SOLUSI DARI LEMAH LEMBUT

Lemah lembut dalam bahasa Arab disebut layyin, sebagaimana perintah Allah kepada Nabi Musa AS. dan Harun AS. untuk memberi peringatan kepada Firaun, raja yang sangat kejam dan dzalim.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Faqoola lahu qawlan layyinan laAAallahu yatathakkaru aw yakhsha

Maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaha: 44)

Sifat lemah lembut adalah gabungan sifat halim, tawadu, pemaaf, dan sabar. Sikap lemah lembut merupakan salah satu alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang kadangkala lebih efektif dan berimplikasi positif. Lemah lembut merupakan ruh (spirit) penyelesaian masalah melalui forum dialog, musyawarah, dan secara kekeluargaan. 
Pemimpin yang menyelesaikan persoalan kebangsaan dengan sikap lemah lembut menunjukkan pemimpin tersebut telah mencapai kematangan kepribadian dan menunjukkan integritas dirinya sebagai pemimpin yang memiliki kewibawaan. Contoh Nabi Sulaeman AS., Khalifah Umar bin Abdul Azis, dan Panglima Salahudin Al Ayubi

Kecenderungan pemimpin yang lebih banyak menonjolkan sifat-sifat kerasnya, cenderung otoriter, diktator, dan kurang menghargai hak-hak asasi. Sejarah mencatat bengisnya Raja Namruz, Firaun, Hitler, Musolini, Stalin, dan lain-lain. 

Lemah lembut sebagai salah satu cara atau metode penyelesaian masalah menempatkan manusia dalam posisi sejajar. Dengan kata lain, lemah lembut itu "memanusiakan manusia", tidak menempatkan manusia sebagai objek kekerasan. Apabila dengan cara lemah lembut tidak menyelesaikan masalah, pendekatan kekerasan sebagai alternatif terakhir. 

Apabila sikap lemah lembut masih bisa diupayakan, hindarkan dan jauhkanlah penyelesaian dengan cara kekerasan. Sikap lemah lembut akan melahirkan lebih jauh beberapa sikap yang terpuji dan positif, misalnya sikap kasih sayang, toleransi, saling pengertian, saling menghormati, dan tenggang rasa. 

Untuk sampai ke tingkat seorang pribadi yang lemah lembut memerlukan proses yang cukup panjang. Dituntut sikap sabar dan lapang dada terutama mampu mengendalikan dorongan emosinya. Rasulullah SAW., memaafkan Hindun dan Wahsyi yang telah membunuh secara keji paman Nabi, Hamzah RA. Nabi juga mengampuni orang yang akan membunuhnya (Suraqah), memaafkan orang yang melempari Nabi dengan kotoran. Rasulullah merupakan sosok manusia yang memiliki sikap lemah lembut yang paripurna. 

Sifat lemah lembut, sopan santun, dan akhlak mulia merupakan kekuatan besar, yaitu adanya peluang kembalinya kesadaran seseorang untuk bisa mengetahui kebenaran dan kebatilan. Bahkan, bisa dipastikan, di zaman Nabi hampir tidak ada orang masuk Islam karena perdebatan, tetapi mereka masuk Islam karena sikap dan sifat lemah lembut Rasulullah.

Demikian pula sikap dan sifat lemah lembut akan membawa kesuksesan, terutama bagi para dai yang menyampaikan dakwahnya di tengah-tengah masyarakat. Keberhasilan Rasulullah berdakwah disebabkan sikap lemah lembut. Allah menegaskan dalam Al-Qur'an,  

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Fabima rahmatin mina Allahi linta lahum walaw kunta faththan ghaleetha alqalbi lainfaddoo min hawlika faoAAfu AAanhum waistaghfir lahum washawirhum fee alamri faitha AAazamta fatawakkal AAala Allahi inna Allaha yuhibbu almutawakkileena

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasat, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)

Siapa pun jika ingin sukses, mendapat rahmat Allah, harus memilih sikap lemah lembut sebagai perangai diri. Bukan kebencian, kedengkian, dan permusuhan. Apabila kita telah berusaha menjadi pribadi santun dan ternyata belum ada perubahan pada apa yang kita harapkan berubah, serahkanlah semua kepada Allah, sebab kita hanya berkewajiban menjadi pribadi yang santun. Kita sama sekali tidak punya kekuatan mengubah kondisi hati orang lain. Allah pasti punya maksud yang lebih baik, lebih indah, dari setiap situasi dan kondisi yang kita hadapi. 

Tampilan lahiriah seseorang menunjukkan kondisi hati orang tersebut dan bahasa lisan maupun bahasa tubuh seseorang mewakili isi hatinya. Rasulullah SAW., menegaskan,
"Ingatlah dalam diri seseorang ada segumpal daging. Jika daging itu baik, seluruh anggota badan akan baik. Jika sepotong daging itu buruk, buruklah seluruh anggota badan. Ingatlah bahwa sepotong daging itu adalah hati."

Suasana hati senantiasa dalam dzikrullah, ketaatan, dan pengawasan Allah. Jika suasana hati tidak diisi dengan hal yang demikian, pasti ia akan diganti oleh setan dengan hal-hal buruk. Bentuk tipu daya setan bisa berupa mengumbar omongan, mengeraskan pembicaraan, dan tidak menghormati orang lain. 

Padahal, Allah SWT. memerintahkan kita menjaga lisan dan tidak mengumbarnya apalagi berkata yang tidak baik sehingga akan menodai kepribadiannya. 

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Waiqsid fee mashyika waoghdud min sawtika inna ankara alaswati lasawtu alhameeri

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman: 19)

Semoga kita bersikap lemah lembut dalam memecahkan permasalahan, bukan mengedepankan kekerasan sehingga jatuh korban. *** 

[Ditulis oleh H HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL'AYDRUS, Ketua Umum Yayasan Assalaam, mantan anggota MPR, dan mantan ketua PW NU Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 24 Mei 2012 / 3 Rajab 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky

0 comments: