Setiap orang pasti mengharapkan jalan keselamatan. Namun, tidak setiap orang tahu dan benar dalam memilih jalan keselamatan. Ibarat tikus yang masuk dalam perangkap, karena melihat ada makanan di sana. Bukan selamat yang ia dapat, tetapi binasa. Tidak sedikit manusia yang berperilaku seperti demikian.

Dalam memilih jalan keselamatan, kita tidak diperkenankan memilih jalan sebagaimana disebutkan dalam surat
Al-Fatihah ayat 7. Allah SWT. berfirman,
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
"...Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

Kata
maghdhub berasal dari asal kata ghadaba yang artinya marah. Berarti, maghdhub mengandung arti yang dimarahi atau dimurkai. Bila dinisbatkan kepada manusia, maghdhub bisa diartikan amarah, yang biasanya lahir dari emosi. Akan tetapi, jika dinisbatkan kepada Allah, walau diartikan amarah atau murka, tetapi jangan digambarkan seperti marahnya manusia. Lebih tepat bermakna ancaman sanksi atau siksaan, yang puncaknya membuat manusia masuk neraka.

Muhammad Rasyid Ridha
dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maghdhub itu ialah mereka yang keluar dari haq setelah mengetahuinya. Atau dengan kata lain, mereka mengenal kebenaran tetapi enggan mengikutinya.

Dalam satu hadits, Nabi SAW. menjelaskan bahwa mereka yang
maghdhub itu adalah orang Yahudi, karena memang mereka yakin akan kenabian Muhammad dan telah mengenal sifat-sifatnya sebagaimana tercantum dalam kitabnya. Akan tetapi, mereka enggan mengikuti Muhammad sekaligus tidak mengakui kenabiannya, atas dasar iri hati yang tertanam dalam jiwa mereka. Sebab, semula mereka mengharapkan nabi akhir zaman itu dari kalangan Yahudi (bani Israil).

Kenapa Yahudi dikategorikan golongan
maghdhub ? Sebab, banyak pelanggaran yang dilakukan kalangan Yahudi, sehingga mereka mendapat murka Allah SWT.

Yang termasuk
maghdhub itu bukan hanya orang Yahudi, tetapi berlaku juga kepada mereka yang berperilaku seperti halnya orang Yahudi, atau yang membuat pelanggaran-pelanggaran lain yang tidak dibenarkan oleh agama.

Dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang menerangkan tentang mereka yang mendapat murka Allah, di antaranya sebagai berikut.
  1. Orang yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja tanpa alasan yang benar.
    وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
    "Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahanam yang ia akan kekal padanya dan Allah murka atasnya, dan Allah laknat dia dan Allah sediakan baginya siksa yang besar." (QS. An-Nisa : 93)
  2. Orang yang berprasangka buruk kepada Allah serta meragukan kehadiran bantuan-Nya.
    وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
    "Dan Allah mengazab orang munafik dan munafikat serta orang musyrikin dan musyrikat, yang menyangka jelek terhadap Allah. Atas merekalah beredar kejelekan, dan Allah murka atas mereka dan Allah kutuk mereka, dan Allah sediakan bagi mereka jahanam sejelek-jeleknya tempat kembali." (QS. Al-Fath : 6)
  3. Orang yang memilih kekufuran sebagai ganti keimanan yaitu orang yang lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat.
    مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
    ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
    "Barangsiapa yang kufur kepada Allah sesudah beriman, kecuali orang yang dipaksa ’sedangkan hatinya tetap dalam keimanan. Akan tetapi, barangsiapa terbuka hatinya dengan kekufuran’ maka atas merekalah kemarahan dari Allah dan bagi merekalah azab yang besar. Yang demikian itu, lantaran mereka suka kepada kehidupan dunia lebih daripada akhirat, dan sesungguhnya Allah tidak memberikan hidayah kepada kaum kafir." (QS. An-Nahl : 106-107)
  4. Orang yang lari dari peperangan (perjuangan) membela kebenaran.
    وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
    "Dan barangsiapa yang berpaling kepada mereka di hari itu, kecuali karena mau mengatur (cara) peperangan atau karena mau bersatu dengan satu golongan, maka sesungguhnya ia kembali dengan kemarahan dari Allah dan tempatnya di neraka, dan neraka itu sejelek-jeleknya tempat kembali." (QS. Al-Anfal : 16)
  5. Perzinahan yang dilakukan seorang wanita yang sedang terikat perkawinan tanpa bertobat.
    وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ
    "dan (sumpah) yang kelima: bahwa la'nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar." (QS. An-Nur : 9)
Walaupun demikian, bukan berarti yang tidak termasuk dalam keterangan di atas, lantas tidak termasuk kategori maghdhub. Pada hakikatnya, yang termasuk maghdhub adalah setiap bentuk pelanggaran terhadap aturan agama. Seperti halnya orang munafik yang menyatakan keislaman dengan lisannya, tetapi berpegang terhadap kekufuran di hati dan jiwanya, sehingga ajaran agama bukan untuk dilaksanakan, tetapi cukup diucapkan saja.

Walhasil, semua bentuk pelanggaran atau kejahatan akan membuat murka Allah, kecuali jika segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar.***


[Ditulis Oleh
KH. ACENG ZAKARIA, Ketua Bidang Tarbiyyah PP Persis dan Pimpinan Pondok Pesantren Persis 99 Rancabango Garut. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 28 Oktober 2010 pada Kolom "CIKARACAK"]


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Lewat sebuah pemikiran yang sederhana "Sebagai salah satu ikhtiar atau usaha untuk dapat mengenalkan diri pada pergaulan dunia maya ini maka melalui sarana saling berkunjung (blogwalking) dan bertukar link (link x-change) lalu juga dapat dijadikan salah satu upaya mengangkat derajat blog ini atau mengoptimasi blog di mata search engine." maka halaman ini saya tampilkan pada blog ini.

Walaupun
blog ini masih seusia jagung dan memiliki PR / page rank rendah.
PR Check
Namun saya memberanikan diri untuk mengajak untuk saling bertukar link (link x-change) disaat kita saling berkunjung (blogwalking).

Sebagaimana yang tersebut sebagai strategi SEO yang merupakan upaya mengangkat derajat blog pada search engine, yaitu saling berkunjung (blogwalking) dan bertukar link (link x-change) sesama blogger ini diyakini selain untuk menambah backlink yang bagus serta sehat untuk SEO, dan bisa juga disebut dengan saling berbagi free backlink, yang dapat meningkatkan PR / page rank (katanya he..he..he..), yang terpenting kita dapat menjalin serta mempererat tali silahturahmi antar blogger.

Secara umum buat bertukar link (
link x-change) dengan blog ini :
    Blog tentang apa saja dengan status apapun serta berapapun PR-nya boleh dan bisa bertukar link (link x-change), yang terpenting blog tersebut tidak mengusung thema PORNOGRAFI, SENTIMEN SUKU / AGAMA / RAS (SARA). Serta menjunjung tinggi Integritas Moral.
Buat teman-teman yang bersedia atau ingin bertukar link (link x-change) dengan blog ini, silahkan pasang kode blog ini di tempat / blog anda. Kalau sudah pasang kodenya lalu tinggalkan komentar pada halaman ini (biar saya tau).
Dan supaya rapi, saya sarankan untuk data tempat / blog anda agar dibuat dengan format sebagai berikut :

Nama Blog :.....................

Url :.....................

Insya Allah sesaat kemudian, kode link tempat / blog anda akan saya tempatkan di HOME PAGE (halaman utama) blog ini =>pada bagian bLOG Roll<=.

Dan khusus buat banner blog akan saya pasang atau tempatkan di
halaman ini (hal ini dimaksudkan agar tidak memperlambat proses loading blog ini, maaf teman.)

Apa itu
google panda? Yang katanya tidak friendly dengan strategi SEO seperti ini. Yang penting kita bisa saling berbagi free backlink untuk mengoptimasi blog disamping untuk mempererat tali silahturahmi blogger.


Berikut ini adalah sebagian dari sahabat yang telah berkontribusi bagi
blog ini dengan kesediaannya untuk berbagi banner...............

My Friend Banners
Semoga dengan saling berkunjung (blogwalking) dan bertukar link (link x-change) ini memberikan manfaat kebaikan serta kebahagiaan bagi kita semua.....

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

by

u-must-b-lucky

Sebagai tanda hormat kepada Tuan Rumah, Allah SWT., setiap tamu yang datang ke Kota Mekah Al-Mukaramah harus melakukan tawaf qudum. Caranya, jemaah datang ke Masjidilharam, kemudian mengelilingi Kabah sebanyak tujuh putaran. Setelah melakukan beberapa kegiatan sunah, jemaah kemudian mengakhirinya dengan melakukan sai, yaitu berlari-lari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Sai dimulai dari Bukit Safa dan diakhiri di Bukit Marwah.

Melakukan sai merupakan ibadah peninggalan Siti Hajar. Saat istri Nabi Ibrahim AS. ini melahirkan seorang bayi yang diberi nama Ismail, suaminya mendapatkan wahyu dari Allah SWT. agar mengajak istri dan anaknya ke suatu lembah yang bergunung batu di tengah padang pasir. Hanya karena keimanan yang kuat, Siti Hajar menerima apa pun keputusan suami yang berasal dari Tuhannya.

Maka, berangkatlah mereka bertiga ke lembah yang gersang itu. Setelah sampai di lembah yang dimaksudkan, Ibrahim memegang kendali onta dan pergi meninggalkan istri dan anaknya yang masih merah. Dengan wajah murung tanpa sepatah kata pun ia melangkah. Mengetahui Ibrahim akan meninggalkannya, Siti Hajar mengejar suaminya.

Sembari memegang kendali onta yang dipegang Ibrahim, Siti Hajar bertanya, "Wahai suamiku, hendak ke manakah engkau ? Apakah akan meninggalkan aku dan anakmu ?" Ibrahim seperti tidak bisa berkata sepatah pun. Sembari menunduk ia hanya mengatakan, "Ini perintah Allah."

Kalau saja Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di tengah padang yang tandus karena menuruti hawa nafsu, Siti Hajar akan memberontaknya. Namun karena ini perintah Tuhan, ia pun rela melepas suaminya kembali ke tempat istri tuanya, Siti Sarah. Ia melepas kepergian suaminya dengan tatapan mata kosong.

Siti Hajar kembali tersadar setelah mendengar anaknya, Ismail, menangis. Hajar ingin memberi Ismail minum. Namun, ia justru semakin bingung karena kedatangannya ke lembah ini tidak dilengkapi perbekalan yang cukup. Siti Hajar berupaya mencari air ke sana ke mari, tetapi tidak menemukannya.

Dari kejauhan ia melihat gundukan tanah seperti ada air, maka ia menuju ke bukit itu yang kemudian diketahui bernama Bukit Safa. Namun, air tersebut tidak ditemukan. Dari Bukit Safa, Siti Hajar melihat air di gundukan tanah yang jauhnya sekitar 500 meter di depan. Maka, Siti Hajar pun berlari-lari dengan panik ke arah Bukit Marwah. Di tempat ini, Hajar juga tak menemukan air. Maka, Siti Hajar bolak-balik dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali, tetapi tidak menemukan juga air yang diinginkan.

Setelah nyaris putus asa, Siti Hajar kembali menuju tempat anaknya, Ismail. Melalui gerakan kaki Ismail, Siti Hajar mengetahui tanah yang diinjak anaknya mengandung air. Maka, ibu muda ini segera meng-aduk tanah tersebut. Luar biasa, air pun memancar dari dalam tanah. Bahkan, pancuran air ini masih ada sampai saat ini yang bisa diminum jutaan umat dan tidak kunjung kering. Inilah yang disebut sumur zamzam.

Kisah Siti Hajar dalam kehidupan kontemporer telah menjadi teladan umat manusia. Kerja keras seorang ibu yang selalu berikhtiar mendidik dan membesarkan anaknya. Ibu yang tidak kenal putus asa, ibu yang selalu berusaha tanpa mengenal lelah, dan akhirnya berhasil.

Peristiwa Siti Hajar ini sekaligus menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kehidupan modern, di mana untuk mencapai kesuksesan seseorang harus melewati suatu krisis. Kesuksesan tidaklah datang begitu saja (taken for granted), melainkan harus diraih dengan susah payah. Baru setelah krisis terlewati, keberhasilan bisa diraih. Bahkan tingkat pencapaiannya (achievement) sama, jika yang satu diraih dengan begitu saja, sedangkan yang lain diraih dengan susah payah, maka perolehan yang diraih dengan seluruh upaya itulah yang lebih dapat dinikmati.

Ikhtiar yang dilakukan Siti Hajar itulah yang memenuhi otak kami sepanjang melaksanakan sai. Malam itu jemaah umrah yang melaksanakan sai cukup banyak. Namun membeludaknya jemaah bisa diatasi dengan melipatgandakan tempat sai dalam beberapa tingkat. Selain dibangun tempat sai di basement, juga dibangun mas’a (tempat sai) di lantai dua dan lantai tiga. Dengan demikian, semua mas’a berjumlah empat lantai.

Tempat sai tidak penuh seperti tempat tawaf. Hal ini karena tidak semua orang yang melakukan tawaf kemudian mengakhirinya dengan sai. Di Masjidilharam tidak dikenal salat Tahyatul Masjid. Penggantinya, setiap jemaah yang datang ke masjid ini menghormati masjid dengan melakukan tawaf.

Tempat tawaf hanya satu di sekitar Kabah itu. Hanya saat jemaah penuh sesak, sebagian jemaah melakukan tawaf di lantai bagian atas, bahkan ada yang di lantai dua dan lantai tiga. Tentu saja, putaran tawaf di lantai atas tersebut lebih lebar dibandingkan dengan tawaf di sekitar Kabah. Konon, sekali putaran tawaf di lantai atas setara dengan satu kilometer.

Sementara "kompetisi" ibadah di tempat sai tidak sedahsyat seperti tawaf. Hanya, jemaah di Bukit Safa banyak yang berhenti untuk berdoa. Demikian juga di Bukit Marwah, banyak jemaah yang setelah menyelesaikan sainya, mereka berdoa. Hal tersebut sesekali menghambat jemaah yang masih akan meneruskan sai. Demikian juga jemaah yang tengah melakukan tahalul, kadang sempat menghambat jemaah yang akan lewat. Namun, sebagian besar dari mereka berdiri di pojok bagian belakang sehingga tidak saling mengganggu.

Selesai melakukan sai, kami pun memotong rambut, minimal tiga helai, sebagai tanda tahalul. Sebagian jemaah segera keluar dari mas’a dan mendatangi tempat pangkas rambut. Tempat pangkas rambut cukup banyak berjejer di luar mas’a. Cara memotong rambut pun luar biasa cepat. Memotong rambut satu kepala tak lebih dari lima menit, bahkan mungkin hanya tiga menit. Hasilnya, juga luar biasa bersih

Laki-laki di mana pun biasanya suka bersolek dan berupaya tampil trendi. Namun yang tren di kalangan jemaah haji justru tampil gundul. Mereka berusaha tampil sederhana, menggunduli rambutnya dan memanjangkan jenggot. Ini pula yang menjadi modal hidup, kesederhanaan.***

[Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pahing) 26 Oktober 2010 pada Kolom "GEMA HAJI"]

Arafah, sembilan Dzulhijjah, pada separuh kedua abad pertama Hijrah. Ratusan ribu kaum muslimin berkumpul di sekitar Jabal Rahmah (bukit kasih-sayang). Segera setelah tergelincir matahari, terdengar gemuruh suara zikir dan doa. Ali bin Husain bertanya kepada Zuhri : "Berapa kira-kira orang yang wuguf di sini ?" Zuhri menjawab : "Saya perkirakan ada empat atau lima ratus ribu orang. Semuanya haji, menuju Allah dengan harta mereka dan memanggil-Nya dengan teriakan mereka." Ali bin Husain berkata : "Hai Zuhri, sedikit sekali yang haji dan banyak sekali teriakan."

Zuhri keheranan : "Semuanya itu haji, apakah itu sedikit ?" Ali menyuruh mendekatkan wajahnya kepadanya. Ia mengusap wajahnya dan menyuruhnya melihat ke sekelilingnya. Ia terkejut. Kini ia melihat monyet-monyet berkeliaran dengan menjerit-jerit. Hanya sedikit manusia di antara kerumunan monyet. Ali mengusap wajah Zuhri kedua kalinya. la menyaksikan babi-babi dan sedikit sekali manusia. Pada kali yang ketiga, ia mengamati banyaknya serigala dan sedikitnya manusia. Zuhri berkata : "Bukti-buktimu membuataku takut. Keajaibanmu membuat aku ngeri..."

Kisah diatas dikisahkan dalam Al-Hajj fi Al-Kitab wa Al-Sunnah. Berkat sentuhan orang yang saleh, Zuhri dapat melihat, walaupun sejenak, ke balik tubuh-tubuh mereka yang wuquf di Arafah. Tuhan menyingkapkan tirai material dan pandangannya menjadi sangat tajam. Ia terkejut dan kebingungan karena begitu banyaknya orang yang tampak pada mata lahir sebagai manusia, tapi pada mata batin sebagai binatang. Apakah kebanyakan kita hanyalah manusia secara majazi (kiasan) dan binatang secara hakiki ? Ibadah haji adalah perjalanan manusia untuk kembali kepada fitrah kemanusiaannya. Kehidupan telah melemparkan kita dari kemanusiaan kita. Kita telah jatuh menjadi makhluk yang lebih rendah. Alih-alih menjadi khalifah Allah, kita telah menjadi monyet, babi, dan serigala. Ketika menafsirkan firman Tuhan :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

"Sungguh, telah Kami ciptakan manusia dalam susunan yang paling baik. Kemudian, Kami mengembalikan mereka pada yang paling rendah dari yang rendah." (QS. At-Tin : 4-5)

Seyyed Hossein Nasr menulis dalam Sufi Essays : "Manusia diciptakan dalam susunan yang terbaik. Tetapi kemudian, ia jatuh pada kondisi bumi berupa perpisahan dan keterjauhan dari asal-usulnya yang ilahiah."

Dalam bahasa Jalaluddin Rumi, "Kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya, Ketika suara keluar, yang terdengar adalah jeritan pilu, dari pecahan bambu yang ingin kembali ke rumpunnya yang semula. Kita hanya akan hidup sebagai bambu yang sejati bila kita kembali ke tempat awal kita. Kita hanya akan menjadi manusia lagi, bila kita kembali kepada Allah. "

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita kembali." (QS. Al-Baqarah : 156)

Para jemaah haji adalah kafilah seruling yang ingin kembali ke rumpun abadinya. Inilah rombongan binatang yang ingin kembali menjadi manusia. Ketika sampai di Miqat, mereka harus menanggalkan segala sifat kebinatangannya. Seperti ular, mereKa harus mencampakkan kulit yang lama agar menjalani kehidupan yang baru. Baju-baju kebesaran, yang sering dipergunakan untuk mempertontonkan kepongahan, harus dilepaskan. Lambang-lambang status, yang sering dipakai untuk memperoleh perlakuan istimewa, harus dikuburkan dalam lubang bumi. Sebagai gantinya, mereka memakai kain kafan, pakaian seragam yang akan dibawanya nanti ketika kembali ke "kampung halaman."

Di Miqat, jemaah haji menanggalkan intrik-intrik monyet, kerakusan babi; dan kepongahan serigala. Mereka harus menjadi manusia lagi. Manusia ialah makhluk yang secara potensial mampu menyerap seluruh asma Allah. Di Miqat, setelah membersihkan diri dari kotoran-kotoran masa lalunya, seorang haji keluar iagi seperti anak kecil yang baru dikeluarkan dari perut ibunya. Suci dan teianjang. Perlahan-lahan ia mengenakan pakaian kesucian, kejujuran, kerendahan hati, dan pengabdian. Dengan wajah yang diarahkan ke Rumah Tuhan, dengan hati yang sudah dibersihkan dengan taubat yang tulus, ia berkata : "Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu."

Di Rumah Tuhan, para haji memperbaharui baiat mereka dengan mencium Hajar Aswad. Mereka berputar bersarna para malaikat di sekitar Arasy, menandakan keterikatan kemanusiaan mereka dengan Ketuhanan. Di Arafah, seruling-seruling itu sudah menyatu dengan rumpun bambunya. "Al-Hajju 'Arafah" (Di Arafah itulah haji). Di situlah bergabung semua manusia dalam kedalaman lautan ketunggalan Tuhan, "fi lujjati bahri ahadiyyatih" Berapa banyakkah di antara jutaan orang yang beruntung dapat berhimpun di Arafah adalah haji, manusia yang sudah kembali kepada Tuhannya ? Berapa besarkah di antara mereka yang kumpul di Arafah tahun ini yang sudah meninggalkan selama-lamanya sifat-sifat kebinatangannya dan sebagai gantinya menyerap rahman-rahimnya Allah ? Kita tidak tahu. Dahulu, ketika umat Islam masih belum mendunia, hanya sedikit yang haji. Dalam pandangan Zuhri, kebanyakan masih bertahan dalam kebinatangan mereka. Kini, kita berdoa, mudah-mudahan mereka semua menjadi haji yang mabrur. Artinya, manusia sejati yang tubuhnya menapak di bumi tapi ruhnya bergantung ke Arasy Tuhan.

Setelah berhaji, menurut Dr. Ali Syariati (Makna Haji), kemenangan jangan sampai menyebabkanmu terlena. Karena itu, bila engkau telah menaklukan Mina maka tetaplah tanganmu menggenggam senjata. Engkau harus memaksa setan keluar dari pintumu. Tetapi setan bisa kembali lewat jendela. Ia kalah 'di luar dirimu' tapi ia bisa bangkit 'di dalam dirimu.' Ia dirobohkan dalam pertempuran, tapi ia bisa memperoleh kekuatan kembali dalam perdamaian. Setan lenyap di Mina, tapi kini ia bisa subur dalam dirimu.

Apa yang saya katakan ? 'Godaan' memiliki ribuan wajah. Ia bisa saja ditolak karena tampil sebagai seorang kafir, namun ia pun akan kembaii kepadamu sebagai seorang beriman. Ia bisa saja ditolak sebagai seorang politheis, namun ia akan menampilkan diri sebagai seorang monotheis.

Nanti mereka kembali ke tanah airnya, mudah-mudahan mereka menyebarkan berkat ke sekitarnya. Ketulusan hati mereka menusuk jantung orang-orang munafik. Air Zamzam yang mereka bawa menjadi titis-titis mukjizat yang mengubah monyet yang licik menjadi manusia yang jujur. Kesucian batin mereka menghantam kepala para pecinta dunia, Air mata mereka keluar membersihkan babi-babi yang serakah dan mengubahnya menjadi manusia yang dermawan. Akhirnya, kerendahan hati mereka menghentam tirani yang memuja kekuasaan. Cahaya wajah yang sudah disinari Ka'bah mematahkan leher serigala yang pongah dan mengubahnya menjadi manusia yang penuh kearifan dan kasih sayang.

Betapa perlunya negeri ini dengan kehadiran para haji !!


[Ditulis oleh KH. JALALUDDIN RAKHMAT dan tulisan ini disalin dari Buletan "TAFAKURAN" Edisi 188 2500 22 OKTOBER 2010]
BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN


(5) RAJA'

Kaitannya dengan tempat persinggahan raja' (mengharap) ini, Allah telah befirman,

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut adzab-Nya."(QS. Al-Isra' : 57)

Mencari jalan dalam ayat ini artinya mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ubudiyah dan juga mencintai-Nya. Ada tiga sendi iman : Cinta, rasa takut dan berharap. Tentang harapan ini Allah telah menjelaskan,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya." (QS. Al-Kahfi : 110)
أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah : 218)

Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu,dia berkata, "Aku pernah mendengar
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, tiga hari sebelum wafat,
"
Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan dia berbaik sangka terhadap Rabbnya."

Juga dari Jabir disebutkan di dalam Ash-Shahih,
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah Azza wa Jalla befirman, 'Aku berada pada persangkaan hambaKu kepada-Ku. Maka hendaklah dia membuat persangkaan kepada-Ku menurut kehendaknya."

Raja' merupakan ayunan langkah yang membawa hati ke tempat Sang Kekasih, yaitu Allah dan kampung akhirat. Ada yang berpendapat, artinya kepercayaan tentang kemurahan Allah.


Perbedaan raja' (mengharap) dengan tamanny (berangan-angan), bahwa berangan-angan disertai kemalasan, pelakunya tidak pernah bersungguh-sungguh dan berusaha. Sedangkan mengharap itu disertai dengan usaha dan tawakal.
  1. Yang pertama seperti keadaan orang yang berangan-angan andaikan dia mempunyai sepetak tanah yang dapat dia tanami dan hasilnya pun dipetik.
  2. Yang kedua seperti keadaan orang yang mempunyai sepetak tanah dan dia olah dan tanami, lalu dia berharap tanamannya tumbuh.
Karena itu para ulama telah sepakat bahwa raja' tidak dianggap sah kecuali disertai usaha. Raja' itu ada tiga macam; Dua macam terpuji dan satu macam tercela, yaitu :
  1. Harapan seseorang agar dapat taat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, lalu dia mengharap pahala-Nya.
  2. Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat dan mengharap ampunan Allah, kemurahan dan kasih sayang-Nya.
  3. Orang yang melakukan kesalahan dan mengharap rahmat Allah tanpa disertai usaha. Ini sesuatu yang menipu dan harapan yang dusta.
Orang yang berjalan kepada Allah mempunyai dua pandangan :
  1. Pandangan kepada diri sendiri, aib dan kekurangan amalnya, sehingga membukakan pintu ketakutan, agar dia melihat kelapangan karunia Allah,
  2. Dan pandangan yang membukakan pintu harapan baginya. Karena itu ada yang mengatakan bahwa batasan raja' adalah keluasan rahmat Allah.
Ahmad bin Ashim pernah ditanya, "Apakah tanda raja' pada diri hamba ?" Dia menjawab, "Jika dia dikelilingi kebaikan, maka dia mendapat ilham untuk bersyukur, sambil mengharap kesempurnaan nikmat dari Allah di dunia dan di akhirat, serta mengharap kesempurnaan ampunan-Nya di akhirat."

Maka ada perbedaan pendapat, mana di antara dua macam raja' yang paling sempurna, raja'-nya orang yang berbuat baik untuk mendapatkan pahala kebaikannya, ataukah raja'-nya orang yang berbuat keburukan lalu bertaubat dan mengharapkan ampunan-Nya ?


Pengarang Manazilus-Sa'irin mengatakan, bahwa raja' merupakan tempat persinggahan dan kedudukan yang paling lemah bagi orang yang berjalan kepada Allah, karena di satu sisi raja' menggambarkan perlawanan, dan di sisi lain menggambarkan protes.

Memang kami mencintai Abu Isma'il yang mengarang Manazilus-Sa'irin. Tapi kebenaran jauh lebih kami cintai daripada cinta kami kepadanya. Siapa pun orangnya selain —Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ma'shum—, perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan. Kami berprasangka baik terhadap perkataan Abu Isma'il ini, tetapi kami akan menjabarkannya agar menjadi lebih jelas.

Perkataannya, "
Raja' merupakan tempat persinggahan dan kedudukan yang paling lemah bagi orang yang berjalan kepada Allah", hal itu jika dibandingkan dengan tempat persinggahan lain seperti ma'rifat, cinta, ikhlas, jujur, tawakal dan lain-lainnya, bukan berarti keadaannya yang lemah dan kurang. Sedangkan perkataannya, "Karena di satu sisi raja' menggambarkan perlawanan, dan di sisi lain menggambarkan protes", karena raja' merupakan kebergantungan kepada kehendak hamba agar mendapatkan pahala dan karunia dari Allah.

Padahal yang dikehendaki Allah dari hamba ialah agar hamba itu memenuhi hak Allah dan bermu'amalah dengan-Nya dengan hukum keadilan-Nya. Jika dalam mu'amalahnya dengan Allah, hamba mendasarkan kepada hukum karunia, maka hal ini termasuk bentuk perlawanan. Seakan-akan orang yang berharap menggantung hatinya kepada sesuatu yang berlawanan dengan kehendak Penguasa. Berarti hal ini menajikan hukum kepasrahan dan ketundukan kepada-Nya. Berarti raja' hamba itu berlawanan dengan hukum dan kehendak-Nya.

Orang yang mencintai ialah yang mengabaikan kehendak dirinya sendiri karena mementingkan kehendak kekasihnya. Sedangkan dari sisi yang menggambarkan protes, karena jika hati bergantung kepada raja', lalu tidak mendapatkan apa yang diharapkan, maka ia akan protes. Kalau pun hati mendapatkan apa yang diharapkan, ia tetap protes, karena apa yang didapatkan tidak tepat dengan apa yang diharapkan. Toh setiap orang tentu mengharap karunia Allah dan di dalam hatinya pasti melintas harapan ini. Ada sisi lain dari protes ini, yaitu dia protes kepada Allah karena apa yang diharapkannya itu. Sebab orang yang berharap tentu mengangan-angankan apa yang diharapkannya dan dia terpengaruh olehnya. Yang demikian ini berarti merupakan protes terhadap takdir dan menajikan kesempurnaan kepasrahan dan ridha kepada takdir.


Inilah yang dikatakan
Abu Isma'il di dalam Manazilus-Sa'irin beserta interpretasinya yang paling baik. Hal ini dapat ditanggapi sebagai berikut, bahwa apa yang dikatakan itu dan sejenisnya merupakan ketergelinciran yang diharapkan diampuni karena kebaikan beliau yang banyak, ia memiliki kejujuran yang sempurna, mu'amalahnya dengan Allah benar, keikhlasannya kuat, tauhidnya murni tetapi tidak ada orang selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang terjaga dari kesalahan dan kekurangan.

Ketergelinciran ini mendatangkan fitnah terhadap golongan orang-orang yang kebaikan, kehalusan jiwa dan mu'amalahnya tidak seperti mereka. Lalu mereka pun mengingkari dan berburuk sangka terhadap golongan ini. Bualan ini juga mendatangkan cobaan terhadap orang-orang yang adil dan obyektif, yang memberikan hak kepada orang yang memang berhak dan menempatkan segala sesuatu pada proporsinya, yang tidak menghukumi sesuatu yang benar dengan yang cacat atau kebalikannya.

Mereka menerima apa yang memang diterima dan menolak apa yang memang harus ditolak. Bualan-bualan inilah yang ditolak dan diingkari para pemuka ulama dan mereka membebaskan diri dari hal-hal seperti ini serta akibat-akibat yang ditimbulkannya, seperti yang diceritakan
Abul-Qasim Al-Qusyairy, "Aku mendengar Abu Sa'id Asy-Syahham berkata, "Aku pernah bermimpi bertemu Abu Sahl Ash-Sha'luky yang sudah meninggal dunia. Aku bertanya kepadanya (dalam mimpi), "Apa yang dilakukan Allah terhadap dirimu ?" Abu Sahl menjawab, "Allah telah mengampuni dosaku karena masalah-masalah yang ditanyakan orang-orang yang lemah."

Tentang perkataan Abu Isma'il, "Raja' merupakan tempat persinggahan dan kedudukan yang paling rendah", maka ini tidak benar, bahkan ini merupakan tempat persinggahan yang agung, tinggi dan mulia. Harapan, cinta dan rasa takut merupakan inti perjalanan kepada Allah. Allah telah memuji orang-orang yang berharap dalam firman-Nya,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab : 21)

Disebutkan di dalam hadits shahih, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Allah befirman, 'Wahai anak Adam, sesungguhnya selagi kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku mengampuni dosamu, apa pun yang kamu lakukan dan Aku tidak peduli."

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Allah befirman, Aku berada pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku besertanya. Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku mengingatnya di dalam Diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam keramaian orang, maka Aku mengingatnya di dalam keramaian orangyang lebih baik dari mereka. jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku mendatanginya dengan berlari-lari kecil." (Muttafaq Alaihi)

Allah telah mengabarkan orang-orang khusus dari hamba-hamba-Nya, yang kemudian orang-orang musyrik beranggapan bahwa hamba-hamba yang khusus ini bisa mendekatkan mereka kepada Allah. Padahal hamba-hamba yang khusus itu pun masih berharap kepada Allah dan takut kepada-Nya,
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
"Katakanlah, 'Panggillah mereka yang kalian anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian dan tidak pula memindahkannya'. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharap rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (QS. Al-Isra' : 56-57)

Allah befirman, "
Orang-orang yang kalian sembah selain-Ku adalah hamba-hamba-Ku, yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan taat kepada-Ku, mengharap rahmat-Ku dan takut adzab-Ku. Lalu mengapa kalian menyembah mereka ?" Di sini Allah memuji keadaan hamba-hamba-Nya itu, yang memiliki cinta, rasa takut dan harapan.

Tentang perkataan
Abu Isma'il, "Di satu sisi raja' menggambarkan perlawanan, dan di sisi lain menggambarkan protes", juga tidak bisa dianggap benar. Sebab raja' merupakan ubudiyah dan bergantung kepada Allah, karena di antara asma'-Nya adalah Al-Muhsin Al-Barr (Yang berbuat kebaikan dan kebajikan). Beribadah dengan asma' ini dan mengetahui Allah merupakan pendorong bagi hamba untuk mengharap, entah dia menyadari atau tidak menyadarinya. Kekuatan harapan tergantung dari kekuatan ma'rifat tentang Allah, sifat dan asma'-Nya, rahmat dan murka-Nya. Andaikata tidak ada ruh harapan, tentu banyak ubudiyah hati dan anggota tubuh yang ditelantarkan, biara dan masjid dirobohkan, yang di dalamnya nama Allah banyak disebut. Bahkan andaikata tidak ada ruh harapan, tentu anggota tubuh tidak mau bergerak untuk melakukan ketaatan. Andaikata tidak ada angin harapan yang berhembus, tentu perahu amal tidak akan melaju di lautan kehendak.

Kekuatan cinta menjadi gantungan kekuatan harapan. Setiap orang yang mencintai tentu berharap dan takut. Dialah orang yang paling mengharapkan apa yang ada pada diri kekasihnya. Begitu pula rasa takutnya, dia adalah orang yang paling merasa takut andaikan dirinya dipandang sebelah mata oleh kekasihnya, andaikan dia jauh darinya. Ketakutannya merupakan ketakutan yang teramat sangat dan harapannya merupakan cermin cintanya.

Tidak ada kehidupan bagi orang yang jatuh cinta, tidak ada kenikmatan dan keberuntungan kecuali berhubungan dengan kekasihnya. Setiap cinta tentu disertai rasa takut dan harapan. Seberapa jauh cinta ini bersemayam di dalam hati orang yang mencintai, maka sejauh itu pula rasa takut dan harapannya.

Tapi ketakutan orang yang mencintai tidak disertai kekhawatiran seperti halnya orang yang berbuat keburukan. Harapan orang yang mencintai tidak disertai alasan, berbeda dengan harapan buruh atau upahan. Bagaimana mungkin harapan orang yang mencintai disamakan dengan harapan buruh, sementara perbedaan keadaan di antara keduanya amat jauh berbeda ?


Secara umum, harapan merupakan sesuatu yang amat penting bagi orang yang ber jalan kepada Allah dan orang yang memiliki ma'rifat. Sebab tentunya dia tidak lepas dari dosa yang dia harapkan pengampunannya, tak lepas dari aib yang dia harapkan pembenahannya, tidak lepas dari amal shalih yang dia harapkan penerimaannya, tidak lepas dari istiqamah yang dia harapkan kekekalannya, tidak lepas dari kedekatan dengan Allah yang dia harapkan pencapaiannya. Maka bagaimana mungkin harapan dikatakan sebagai tempat persinggahan dan kedudukan yang paling lemah ?


Harapan merupakan sebab yang dengannya hamba bisa memperoleh apa yang diharapkan dari Rabb-nya, bahkan ini merupakan sebab yang paling kuat. Sekiranya harapan itu mengandung perlawanan dan protes, tentunya doa dan permohonan lebih layak dikatakan sebagai bentuk perlawanan dan protes. Doa dan permohonan hamba kepada Rabbnya agar Dia memberikan petunjuk, taufik, jalan lurus, menolongnya agar tetap taat, menjauhkannya dari kedurhakaan, mengampuni dosa-dosanya, memasukkannya ke surga, menjauhkannya dari neraka, berarti merupakan bentuk perlawanan dan protes. Sebab hamba yang berdoa ini mengharap dan menuntut apa yang diharapkannya, berarti dia lebih layak dikatakan melawan dan memprotes.


Harapan dan doa tidak mengandung perlawanan terhadap tindakan Penguasa di dalam kekuasaan-Nya. Hamba hanya mengharap tindakan-Nya, sesuai dengan sesuatu yang paling disukainya dari dua hal, karena sesungguhnya Allah lebih menyukai karunia daripada keadilan, Allah lebih menyukai ampunan daripada dendam, Allah lebih menyukai tenggang rasa daripada penelitian secara detail, dan yang rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya. Orang yang berharap mengaitkan harapannya dengan tindakan yang paling disukai dan diridhai-Nya.


Tentang protes hamba jika tidak mendapatkan apa yang diharapkannya, maka ini merupakan kekurangan dalam ubudiyah dan kebodohan terhadap Rububiyah. Hamba yang berharap dan berdoa mengharap suatu lebihan yang sebenarnya bukan merupakan haknya dan tidak seharusnya dia meminta imbalan. Kalau memang dia diberi, maka itu semata karena karunia Allah. Jika dia tidak diberi, bukan berarti haknya tidak akan diberikan kepadanya. Maka protesnya ini merupakan cermin kebodohan.


Jadi memang tidak mendapatkan apa yang diharapkan dalam hak hamba yang lurus tidak semestinya menimbulkan perlawanan dan protes.


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
pernah menyampaikan tiga permintaan bagi umatnya kepada Allah. Dua dipenuhi dan satu ditolak. Beliau ridha terhadap apa yang diberikan Allah ini dan tidak memprotes apa yang tidak diberikan.

Menurut pengarang
Manazilus-Sa'irin, harapan itu ada tiga derajat :
  1. Harapan yang bisa membangkitkan hamba yang beramal untuk berusaha, yang melahirkan kenikmatan dalam pengabdian, dan yang membangunkan tabiat untuk meninggalkan larangan.
    Dengan kata lain, harapan ini membuatnya semakin bersemangat untuk berusaha dan mengharapkan pahala dari Rabb-nya.
    Siapa yang mengetahui kadar tuntutannya, maka dia akan menganggap remeh usaha yang telah dilakukannya.
    Melahirkan kenikmatan dalam pengabdian artinya setiap kali hatinya merasakan buah pengabdian itu dan hasilnya yang baik, maka dia menikmatinya. Yang demikian ini seperti keadaan orang yang mengharapkan keuntungan yang melimpah dalam perjalanannya, dengan membandingkan beratnya perjalanan yang harus dilaluinya.
    Setiap kali hatinya menggambarkan hal ini, maka segala kesulitan dianggap enteng dan bahkan dia menikmati kesulitan itu.
    Begitu pula keadaan orang yang mencintai secara tulus, yang berusaha mendapatkan keridhaan dan cinta kekasihnya, yang menikmati segala usaha yang dilakukannya karena menggambarkan hasil keridhaannya.
    Sedangkan tentang membangunkan tabiat untuk meninggalkan larangan, karena tabiat itu mempunyai gambaran-gambaran yang menguasai hamba, yang tidak berkenan meninggalkan gambaran-gambaran itu kecuali jika dia mendapatkan imbalan yang lebih disukainya.
    Jika ketergantungan hamba kepada imbalan yang lebih baik ini, maka tabiatnya menjadi lega. Jiwa tidak mau meninggalkan sesuatu yang dicintainya kecuali dia berikan kepada kekasih yang lebih dicintainya, atau jiwa itu akan mewaspadai sesuatu yang paling banyak mendatangkan kerusakan.
  2. Harapan orang-orang yang biasa melatih jiwa, agar mereka mencapai suatu kondisi yang dapat membersihkan hasrat, dengan menolak berbagai macam kesenangan, memperhatikan syarat-syarat ilmu dan berusaha agar terlindung dari hal-hal yang dikhawatirkan akan mendatangkan mudharat di dunia dan di akhirat.
  3. Harapan orang-orang yang dapat menguasai hati, yaitu harapan untuk bersua Khaliq yang membangkitkan kerinduannya, yang tidak menyukai kehidupan lebih lama dan yang zuhud di tengah makhluk. Ini merupakan jenis-jenis harapan yang paling baik dan paling tinggi. Ini merupakan harapan yang menjadi inti iman.
[Berikutnya....(6) Ri'ayah]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli :
Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]

Hingga kini, masih banyak orang yang menyangka bahwa karena dosanya telah bertumpuk, tidak mungkin diampuni lagi oleh Allah SWT. Oleh karena itu, jadilah ia seorang yang berputus asa terhadap ampunan, rahmat, serta kasih sayang Allah. Dunia seakan terasa sempit dan gelap menurut pandangannya.

Selama ini, ia tidak sedikit pun mengindahkan ajaran agamanya. Bahkan ia selalu menentang petunjuk yang terdapat di dalamnya. Dia telah dibingungkan oleh rasa putus asa, seolah tidak ada harapan lagi yang tampak olehnya, untuk kembali dari kesesatan dan maksiat yang selalu diperbuatnya. Seolah tidak tampak lagi olehnya jalan kebenaran dan kebaikan yang akan ditempuhnya.

Akan tetapi, Allah SWT. Maha Pengampun dan Penerima Tobat. Sebesar apa pun dosa hamba-Nya, Dia tetap mengasihi, menyantuni, dan melarangnya berputus asa terhadap rahmat dan kasih sayang-Nya. Sebagaimana firman-Nya,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. A-Zumar : 53)

Jangankan untuk orang-orang yang beriman, untuk orang-orang yang musyrik pun masih terbuka lebar-lebar pintu tobat apabila mereka benar-benar bertobat dan istikamah dalam Islam, kemudian beriman dan bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan dalam suatu hadis oleh Imam Ahmad dari Amr bin Anbasah, telah datang menemui Rasulullah SAW. seorang yang telah tua renta bertanya kepada beliau. "Wahai Rasulullah, saya telah banyak melakukan dosa, kesalahan, dan maksiat." Rasulullah SAW. berkata, "Apakah engkau telah mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah ?" Orang tua itu menjawab, "Benar, bahkan saya mengakui bahwa engkau adalah utusan Allah." Rasulullah SAW. menegaskan bahwa Allah mengampuni semua kesalahan dan maksiat yang telah dia lakukan itu.

Hadis tersebut serta hadis-hadis lainnya yang senada menegaskan, Allah mengampuni semua dosa dan kesalahan, sebesar apa pun dan sebanyak dosa dan kesalahan itu. Asalkan, seorang hamba itu benar-benar bertobat (taubatan nasuha) dengan setulus hatinya, dan berikrar tidak mengulangi lagi dosa-dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya, serta selanjutnya senantiasa melakukan amal-amal saleh.

Janganlah seorang hamba berputus asa terhadap ampunan, rahmat, serta kasih sayang Allah, karena pintu rahmat-Nya terbuka seluas-luasnya bagi orang yang mau bertobat, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya.
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa : 110)

Namun, pada ayat sebelumnya, Allah mengingatkan dengan tegas, Dia mengampuni segala dosa, kecuali dosa syirik, yaitu menyekutukan Allah bila tidak bertobat dan terus terbawa mati. Sebagaimana firman-Nya,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa : 48)

Memang sangat besar dan luas rahmat Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Hamba-Nya yang telah melampaui batas mendurhakai-Nya dengan mengabaikan perintah-Nya, melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, bergelimang dalam dosa dan maksiat, masih saja dipanggil-Nya dan dinasihati-Nya supaya jangan berputus asa terhadap ampunan dan rahmat-Nya.

Rasulullah SAW. menjelaskan, rahmat atau kasih sayang Allah SWT. itu ada seratus bagian. Ditahan oleh Allah 99 bagian sampai hari kiamat. Sementara yang satu bagian diturunkan Allah SWT. ke dunia. Dengan satu rahmat saja, kasih sayang Allah yang antara lain berupa berbagai kenikmatan hidup dapat dinikmati oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi. Bagi manusia, kenikmatan hidup itu diturunkan tanpa membedakan antara orang yang beriman dan yang tidak beriman. Bisa dibayangkan, sisa rahmat Allah yang 99 bagian, yang akan diturunkan Allah SWT. setelah hari kiamat (hari pembalasan), yang akan dianugerahkan khusus kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang taat atas segala perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana hadis berikut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA., dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda, Allah menjadikan kasih sayang terbagi menjadi seratus bagian. Yang 99 bagian ditahan-Nya (untuk diberikan kelak di surga), sedangkan yang satu bagian diturunkan-Nya ke bumi. Dengan satu bagian ini, sesama makhluk saling menyayangi, sehingga seekor kuda betina menghindarkan kakinya dari anaknya karena khawatir menginjaknya." (HR. Bukhari)

Di dalam Al-Quran dan hadis, banyak diterangkan tentang surga, baik yang menyangkut penghuninya maupun keadaan surga. Surga adalah suatu tempat di alam akhirat yang disediakan oleh Allah SWT. dengan aneka macam kesenangan dan kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah tergores dalam hati manusia. Bayangkan saja 99 bagian rahmat Allah diturunkan di surga ini, tak terbayangkan betapa kenikmatannya. Semuanya akan diberikan kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa serta suka beramal saleh, yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka kekal di dalamnya.

Jadi, kalau masih ada manusia yang tidak mengacuhkan anjuran-Nya, manusia itulah manusia jahat yang tidak diharapkan lagi daripadanya kebaikan apa pun. Manusia seperti ini pantas mendapatkan kemurkaan-Nya selama-lamanya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Wajarlah bila ia dilemparkan ke dalam neraka Jahannam, meringkuk di dalamnya selama-lamanya. Nauu’dzubillah! Wallahu’alam.

[Ditulis oleh H. EDDY SOPANDI, peserta majelis taklim di beberapa masjid, antara lain Al-Furqon UPI, Istiqamah, Viaduct, dan Salman ITB. Tulisan disali dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 22 Oktober 2010 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Jemaah calon haji (calhaj) Indonesia mulai diberangkatkan ke Tanah Suci.

Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik.


Sesungguhnya banyak pelajaran dari pelaksanaan ibadah termasuk haji terhadap pembentukan karakter seseorang. Istilahnya, ibadah amat menentukan pembentukan karakter seseorang. Bahkan, dampak tersebut sudah diteliti secara ilmiah oleh para ilmuwan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ketika lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak (TK) atau raudhatul athfal (RA) mengadakan manasik haji, sesungguhnya merupakan bagian dari pembentukan karakter anak. Sayangnya, tak jarang para guru kurang menjelaskan nilai-nilai dalam ibadah haji, sehingga anak-anak lebih mengetahui gerakan dalam haji, seperti sai dan tawaf.

Dalam beberapa pemberitaan di media massa kerap menyoroti kondisi psikis anak dan remaja dalam menghadapi perubahan saat ini. Hanya akibat hal sepele, membuat seorang anak atau remaja ingin mengakhiri hidupnya.

Anak dan remaja mudah terkena stres akibat tuntutan yang terlampau tinggi kepada mereka. Di lain pihak, mereka juga tidak mendapatkan keteladanan dari orang tua, guru, maupun tokoh-tokoh di masyarakat karena antara ucapan berbeda dengan perbuatan dalam keseharian.

Dari kajian ilmiah, stres merupakan kondisi yang tak diinginkan semua orang. Namun, tak seorang pun mampu menghindarinya. Secermat apa pun seseorang melangkah atau bertindak, suatu ketika stres bisa menghinggapinya. Ketika ada orang dengan bangga menyebutkan tak pernah mengalami stres, justru hal itu merupakan kebanggaan semu. Secara tak sadar ia pernah merasakan stres, tetapi mungkin dengan kadar dan dampak stres yang tak terlalu berat.

Dalam Alquran, Allah menyatakan akan menguji keimanan seseorang sehingga dia tak mudah mengucapkan telah beriman tanpa melalui berbagai ujian. Ujian dan hambatan dalam hidup merupakan wahana untuk manusia mengembangkan akal dan kemampuan yang ada dalam dirinya agar bisa makin matang dalam mengatasi masalah.

Untuk mengetahui apakah seseorang sedang mengalami stres atau tidak, bisa dilihat dari empat sisi, yaitu secara fisik, emosi, intelektual, dan sosial. Dari sisi fisik, gejala terlihat lewat rasa sakit di beberapa anggota tubuh, seperti kepala, sakit punggung, pinggang, tidur tidak teratur, susah tidur, mencret-mencret, radang usus besar, hingga gata-gatal pada kulit.

Dari sisi emosi, seseorang yang sedang mengalami stres bisa tampak gelisah, cemas, sedih, depresi, mudah menangis, gugup, marah-marah, dan mudah tersinggung. Sementara secara intelektual, gejala stres berupa mudah lupa, pikiran kacau, sulit membuat keputusan, sulit berkonsentrasi, produktivitas kerja menurun, dan kehilangan rasa humor.

Dari sisi sosial, dengan ciri kehilangan kepercayaan kepada orang lain, mudah menyalahkan orang lain, mendiamkan orang, dan mudah membatalkan janji. Sumber-sumber stres bisa dari diri pribadi atau dari luar dirinya yaitu keluarga atau lingkungan. Salah satu terapi cukup efektif untuk stres adalah dengan beribadah. Percayakah Anda jika ibadah bisa memberikan dampak besar pada kehidupan seseorang? Atau yakinkah Anda jika melaksanakan haji juga dapat menghilangkan rasa stres?

Secara agama sudah tentu Allah menjanjikan penghapusan dosa dan pelipatgandaan pahala salat di Masjidilharam dan Masjid Nabawi daripada salat di masjid-masjid lainnya. Lebih daripada itu, ibadah merupakan wisata spiritual yang bisa menenangkan pikiran dan jiwa seseorang.

Jemaah haji dengan mengunjungi Tanah Suci bisa menjadi penyeimbang perasaan dan tekanan hidup di era serbamodern ini. Seseorang yang melaksanakan rangkaian ibadah haji akan mengalami perasaan tenang dan kenyamanan yang drastis jauh sebelum melaksanakannya. Bahkan, ketika pertama kali melihat bangunan Masjidilharam dan Kabah dampaknya amat mujarab karena kalbu menjadi tenang, malah tak sengaja air mata keluar.

Ibadah lainnya seperti tawaf, sai, ditambah lagi dengan salat berjemaah atau berzikir di Masjidilharam atau Masjid Nabawi akan memicu penurunan hormon kortisol pada seseorang. Hormon kortisol ini sangat berkaitan dengan perasaan stres yang kerap melanda umat manusia zaman sekarang.

Selain itu, tumpukan beban hidup yang dirasanya akan hilang seketika saat peragangan otot dipadu dengan jiwa yang mengharap kepada Zat Mahasempurna. Kekhusyukan dan ketenangan dalam beribadah ini sungguh terasa ketika berada di dua masjid suci tersebut. Bahkan, beribadah di masjid kampung pun mampu menenangkan jiwa. Bukan hanya ketenangan jiwa melainkan dampak kepada karakter juga amat kuat. Asalkan ibadah yang kita lakukan adalah mabrur yang ditandai dengan makin meningkatnya kebaikan setelah melaksanakan ibadah.***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 21 Oktober 2010 pada Kolom "CIKARACAK"]