nya."

Menafikan makna asma'-Nya juga termasuk kufur yang paling besar. Gambaran kufur lainnya adalah menamakan berhala dengan asma' Allah, sebagaimana mereka menamakannya alihah (sesembahan). Ibnu Abbas dan Mujahid berkata, "Mereka mengambil asma' Allah lalu menamakan berhala-berhala mereka dengan asma'-Nya, dengan sedikit mengurangi atau menambahi. Mereka mengambil nama Lata dari Allah, Uzza dari Al-Aziz, Manat dari Al-Mannan."

Dasar Kedua:

Satu dari berbagai asma' Allah, di samping menunjukkan kepada Dzat dan sifat yang disesuaikan dengannya, maka ia juga menunjukkan dua bukti lainnya yang sifatnya kandungan dan keharusan. As-Sami' menunjukkan kepada Dzat Allah dan pendengaran-Nya, juga kepada Dzat semata dan kepada pendengaran yang menjadi kandungannya. Begitu pula sifat-sifat lainnya.

Jika sudah ada kejelasan tentang dua dasar ini, maka asma' Allah menunjukkan kepada keseluruhan Asma'ul-husna dan sifat-sifat yang tinggi. Hal ini menunjukkan kepada Ilahiyah-Nya, dengan penafian kebalikannya.

Maksud sifat-sifat Ilahiyah adalah sifat-sifat kesempurnaan, yang terlepas dari penyerupaan dan permisalan, aib dan kekurangan. Karena Allah menambahkan semua Asma'ul-husna ke asma'-Nya yang agung ini (Allah).

Asma' "Allah" layak untuk semua makna Asma'ul-husna dan menunjukkan kepadanya secara global. Sedangkan Asma'ul-husna itu sendiri merupakan rincian dari sifat-sifat Ilahiyah yang berasal dari asma'"Allah".

Asma' "Allah" menunjukkan keadaan-Nya sebagai Dzat yang disembah. Semua makhluk menyembah-Nya dengan penuh rasa cinta, pengagungan dan ketundukan. Hal ini mengharuskan adanya kesempurnaan Rububiyah dan rahmat-Nya, yang juga mencakup kesempurnaan kekuasaan dan puji-Nya.

Sifat keagungan dan keindahan lebih dikhususkan untuk nama "Allah". Perbuatan, kekuasaan, kesendirian-Nya dalam memberi manfaat dan mudharat, memberi dan menahan, kehendak, kesempumaan kekuatan dan penanganan urusan makhluk, lebih dikhususkan untuk nama " Ar-Rabb". Sifat ihsan, murah hati, pemberi dan lemah lembut lebih dikhususkan untuk nama "Ar-Rahman". Masing-masing disesuaikan dengan kaitan sifat. Ar-Rahman artinya yang memiliki sifat rahmat. Sedang-kan Ar-Rahim adalah yang mengasihi hamba-hamba-Nya. Karena itu dikatakan dalam firman-Nya, "Dia Ar-Rahim (Maha Pengasih) terhadap hamba-hamba-Nya", dan tidak dikatakan, "Ar-Rahman (yang memiliki sifat rahmat) terhadap hamba-hamba-Nya".

Perhatikanlah kaitan penciptaan dan urusan dengan 3 (tiga) asma' ini, yaitu Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman, yang dari 3 (tiga) asma' ini ada penciptaan, urusan, pahala dan siksa, bagaimana makhluk dihimpunkan dan dipisah-pisahkan.

Asma' Ar-Rabb memiliki cakupan yang menyeluruh terhadap semua makhluk. Dengan kata lain, Dia adalah pemilik segala sesuatu dan penciptanya, yang berkuasa terhadapnya dan tidak ada sesuatu pun yang keluar dari Rububiyah-Nya. Siapa pun yang ada di langit dan bumi merupakan hamba-Nya, ada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Mereka berhimpun berdasarkan sifat Rububiyah dan berpisah dengan sifat Ilahiyah. Hanya Dialah yang disembah, kepada-Nya mereka tunduk, bahwa Dialah Allah yang tidak ada sesembahan selain-Nya. Ibadah, tawakal, berharap, takut, mencintai, pasrah, tunduk tidak boleh diperuntukkan kecuali bagi-Nya semata.

Berangkat dari sinilah manusia terbagi menjadi 2 (dua) golongan : Golongan orang-orang musyrik yang berada di neraka, dan golongan orang-orang muwahhidin yang berada di surga. Yang membuat mereka terpisah adalah Ilahiyah, sedangkan Rububiyah membuat mereka bersatu. Agama, syariat, perintah dan larangan berasal dari sifat Ilahiyah. Penciptaan, pengadaan, penanganan urusan dan perbuatan berasal dari sifat Rububiyah. Pahala, balasan, siksa, surga dan neraka berasal dari sifat Al-Malik. Artinya, Dialah yang menguasai hari pembalasan. Dia memerintahkan mereka berdasarkan Ilahiyah-Nya, menunjuki dan menyesatkan mereka berdasarkan Rububiyah-Nya, memberi pahala dan siksa berdasarkan kekuasaan dan keadilan-Nya. Setiap masalah ini tidak bisa dipisahkan dari yang lain.

Disebutkannya asma'-asma' ini setelah al-hamdu (pujian) dan pengaitan al-hamdu dengan segala cakupannya, menunjukkan bahwa memang Dia adalah yang terpuji dalam Ilahiyah-Nya, terpuji dalam Rububiyah-Nya, terpuji dalam Rahmaniyah-Nya, terpuji dalam kekuasaan-Nya, Dia adalah sesembahan yang terpuji, ilah dan Rabb yang terpuji, Rahman yang terpuji, Malik yang terpuji. Dengan begitu Dia memiliki seluruh kesempurnaan; kesempurnaan dalam asma' Allah secara sendirian dan kesempurnaan dalam asma'-asma' lainnya secara sendirian serta kesempurnaan dalam penyertaan satu asma' dengan asma' lain. Karena itu sering disebutkan dua asma' secara berurutan, seperti : Wallahu ghaniyyun hamid, wallahu alimun hakim, wallahu ghafurur rahim. Al-Ghaniyyu merupakan sifat kesempurnaan dan Al-Hamid merupakan sifat kesempurnaan pula. Penyertaan 2 (dua) asma' ini merupakan kesempurnaan-Nya, begitu pula penyertaan sifat-sifat yang lain.


[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in" (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit : Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(3) CAKUPAN SURAT AL-FATIHAH TERHADAP MACAM-MACAM TAUHID

Tauhid itu ada 2 (dua) macam:
  1. Tauhid dalam ilmu dan keyakinan.
  2. Tauhid dalam kehendak dan tujuan.
Yang pertama disebut tauhid ilmu karena keterkaitannya dengan pengabaran dan pengetahuan. Tauhid kedua yang disebut tauhid kehendak dan tujuan, dibagi menjadi 2 (dua) macam: Tauhid dalam Rububiyah dan tauhid dalam Uluhiyah.

Tauhid ilmu berkisar pada penetapan sifat-sifat kesempurnaan, penafian penyerupaan, peniadaan aib dan kekurangan. Hal ini bisa diketahui secara global maupun secara terinci. Secara global dapat dikatakan, "Penetapan pujian hanya bagi Allah". Adapun secara terinci dapat dikatakan, "Penyebutan sifat Uluhiyah, Rububiyah, rahmah dan kekuasaan. Empat sifat ini merupakan pusaran asma' dan sifat."

Pujian di sini berarti pujian terhadap Dzat yang dipuji dengan menyebutkan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya, disertai kecintaan, ridha dan ketundukan kepada-Nya. Seseorang tidak bisa disebut orang yang memuji jika dia mengingkari sifat-sifat yang dipuji, tidak mencintai, tidak tunduk dan ridha kepadanya. Jika sifat-sifat kesempurnaan yang dipuji lebih banyak, maka pujian pun semakin sempurna. Begitu pula sebaliknya. Karena itu segala pujian hanya tertuju kepada Allah karena kesempurnaan dan banyaknya sifat-sifat yang dimiliki-Nya, yang selain Allah tidak mampu menghitungnya. Karena itu pula Allah mencela sesembahan orang-orang kafir dengan meniadakan sifat-sifat kesempurnaan darinya. Allah mencelanya sebagai sesuatu yang tidak bisa mendengar, melihat, berbicara, memberi petunjuk, mendatangkan manfaat dan mudharat. Maka Allah menjelaskan hal ini seperti dalam perkataan Ibrahim Al-Khalil :
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
"Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak tnelihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun ?" (QS. Maryam : 42).

Andaikata sesembahan Ibrahim seperti sesembahan bapaknya, Azar, tentu bapaknya akan menjawab, "Toh sesembahanmu seperti itu pula. Maka buat apa kamu mengingkari aku ?" Sekalipun begitu sebenarnya Azar juga tahu siapa Allah, sama seperti orang-orang kafir Quraisy yang tahu siapa Allah, tapi mereka menyekutukan-Nya. Begitu pula kaum Musa. Firman Allah :
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
"Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim." (QS. Al-A'raf : 148).

Jika ada yang berkata, "Bukankah Allah tidak bisa berbicara dengan hamba-Nya ?" Maka dapat dijawab sebagai berikut : Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya. Di antara mereka ada yang diajak berbicara dengan Allah dari balik hijab, yang lain ada yang tanpa perantara, seperti Musa, ada yang berbicara dengan Allah lewat perantara malaikat yang diutus, yaitu para nabi dan rasul, dan Allah berbicara dengan seluruh manusia lewat para rasul-Nya. Allah menurunkan firman-Nya kepada mereka yang disampaikan para rasul, "Ini adalah firman Allah dan Dia memerintahkan agar kami menyampaikannya kepada kalian." Berangkat dari sinilah orang-orang salaf berkata, "Siapa mengingkari keadaan Allah yang dapat berbicara, berarti dia mengingkari risalah para rasul." Begitu pula kaitannya dengan sifat-sifat Allah selainnya.

Dari sini dapat diketahui bahwa hakikat pujian mengikuti ketetapan sifat-sifat kesempurnaan, dan penafian hakikat pujian ini juga mengikuti penafian sifat-sifat kesempurnaan.

[Berikutnya....(4) Hakikat Asma' Allah]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in" (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit : Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(2) ASH-SHIRATHUL-MUSTAQIM

Allah menyebutkan Ash-Shiratul-mustaqim dalam bentuk tunggal dan diketahui secara jelas, karena ada lam ta'rif dan karena ada keterangan tambahan, yang menunjukkan kejelasan dan kekhususannya, yang berarti jalan itu hanya satu. Sedangkan jalan orang-orang yang mendapat murka dan sesat dibuat banyak. Firman-Nya :
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya." (QS. Al-An'am : 153).

Allah menunggalkan lafazh ash-shirath dan sabilihi, membanyakkan lafazh as-subula, sehingga jelas perbedaan di antara keduanya. Ibnu Mas'ud berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menorehkan satu garis di hadapan kami, seraya bersabda, 'Ini adalah jalan Allah'. Kemudian beliau menorehkan beberapa garis lain di kiri kanan beliau, seraya bersabda, 'Ini adalah jalan-jalan yang lain. Pada masing-masing jalan ini ada syetan yang mengajak kepadanya'. Kemudian beliau membaca ayat, 'Dan bahwa...'."

Pasalnya, jalan yang menghantarkan kepada Allah hanya ada satu, yaitu jalan yang karenanya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Tak seorang pun bisa sampai kepada Allah kecuali lewat jalan ini. Andaikan manusia melalui berbagai macam jalan dan membuka berbagai macam pintu, maka jalan itu adalah jalan buntu dan pintu. itu terkunci.

Ash-Shirathul-mustaqim adalah jalan Allah. Sebagaimana yang pernah kami singgung, Allah mengabarkan bahwa ash-shirath itu ada pada Allah dan Allah ada pada ash-shirathul-mustaqim. Yang demikian ini disebutkan di dua tempat dalam Al-Qur'an :

إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus." (QS. Hud : 56)

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Dan Allah membuat perumpamaan: Dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, kemana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus ?" (QS. An-Nahl : 76).

Inilah perumpamaan yang diberikan Allah terhadap para berhala yang tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara dan tidak berakal, yang justru menjadi beban bagi penyembahnya. Berhala membutuhkan penyembahnya agar dia membawa, memindahkan dan meletakkannya di tempat tertentu serta mengabdi kepadanya. Bagaimana mungkin mereka mempersamakan berhala ini dengan Allah yang menyuruh kepada keadilan dan tauhid, Allah yang berkuasa dan berbicara, yang Maha-kaya, yang ada di atas ash-shirathul-mustaqim dalam perkataan dan perbuatan-Nya ? Perkataan Allah benar, lurus, berisi nasihat dan petunjuk, perbuatan-Nya penuh hikmah, rahmat, bermaslahat dan adil.

Inilah pendapat yang paling benar tentang hal ini, dan sayangnya jarang disebutkan para mufassir atau pun ulama lainnya. Biasanya mereka lebih memprioritaskan pendapat pribadi, baru kemudian menyebutkan dua ayat ini, seperti yang dilakukan Al-Baghawy. Sementara Al-Kalby berpendapat, "Artinya Dia menunjukkan kalian kepada jalan yang lurus."

Kami katakan, petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus merupakan keharusan keberadaan Allah di atas ash-shirathul-mustaqim. Petunjuk-Nya dengan perbuatan dan perkataan-Nya, dan Dia berada di atas ash-shirathulmustaqim dalam perbuatan dan perkataan-Nya. Jadi pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa Dia berada di atas ash-shirathul-mustaqim.

Jika ada yang mengatakan, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal-lam menyuruh kepada keadilan", berarti beliau berada di atas ash-shirathulmustaqim. Hal ini dapat kami tanggapi sebagai berikut : Inilah yang memang sebenarnya dan tidak bertentangan dengan pendapat di atas. Allah berada di atas ash-shirathul-mustaqim, begitu pula Rasul-Nya. Beliau tidak menyuruh dan tidak berbuat kecuali menurut ketentuan dari Allah. Berdasarkan pengertian inilah perumpamaan dibuat untuk menggambarkan pemimpin orang-orang kafir, yaitu berhala yang bisu, yang tidak mampu berbuat apa pun untuk menunjukkan kepada hidayah dan kebaikan. Sedangkan pemimpin orang-orang yang baik, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh kepada keadilan, yang berarti beliau berada di atas ash-shirathul-mustaqim.

Karena orang yang mencari ash-shirathul-mustaqim masih mencari sesuatu yang lain, maka banyak orang yang justru menyimpang dari jalan lurus itu. Karena jiwa manusia diciptakan dalam keadaan takut jika sendirian dan lebih suka mempunyai teman karib, maka Allah juga mengingatkan tentang teman karib saat melewati jalan ini. Orang-orang yang layak dijadikan teman karib adalah para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Mereka inilah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Dengan begitu rasa takut dari gangguan orang-orang di sekitarnya karena dia sendirian saat meniti jalan, menjadi sirna. Dia tidak risau karena harus berbeda dengan orang-orang yang menyimpang dari jalan tersebut. Mereka adalah golongan minoritas dari segi kualitas, sekalipun mereka merupakan golongan mayoritas dari segi kuantitas, seperti yang dikatakan sebagian salaf, "Ikutilah jalan kebenaran dan jangan takut karena minimnya orang-orang yang mengikuti jalan ini. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang-orang yang mengikutinya." Jika engkau meniti jalan kebenaran, teguhkan hatimu dan tegarkan langkah kakimu, jangan menoleh ke arah mereka sekalipun mereka memanggil-manggilmu, karena jika sekali saja engkau menoleh, tentu mereka akan menghambat perjalananmu.

Karena memohon petunjuk jalan yang lurus merupakan permohonan yang paling tinggi nilainya, maka Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya bagaimana cara berdoa kepada-Nya dan memerintahkan agar mereka mengawalinya dengan pujian dan pengagungan kepada-Nya, kemudian menyebutkan ibadah dan pengesaan-Nya. Jadi ada 2 (dua) macam tawassul dalam doa :
  1. Tawassul dengan asma' dan sifat-sifat-Nya serta memuji-Nya.
  2. Tawassul dengan beribadah dan mengesakan-Nya.
Surat Al-Fatihah juga memadukan dua tawassul ini. Setelah dua tawassul ini digunakan, bisa disusul dengan permohonan yang paling penting, yaitu hidayah. Siapa pun yang berdoa dengan cara ini, maka doanya layak dikabulkan.


[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in" (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit : Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(1) AL-FATIHAH YANG MENCAKUP BERBAGAI TUNTUTAN

Mengingat kesempurnaan manusia itu hanya tercapai dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih seperti yang terkandung di dalam surat Al-Ashr, maka Allah bersumpah bahwa setiap orang akan merugi, kecuali siapa yang mampu menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan iman dan kekuatan amaliahnya dengan amal shalih serta menyempurnakan kekuatan selainnya dengan nasihat kepada kebenaran dan kesabaran menghadapinya. Yang paling penting adalah iman dan amal, yang tidak bisa berkembang kecuali dengan sabar dan nasihat.

Selayaknya bagi manusia untuk meluangkan sedikit waktunya, agar dia mendapatkan tuntutan yang bernilai tinggi dan membebaskan dirinya dari kerugian. Caranya ialah dengan memahami Al-Qur'an dan mengeluarkan kandungannya. Karena hanya inilah yang bisa mencukupi kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat serta yang bisa menghantarkan mereka ke jalan lurus.

Berkat pertolongan Allah, kami bisa menjabarkan makna Al-Fatihah, menjelaskan berbagai macam isi yang terkandung di dalam surat ini, berupa berbagai macam tuntutan, bantahan terhadap golongan-golongan yang sesat dan ahli bid'ah, etape orang-orang yang berjalan kepada Allah, kedudukan orang-orang yang berilmu, perbedaan antara sarana dan tujuan. Tidak ada sesuatu pun yang bisa mewakili kedudukan surat Al-Fatihah ini. Karena itu Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil maupun Zabur, yang menyerupai Al-Fatihah.

Surat Al-Fatihah mencakup berbagai macam induk tuntutan yang tinggi. Ia mencakup pengenalan terhadap sesembahan yang memiliki 3 (tiga) nama, yaitu
Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman. 3 (tiga) asma ini merupakan rujukan Asma'ul-Husna dan sifat-sifat yang tinggi serta menjadi porosnya. Surat Al-Fatihah menjelaskan Ilahiyah, Rububiyah dan Rahmah. Iyyaka na'budu merupakan bangunan di atas Ilahiyah, Iyyaka nasta'in di atas Rububiyah, dan mengharapkan petunjuk kepada jalan yang lurus merupakan sifat rahmat. Al-Hamdu mencakup 3 (tiga) hal : Yang terpuji dalam Ilahiyah-Nya, yang terpuji dalam Rububiyah-Nya dan yang terpuji dalam rahmat-Nya.

Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan hari pembalasan, pembalasan amal hamba, yang baik dan yang buruk, keesaan Allah dalam hukum, yang berlaku untuk semua makhluk, hikmah-Nya yang adil, yang semua ini terkandung dalam
maliki yaumiddin.

Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan nubuwah, yang bisa dilihat dari beberapa segi :
  1. Keberadaan Allah sebagai Rabbul'alamin. Dengan kata lain, tidak layak bagi Allah untuk membiarkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan sia-sia dan telantar, tidak memperkenalkan apa yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, serta apa yang mendatangkan mudharat di dunia dan di akhirat.
  2. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Allah, yang berarti disembah dan dipertuhankan. Hamba tidak mempunyai cara untuk bisa mengenal sesembahannya kecuali lewat para rasul.
  3. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Ar-Rahman. Rahmat Allah mencegah-Nya untuk menelantarkan hamba-Nya dan tidak memperkenalkan kesempurnaan yang harus mereka cari. Dzat yang diberi asma Ar-Rahman tentu memiliki tanggung jawab untuk mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Tanggung jawab ini lebih besar daripada tanggung jawab untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman dan mengeluarkan biji-bijian. Konsekuensi rahmat untuk menghidupkan hati dan ruh, lebih besar daripada konsekuensi menghidupkan badan.
  4. Bisa disimpulkan dari penyebutan yaumiddin, yaitu hari di mana Allah akan memberikan pembalasan terhadap amal hamba. Dia memberikan pahala kepada mereka atas kebaikan, dan menyiksa mereka atas keburukan dan kedurhakaan. Tentu saja Allah tidak akan menyiksa seseorang sebelum ditegakkan hujjah atas dirinya. Hujjah ini tegak lewat para rasul dan kitab-kitab-Nya.
  5. Bisa disimpulkan dari iyyaka na'budu. Beribadah kepada Allah tidak boleh dilakukan kecuali dengan cara yang diridhai dan dicintai-Nya. Beribadah kepada-Nya berarti bersyukur, mencintai dan takut kepada-Nya, berdasarkan fitrah, sejalan dengan akal yang sehat. Cara beribadah ini tidak bisa diketahui kecuali lewat para rasul dan berdasarkan penjelasan mereka.
  6. Bisa disimpulkan dari ihdinash-shirathal-mustaqim. Hidayah adalah keterangan dan bukti, kemudian berupa taufik dan ilham. Bukti dan keterangan tidak diakui kecuali yang datang dari para rasul. Jika ada bukti dan keterangan serta pengakuan, tentu akan ada hidayah dan taufik, iman tumbuh di dalam hati, dicintai dan berpengaruh di dalamnya. Hidayah dan taufik berdiri sendiri, yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan bukti dan keterangan. Keduanya mencakup pengakuan kebenaran yang belum kita ketahui, baik secara rinci maupun global.
  7. Dari sini dapat diketahui keterpaksaan hamba untuk memanjatkan permohonan ini jika dia dalam keadaan terdesak, serta menunjukkan kebatilan orang yang berkata, "Jika kita sudah mendapat petunjuk, lalu untuk apa kita memohon hidayah ?" Kebenaran yang belum kita ketahui jauh lebih banyak dari yang sudah diketahui. Apa yang tidak ingin kita kerjakan karena menganggapnya remeh atau malas, sebenarnya serupa dengan apa yang kita inginkan atau bahkan lebih banyak. Sementara kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Siapa yang menganggap hal-hal ini sudah sempurna di dalam dirinya, maka permohonan hidayah ini merupakan permohonan yang bersifat peneguhan dan berkesinambungan. Memohon hidayah mencakup permohonan untuk mendapatkan segala kebaikan dan keselamatan dari kejahatan. Dengan cara mengetahui apa yang diminta, yaitu jalan yang lurus. Tapi jalan itu tidak bisa disebut jalan kecuali jika mencakup lima hal : Lurus, menghantarkan ke tujuan, dekat, cukup untuk dilalui dan merupakan satu-satunya jalan yang menghantarkan ke tujuan. Satu cirinya yang lurus, karena garis lurus merupakan jarak yang paling dekat di antara 2 (dua) titik, sehingga ada jaminan untuk menghantarkan ke tujuan.
  8. Bisa disimpulkan dari orang-orang yang diberi nikmat dan perbedaan mereka dari golongan yang mendapat murka dan golongan yang sesat. Ditilik dari pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, maka manusia bisa dibagi menjadi 3 (tiga) golongan ini (golongan yang diberi nikmat, yang mendapat murka dan yang sesat). Hamba ada yang mengetahui kebenaran dan ada yang tidak mengetahuinya. Yang mengetahui kebenaran ada yang mengamalkan kewajibannya dan ada yang menentangnya. Inilah macam-macam orang mukallaf. Orang yang mengetahuikebenaran dan mengamalkannya adalah orang yang mendapat rahmat, dialah yang mensucikan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, dan dialah yang beruntung. Orang yang mengetahui kebenaran namun mengikuti hawa nafsunya, maka dia adalah orang yang mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran adalah orang yang sesat. Orang yang mendapat murka adalah orang yang tersesat dari hidayah amal. Orang yang tersesat mendapat murka karena kesesatannya dari ilmu yang harus diketahuinya dan amal yang harus dikerjakannya. Masing-masing di antara keduanya sesat dan mendapat murka. Tapi orang yang tidak beramal berdasarkan kebenaran setelah dia mengetahui kebenaran itu, jauh lebih layak mendapat murka. Karena itu orang-orang Yahudi lebih layak mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran lebih pas disebut orang yang sesat, dan inilah sifat yang layak diberikan kepada orang-orang Nashara, sebagaimana firman-Nya :
  9. قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
    "Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus'." (QS. Al-Maidah : 77)
Penggal pertama tertuju kepada orang-orang Yahudi dan penggal kedua tertuju kepada orang-orang Nashara. Di dalam riwayat At-Tirmidzy dan Shahih Ibnu Hibban, dari hadits Ady bin Hatim, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang mendapat murka dan orang-orang Nashara adalah orang-orang yang sesat." Nikmat dikaitkan secara jelas kepada Allah.

Sedangkan pelaku kemurkaan disamarkan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pertimbangan :
  1. Nikmat itu merupakan gambaran kebaikan dan karunia, sedangkan kemurkaan berasal dari pintu pembalasan dan keadilan. Sementara rahmat mengalahkan kemurkaan.Tentang pengkhususan nikmat yang diberikan kepada orang-orang yang mengikuti jalan lurus, maka itu adalah nikmat yang mutlak dan yang mendatangkan keberuntungan yang abadi. Sedangkan nikmat itu secara tak terbatas diberikan kepada orang Mukmin dan juga orang kafir. Jadi setiap makhluk ada dalam nikmat-Nya. Di sinilah letak rincian perselisihan tentang pertanyaan, "Apakah Allah memberikan kepada orang kafir ataukah tidak ?" Nikmat yang tak terbatas hanya bagi orang yang beriman, dan ketidakterbatasan nikmat itu bagi orang Mukmin dan juga bagi orang kafir. Inilah makna firman-Nya :
  2. وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
    "Dan, jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Ibrahim : 34).
  3. Allahlah satu-satunya yang memberikan nikmat, sebagaimana firman-Nya :
  4. وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
    "Dan, apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allahlah (datangnya)." (QS. An-Nahl : 53).
    Sedangkan kemurkaan kepada musuh-musuh-Nya, maka bukan Allah saja yang murka, tapi para malaikat, nabi, rasul dan para wali-Nya juga murka kepada musuh-musuh Allah.
  5. Ditiadakannya pelaku kemurkaan menunjukkan keremehan orang yang mendapat murka dan kehinaan keadaannya. Hal ini berbeda dengan disebutkannya pemberi nikmat, yang menunjukkan kemuliaan orang yang mendapat nikmat.
Perhatikanlah secara seksama rahasia penyebutan sebab dan balasan bagi 3 (tiga) golongan ini dengan lafazh yang ringkas. Pemberian nikmat kepada mereka mencakup nikmat hidayah, berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih atau petunjuk dan agama yang benar, di samping kesempurnaan nikmat pahala. Lafazh an'amta 'alaihim mencakup 2 (dua) perkara ini.

Penyebutan murka Allah terhadap orang-orang yang dimurkai, juga mencakup 2 (dua) perkara :
  • Pembalasan dengan disertai kemurkaan, yang berarti ada siksa dan pelecehan.
  • Sebab yang membuat mereka mendapat murka-Nya.
Allah terlalu pengasih untuk murka tanpa ada kejahatan dan kesesatan yang dilakukan manusia. Seakan-akan murka Allah itu memang layak diberikan kepada mereka karena kesesatan mereka. Penyebutan orang-orang yang sesat juga mengharuskan murka Allah dan siksa-Nya terhadap mereka. Dengan kata lain, siapa yang sesat layak mendapat siksa, sebagai konsekuensi dari kesesatannya.

Perhatikanlah kontradiksi antara hidayah dan nikmat dengan murka dan kesesatan. Allah menyebutkan orang-orang yang mendapat murka dan yang sesat pada sisi yang berseberangan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk dan mendapat nikmat.

Yang pertama seperti firman Allah :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
"Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit". (QS. Thaha : 124).

Yang kedua seperti firman Allah :

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Baqarah : 5).

[Berikutnya....(2) Ash-Shirathul-Mustaqim]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in" (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit : Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
Setiap jalan menuju kebajikan, kebahagian memang terkadang tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya. Penuh dengan duri, penuh dengan ujian serta terkadang menyakitkan hati. Dalam kehidupan saat ini yang didalamnya banyak terdapat hal-hal yang merupakan ujian / cobaan dari Allah SWT. itu datang kepada kita silih berganti. Tinggal kita sebagai hamba menyikapi seluruh ujian / cobaan yang datang tersebut. Reaksi kita atas ujian / cobaan dari Allah SWT. untuk tiap-tiap pribadi adalah berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagai seorang hamba Allah yang beriman tentu akan menjadi sangat penting mengetahui kiat dalam menghadapi ujian / cobaan tersebut.

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai ujian / cobaan. Ujian / cobaan dari Allah SWT. dapat berupa kesusahan maupun kesenangan, dan sebagai sunnatullah hal ini berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun yang tidak beriman (kafir). Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya’ : 35)

Ibnu Katsir –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “
Makna ayat ini yaitu : Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342, Cet Daru Thayyibah)

Dikarenakan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka ujian / cobaan baik itu terutama kesusahan yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh / stres, apalagi berputus asa. Demikian pula apabila diberi ujian / cobaan berupa kesenangan tidak membuat dirinya menjadi lupa diri. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah Ta’ala sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dengan keyakinannya ini Allah Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorg) kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At Taghaabun : 11)

Ibnu Katsir mengatakan, “
Makna ayat ini: seseorg yang ditimpa musibah / cobaan dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya & menggantikan musibah / cobaan dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/137)

Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi ujian / cobaan yang menimpanya. Meskipun Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa ujian / cobaan itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang yang tidak beriman (kafir), akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang tidak beriman (kafir), yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala dalam mengahadapi ujian / cobaan tersebut. Tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya ujian / cobaan tersebut bagi seorang mukmin.

Tetaplah berprasangka baik kepada Allah SWT. Yakinlah bahwa Allah tetap menyayangi kita, walaupun kita berada di tengah-tengah keterpurukan hidup dunia ini. Yakinlah bahwa Allah akan memuliakan hamba-Nya yang
SABAR, IKHLAS serta TAWADHU' dalam menghadapi segala ujian / cobaan yang diberikan. Allah tidak pernah meninggalkan kita, kala kita membutuhkan-Nya. Yang diperlukan saat ini adalah TAWAKAL selalu atas segala sesuatu yang telah menjadi suratan baik itu berupa kenikmatan maupun ujian serta cobaan hidup. Saat kita mendapat kenikmatan hidup jangan lupa kita bersyukur kepada-Nya, saat ujian / cobaan yang berupa kesusahan hidup mendera jangan lupa juga untuk berserah / mendekatkan diri kepada-Nya. Isilah waktu hidup kita dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Hanya dengan itulah kita akan selamat dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Selalu memaafkan terhadap sesama kita adalah salah satu cara untuk dekat kepada-Nya karena sesungguhnya Allah adalah Maha Pemaaf. Jangan pernah merasa lelah lalu berputus asa dalam mencoba dan belajar dalam menjalani kehidupan ini, karena sesungguhnya Allah adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Dan perlu diingat sebagaimana firman Allah :
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut : 64)

Sebagai hamba Allah yang beriman, kita harus menyakini dengan kesungguhan hati bahwa apa yang dianugerahkan Allah SWT. (dalam bentuk apapun), itulah yang terbaik untuk kita.
Allahul musta'aan wa 'alaihit tuklaan (ALLAH sajalah tempat kami mohon pertolongan, dan hanya kepada-Mu kami bertawakal.)
Dalam Al-Qur'an surat al-Zalzalah ayat 7 - 8, Allah SWT. berfirman, "Barang-siapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya pula."

Dari ayat di atas, dapat kita ambil hikmah, betapa Allah SWT. telah mengajarkan kepada manusia agar bersikap peka meski terhadap hal yang teramat kecil sekalipun. Kepekaan memang sudah selayaknya terasah dalam setiap gerak langkah hidup kita. Sudah saatnya kita memperhatikan, jangan-jangan sikap, perilaku, tindakan, atau kata-kata kita menzalimi orang lain.

Saudaraku, dalam hal berasaha pun demikian. Kita harus menghindarkan kezaliman dan menempatkan perilaku adil di dalamnya. Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Lawan dari adil adalah dzalim. Dengan kata lain, bisnis yang adil adalah bisnis yang bebas dari kedzaliman terhadap siapa pun. Dengan bersikap adil, maka tak akan ada yang merasa teraniaya. Karyawan, pelanggan, atasan, pemilik perusahaan, konsumen atau siapa saja, nikmat-nikmat saja. Setiap orang akan merasa aman karena tak ada haknya yang terambil, tak ada yang sakit hati, tak ada yang merasa dicuri, didzalimi, diperdaya, tak ada kebencian, dan kedendaman. Sungguh akan menciptakan susana kerja yang tenteram, nyaman, dan membahagiakan.

Kerusakan sebuah tatanan disebabkan oleh ketidakadilan. Semakin banyak yang teraniaya dan semakin merajalela kedzaliman, maka akan tumbuh kebencian dan permusuhan. Hal ini akan merusak suasana kerja, terjadinya pemogokan dan pengrusakan perusahaannya sendiri. Kinerja pun akan sangat memburuk karena orang bekerja dengan hati yang sakit dan tak rela. Lalu, prestasi apa yang bisa dicapai dalam suasana seperti ini.

Ketidakadilan memang sepertinya "menguntungkan", tetapi hanya untuk jangka pendek dan haram nilainya di sisi Allah, serta jelas menimbulkan kerugian dunia dan akhirat.

Orang yang tidak adil akan banyak musuhnya dan nasib buruk serta sial akan selalu mengintainya. Dia akan dibenci, dikutuk dan selalu dinantikan kehancurannya. Sungguh mengerikan menjadi makhluk yang dibenci seperti ini.

Lalu bagaimana agar kita bisa bersikap adil ? Langkah awalnya adalah tekad untuk selalu adil dan hidup terhormat, tanpa mau ternodai setitik pun oleh kedzaliman. Untuk mencapai keadilan perlu standar yang tepat dan benar, dan semua itu tersirat dalam Al-Qur'an dan sunah. Lalu, hal tersebut dirumuskan bersama aturan tambahan yang lengkap, jelas, jujur, dan berpihak kepada tegaknya keadilan. Kemudian, disosialisasikan dengan baik dan optimal serta selalu disempurnakan sehingga menjadi kesepakatan bersama yang dirasakan keadilannya dan bisa menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban dengan proporsional dan konsekuen.

Demi Allah ! Jangan sekali-kali bersiasat dengan memanfaatkan kebodohan dan keluguan pihak lain, dengan membuat aturan yang jahat, licik, tersembunyi, dan dikamuflase oleh keadilan.

Keadilan harus konsisten dan konsekuen ditegakkan terhadap siapa pun tanpa pandang bulu. Untuk mencapai keadilan membutuhkan proses, persis seperti di pengadilan. Setiap pihak harus diberi hak yang sama dalam memberikan argumentasinya, dicari titik temu berdasarkan aturan yang disepakati, dan dipimpin oleh orang yang adil guna mencari solusi terbaik.

Keadilan juga akan membuat bisnis terasa tenteram dan nyaman. Keadilan membuat rezeki kita halal, berkah, dan bersih dari hak-hak orang lain. Keadilan tak akan menimbulkan kecemburuan sosial, bahkan akan mewujudkan kasih sayang.

Namun harus diingat, keadilan bukan sama rata dan sama rasa. Keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang tepat. Setiap orang harus menilai dan memahami dirinya serta kemampuannya dengan tepat, agar dalam menuntut dan mendapatkan haknya sesuai dengan apa yang dilakukan dan apa yang didapatkannya dengan sadar dan proporsional. Juga dalam menilai orang lain, tak boleh hanya dari kacamatanya sendiri. Misalnya, atasan menilai karyawan hanya dari kacamatanya saja. Insya Allah, adil itu indah dan lebih dekat dengan taqwa.

Semoga Allah melindungi kita dari perilaku mengabaikan hal-hal yang tampak sepele. Mudah-mudahan kita dapat mengikuti teladan Rasulullah SAW., yang selalu memperhatikan hal-hal yang tampak kecil yang menyebabkan beliau menjadi pribadi besar sepanjang zaman. Wallahua'lam.***

[Ditulis Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR, pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid-Bandung, serta disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi hari Kamis (Wage) 1 April 2010 pada kolom "CIKARAKCAK"]