MAKNA TALBIAH

"Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata laka walmulk. Laa syarika lak." Bacaan talbiah tersebut tak henti-hentinya diucapkan jemaah haji maupun umrah. Bahkan saat manasik pun, bacaan itu bergema seakan-akan menembus batas langit. Sungguh sebuah bacaan yang menggetarkan hati bagi orang yang mengucapkan maupun mendengarnya.

Merujuk kepada Zainurrofieq (penulis buku "Mukjizat Ka'bah"), terdapat 4 (empat) inti yang bergerak menuju gelombang kekuatan jiwa sebagai berikut :
  1. Tauhid karena bacaan yang sangat kental dalam talbiah adalah kalimat tauhid "Laa syarikalak" (tidak ada sekutu bagi-Mu). Allah SWT. menginginkan bagi para tamu Allah yang hadir dalam "undangan-Nya", untuk sama-sekali mengosongkan hati dari sifat syirik atau menyekutukan-Nya. Manusia datang untuk melaksanakan ibadah umrah maupun haji bukan dengan tujuan mencari gengsi, merasa gagah, sekadar berwisata, apalagi mengambil barang-barang yang dianggapnya keramat. Haji dan umrah mutlak untuk menghambakan diri kepada Allah yang telah memerintahkan pelaksanaan haji maupun umrah.
  2. Talbiah bermakna syukur, yakni dalam kalimat "Innal Hamda" (sesungguhnya segala puji milik Allah). Kalimat ini mengindikasikan ungkapan terima kasih atau syukur hanyalah diperuntukkan kepada Allah Rabbul Izzati. Nikmat itu termasuk dapat melaksanakan ibadah umrah maupun haji. Dengan ungkapan talbiah itu, Allah menginginkan agar siapa pun yang melaksanakan ibadah umrah dan haji, mengingat bahwa semua kenikmatan itu hanyalah dari Allah SWT. Dalam haji maupun umrah, Allah menginginkan kita untuk sejenak berpindah dari rumah "materialistik" menuju rumah Allah (Baitullah). Menumbuhkan rasa syukur adalah kunci menuju ketenangan dan kebahagian hidup yang berlimpah. Tidak ada istilah kekurangan ketika kita melaksanakan syukur dengan mengeluarkan rezeki di jalan Allah.
  3. Sabar karena dalam menjalani ibadah haji maupun umrah mengajarkan kaum Muslimin untuk bersabar. Hal ini terindikasikan dari kalimat "wanni'mata" (dan kenikmatan). Allah mengingatkan manusia sering lupa kala mendapatkan kenikmatan. Manusia selalu memiliki kecenderungan untuk lupa diri, dengan selalu merasa mendapatkan sedikit nikmat, atau justru merasa tinggi karena lebih dari orang lain. Dalam menjalani ibadah haji atau umrah, kita akan dihadapkan kepada banyak ujian dan persoalan yang bisa mengganggu kemurnian dan kekhusyukan ibadah. Bisa jadi rencana yang matang malah menjadi hancur karena hati kita kurang sabar. Kita menjadi cepat marah atau cepat tersinggung akibat harus antre lama atau terpaksa shalat di bawah terik sinar matahari. Demikian pula ketika harus berdesak-desakkan ketika melaksanakan tawaf, sai maupun salat wajib sekalipun. Meski ibadah umrah tidak sepadat saat musim haji, tetap harus berdesak-desakkan karena jutaan manusia berkumpul dalam satu tempat, baik di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.
  4. Makna talbiah adalah tawakal yang terwakili dalam kalimat "wal mulk" (dan seluruh kerajaan atau kekuasaan). Pelajaran yang harus kita petik adalah rasa ketergantungan manusia terhadap Allah SWT. di tanah suci harus ditingkatkan. Bahkan, tak jarang kita hanya bisa pasrah kepada Allah, misalnya ketika tergencet saat akan mencium Hajar Aswad. Ketika menghadap Ka'bah, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk merasa dirinya lebih berkuasa dari orang lain. Semua harus benar-benar tunduk dan patuh hanya kepada Allah SWT. Diharapkan ketika sabar dan tawakal terbina selama haji ataupun umrah akan menjadi "oleh-oleh" utama yang harus diterapkan ketika berada di tanah air. Jangan sampai kita mendekat kepada Allah ketika sedang suka, tetapi saat duka langsung menjauh.
Dengan demikian, talbiah yang kita dengungkan tidak menjadi sebuah untaian kalimat bagus yang kosong dari makna. Karena sesungguhnya, talbiah itu adalah modal dasar menuju pemahaman dari untaian ibadah haji dan umrah, tentu untuk menggapai makna talbiah tersebut. Namun, kita haras tetap berusaha karena pelatihan sesungguhnya adalah ketika lepas dari pelatihan itu sendiri. Haji maupun umrah adalah pelatihan terbaik.

Untuk menggapai 4 (empat) nilai tersebut di atas, seorang jemaah haji maupun umrah selayaknya mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, baik persiapan fisik dan lebih utama lagi persiapan batin. Ada beberapa persiapan batin, yaitu tetapkan niat dan tujuan haji maupun umrah semata-mata karena Allah SWT. Selain itu, kita harus meninggalkan rafats (ucapan kotor atau tidak berguna), fusuq (maksiat, keluar dari ketaatan kepada Allah), dan jidal atau berbantahan dan bertengkar. Di lain pihak, perbanyak rendah hati, lemah lembut, mengutamakan kebaikan, berbaik sangka, dan tabah dalam menghadapi perbuatan yang tidak menyenangkan dan menyakitkan.

Semoga ibadah umrah yang akan kita kerjakan menjadi pelatihan berharga untuk menghadapi kehidupan di dunia dan akhirat. Amin.***

[Ditulis oleh : H.D. SODIK MUDJAHID, pendiri Biro Perjalanan Haji Plus dan Umrah "Qiblat Tour" dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) "Qiblat Darul Hikam", serta disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Kliwon) 23 Maret 2010 pada kolom "UMRAH & HAJI"]

0 comments: