SANG PENETAP HARGA

Pernah suatu ketika para sahabat dibarengi orang-orang sekitar Madinah mendatangi Rasulullah SAW. Mereka mendatangi beliau untuk menyampaikan keluhan sekitar harga-harga di Pasar Madinah semakin bergerak naik dan terasa memberatkan keadaan ekonomi mereka.

Mereka meminta Rasulullah SAW. agar berkenan untuk menurunkan harga-harga barang tersebut. Mengingat saat itu Rasulullah SAW. sebagai khalifah (pemimpin negara) dapat mengubah kebijakannya memenuhi tuntutan para sahabat tersebut.
Mendengar permintaan dan keluhan orang-orang saat itu, beliau dengan sigap merespons aspirasi mereka. Beliau mengatakan dengan bahasa diplomasi,
"Bahwa tingkat harga yang berlaku sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. sehingga pemerintah termasuk beliau tidak memiliki hak untuk melakukan intervensi terhadap harga-harga."

Beliau menolak permintaan sejumlah sahabat untuk menurunkan harga barang-barang di Pasar Madinah yang cenderung naik. Rasulullah SAW. mengatakan, beliau tidak ingin melakukan kedzaliman dengan menetapkan harga. Naik turunnya harga berada di tangan Allah SWT. karena Allah adalah Al-Mushoir (Sang Penetap Harga).

Lalu beliau menyampaikan dua hal di hadapan para sahabat dan orang-orang Madinah saat itu.
"Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah itu Penetap harga maka Dia-lah yang menyempitkan dan meluaskan rezeki kalian. Bila harga naik karena ketetapan Allah, Allah-lah yang mengatur rezeki kalian. Akan tetapi, bila harga itu naik karena kedzaliman para penguasa, sesungguhnya aku (Nabi SAW.) berharap mereka (para penguasa) bertemu dengan Allah dalam keadaan hina dan tersiksa." (HR. Abu Daud, lihat Aunul Ma'bud IX:320)

Jawaban beliau di hadapan orang-orang tersebut karena kondisi pasar berada dalam keadaan normal dan prinsip keadilan tampak di sana sehingga beliau tidak berhak mengintervensi harga-harga itu. Namun, jika kondisi abnormal terjadi di pasar, akibat perilaku spekulan pasar yang melakukan penimbunan dan terjadi ketidakadilan kebijakan pasar yang ditandai dengan kolusi antara pengusaha dan penguasa, intervensi untuk melakukan koreksi pasar menjadi mutlak dilakukan, bukan saja oleh pemerintah malahan rakyat pun berhak menuntut ketidakadilan itu.

Hal itu sebagaimana hadits dari Ma'mar bin Abdillah, beliau bersabda,
"Tidak akan menimbun barang kecuali yang berdosa, dan setiap orang berhak menuntut hak atas kedzaliman yang ia terima, baik meminta gantinya atau berdoa keburukan bagi pendzalim." (HR. Muslim)

Dengan riwayat-riwayat tersebut dapat menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita semuanya. Bila Allah telah menetapkan sesuatu terhadap dan untuk hamba-hamba-Nya, tidak ada kekuatan mana pun dapat mengubahnya. Jika Allah telah menetapkan sesuatu kepada hamba-Nya, percayalah sesuatu tersebut tidak akan luput sedikit pun. Janganlah kita salahkan diri kita, orang lain, apalagi Allah. Sesungguhnya kita hanya patut berusaha, Allah Penetap segalanya.

Kalau seandainya harga-harga jadi naik semuanya dengan izin Allah, percayalah bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya tergeletak tanpa dibarengi rezekinya. Bukankah Rasulullah SAW. telah menyatakan dalam sabdanya,
"Tidak akan mati jiwa seseorang kecuali sudah Allah hentikan rezekinya bagi orang itu." (HR. Tirmidzi)

Artinya, selama kita hidup, rezeki itu tidak akan pernah dihentikan Allah

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
Allahu khaliqu kulli shayin wahuwa AAala kulli shayin wakeelun
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az-Zumar: 62)

Akan tetapi, apabila naiknya harga itu karena terjadi ketidakadilan, kedzaliman, dan kolusi antara penguasa dan pengusaha, tunggulah keadilan Allah terhadap mereka akan diperlihatkan-Nya dalam waktu dekat. Keadilan Allah terhadap kedzaliman mereka akan diperlihatkan berupa siksa dan azab sebagaimana dalam hadits riwayat Tirmidzi dari sahabat Ali bin Abi Thalib berupa; angin panas, gempa bumi, longsor, kelaparan, kericuhan, dan hilangnya ketidakpercayaan antar manusia, juga bencana-bencana lainnya.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Waittaqoo fitnatan la tuseebanna allatheena thalamoo minkum khassatan waiAAlamoo anna Allaha shadeedu alAAiqabi
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya. (QS. Al-Anfal: 25)

Sabda beliau,
"Seandainya Allah hendak menyiksa seluruh penduduk langit dan bumi, pasti Dia akan menyiksa mereka dengan tidak dzalim. Kalaupun Dia hendak merahmati mereka, pasti rahmat-Nya lebih baik daripada amal-amal mereka. Dan seandainya kamu berinfak emas sebesar Gunung Uhud di jalan Allah, Allah tidak akan menerimanya sehingga kamu beriman pada takdir, dan seandainya kamu mati dalam keadaan dosa dan keyakinan tidak percaya takdir, kamu pasti masuk neraka." (HR. Ad-Dailami)

Ketahuilah bahwasanya semua diketahui oleh Allah SWT. serta catatan setiap amal manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya dan di hadapan hamba-hamba-Nya.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Alam taAAlam anna Allaha yaAAlamu ma fee alssamai waalardi inna thalika fee kitabin inna thalika AAala Allahi yaseerun
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (lauhil mahfuz). Dan sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al-Haj: 70)

Dengan demikian yang harus kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin. Jangan berbuat kedzaliman terhadap orang lain. Kita kembalikan semuanya kepada Yang Maha Menentukan, Sang Penetap harga yaitu Allah SWT. 

Semoga kita mendapatkan yang terbaik berdasarkan ketentuan-Nya. Amin.***

[Ditulis oleh UCU NAJMUDIN, mengajar di Pesantren Tahdzibul Washiyah, Gumuruh, Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 11 Mei 2012 / 19 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky

0 comments: