PUASA KARENA CINTA

Masihkah kita mampu merasakan kebahagiaan, seperti yang dirasakan oleh Nabi SAW. dan para sahabatnya ketika datangnya Ramadhan. Nabi SAW. memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasai dari Abu Hurairah RA.,
Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mencatat puasa kalian. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka dikunci. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan dari kebaikannya, maka sungguh telah merugi.
Inilah hadits yang oleh sebagian ulama dijadikan landasan menyambut Ramadhan.

Selama Ramadhan, bagaimana mungkin kita tidak bahagia, ketika kita hidup dari waktu ke waktu, dari bulan ke bulan dihiasi kemaksiatan dan perbuatan dosa, maka Ramadhan telah membuka pintu-pintu surga yang selama ini tertutup, terkunci untuk kita. Begitu pun pintu-pintu neraka terkunci, padahal di bulan-bulan lain senantiasa terbuka.

Bagaimana mungkin kita tidak bahagia yang setiap hari melangkah mengikuti langkah-langkah setan yang sesat dan terkutuk. Hanya bulan inilah setan-setan terbelenggu sehingga kita tidak lagi melangkah mengikuti mereka. Tentu, kita bersyukur ketika masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk bisa memasuki bulan-Nya, bulan yang diberkahi, bulan yang penuh dengan kemuliaan.

Pada bulan Ramadhanlah suara adzan tanda waktunya berbuka menjadi suara tabuhan yang indah dan penuh estetika. Begitu pun ketika rombongan anak dewasa mengelilingi gang-gang kecil di perkampungan sambil memukul benda-benda apa saja yang penting bisa menghasilkan suara menjadi orkestra tanda waktu agar segera bersiap-siap membuat makanan untuk sahur. Namun, sayang estetika Ramadhan seperti itu sulit lagi kita nikmati, terutama bagi yang tinggal di perkotaan.

Sungguh hanya pada bulan Ramadhan, lapangan di kompleks-kompleks perumahan berubah menjadi pasar sore. Pedagang dadakan bermunculan bagaikan jamur. Itu semua dilakukan dengan harapan memperoleh berkah Ramadhan. Begitu pun sepertinya, tak ada raut wajah tanda kekesalan akibat dagangan kolak, rujaknya tidak habis terjual. Yang tampak adalah rona-rona raut wajah penuh kebahagiaan sebab yakin bahwa hari esok masih ada.

Berbagai macam tipe orang beribadah pada bulan Ramadhan ini, seperti pernah diucapkan Ali bin Abi Thalib RA., banyak orang menyembah Tuhan karena mengharapkan sesuatu. Ibadah mereka lakukan sebagai suatu investasi agar suatu saat Tuhan membayar hasil ibadah itu kepada mereka. Imam Ali menyebut ibadah mereka yang mengharapkan pahala itu disebut ibadahnya pedagang. Ibadahnya kaum pebisnis yang senantiasa menghitung kali, tambah, dan bagi. Dalam pikirannya adalah untung-rugi. Surga adalah keuntungan, neraka adalah kerugian. Ibadah yang dilakukannya hanya untuk menghindari agar tidak terjadi "defisit akhirat."

Tidak sedikit orang-orang dalam level ini melakukan umrah setiap tahun, dengan perhitungan shalat di Masjidilharam itu pahalanya seratus ribu kali dibandingkan dengan shalat di luar Masjidilharam, yang akibatnya tidak pernah shalat, kecuali ketika melakukan umrah. Emha menyebut orang-orang seperti ini "Muslim Kapitalis."

Diasosiasikan kepada kapitalisme karena ibadah diposisikan sebagai "kapital". Ia melakukan shalat, puasa, memberi zakat, dan seterusnya agar memperoleh laba yang bernama pahala. Muslim jenis ini adalah pedagang yang senantiasa bernegosiasi kapitalistik dengan Allah. Tak heran jika kita menemukan atau mungkin diri kita yang mendadak pada Ramadhan ini menjadi manusia bageur dan berehan, padahal di luar bulan Ramadhan pedit, cedit alias bakhil.

Ada juga orang yang beribadah pada Ramadhan karena takut akan siksa-Nya. Mereka takut menghadapi azab Tuhan. Mereka gentar dengan panas dan jilatan api neraka. Imam
Ali menyebutnya itulah ibadah para budak belian kepada tuannya. Ibadahnya kaum karyawan yang takut berbuat salah dan disalahkan oleh atasannya. Dalam pikiran mereka adalah jika berbuat salah, pasti dipecat atau kena PHK. Emha menyebutnya "Muslim Birokratis." Mereka berusaha tidak makan dan minum saat siang hari karena takut masuk neraka.

Sementara ibadah yang sebenarnya, kata Imam Ali, adalah ibadah karena cinta. Ibadah yang hanya berharap berjumpa dengan Tuhan (liqa'rabb). Ibadah dengan harapan bisa berjumpa dengan Allah Yang Mahaindah dan Mahaagung, Yang Maha Penyantun dan Maha Penyayang, Yang senantiasa menatap dengan kasih sayang kepada para hamba-Nya siapa pun dia. Inilah yang oleh Emha disebut sebagai "Muslim Rabbani."

Dalam khazanah ilmu tasawuf, salah seorang tokoh yang digambarkan sebagai Muslim Rabbani adalah Rabiah Al-Adawiyah. Konon, suatu hari Rabiah pernah ditemukan berlari-lari ke pasar dengan membawa seember air di tangan kanannya dan sebilah obor di tangan kirinya. Orang-orang keheranan. Mereka bertanya, "Hai Rabiah, apa yang kau lakukan ?" Rabiah menjawab, "Dengan air ini, aku ingin memadamkan api neraka dan dengan api obor di tanganku ini, aku ingin membakar surga supaya setelah ini orang tidak lagi menyembah Tuhan karena takut akan neraka dan berharap akan surga. Aku ingin setelah ini, hamba-hamba Tuhan akan menyembah-Nya hanya karena cinta."

Begitupun dengan syairnya yang terkenal di kalangan ahli sufi,
Kalau ibadahku ini aku lakukan untuk mengharap surga-Mu, ya Rabbi, campakkanlah aku ke dalam api ganas-Mu. Kalau ibadahku ini aku lakukan karena takut kepada neraka-Mu, ya Rabbi, tutuplah pintu surga bagiku....
Rabiah hanya beribadah karena menginginkan Allah.

Hanya Allah. Bukan karena perhitungan rugi-laba. Bukan pula karena gambaran kengerian api neraka, apalagi sekadar jatuh dari kursi jabatan di dunia, jabatan anggota dewan, kepala dinas, atau ketua ormas.

Puasa yang dilakukan Muslim Rabbani adalah puasa yang kebahagiaannya bukan saja saat berbuka karena ada makanan kesukaannya di meja, melainkan bahagia ketika ia berjumpa dengan Tuhan, berbahagia memandang-Nya.

مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ
Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. (QS. Al-'Ankabut : 5)

Dikisahkan, seseorang bermimpi melihat Bisyir, ia ditanya tentang keadaannya. Ia berkata, "Ketika mengetahui sedikitnya cintaku pada makanan, Allah membolehkanku untuk memandang-Nya."

Permohonan ibadah orang-orang yang karena cinta kepada Allah, senantiasa bermohon kepada-Nya supaya diberi kesempatan untuk memandang-Nya. "Wahai kekasih hati, tidak ada bagiku selain-Mu. Kasihilah, hari ini si pendosa telah mendatangi-Mu. Sungguh, jika di surga Tuhanku, aku boleh memandang-Mu, aku hanya berharap bisa memandang-Mu."

Tentu saja mereka yang berpuasa yang bisa diberi kesempatan oleh Allah SWT. untuk memandang-Nya, bukan puasa yang sekadar mampu menahan makan, minum, dan segala yang membatalkannya. Namun, mereka yang berpuasa karena cinta kepada-Nya.

Lantas, kita berada dalam tingkatan yang mana; Muslim Kapitalis, Muslim Birokratis, atau Muslim Rabbani. Sungguh tidak mudah berpuasa yang dilandasi oleh hanya cinta kepada-Nya. Meskipun boleh jadi salah satu caranya adalah dengan cara mencintai para hamba-Nya dengan tulus penuh kasih sayang. Yang senantiasa berusaha menolong orang lain yang sedang kesulitan. Yang berusaha memberi kebahagiaan kepada orang-orang yang sedang dirundung duka dan kesedihan. Yang berusaha melakukan berbagai kebaikan untuk sesama, sekaligus menjauhi beribadah yang didasari oleh kesombongan dan keangkuhan.

Semoga dengan demikian kelak kita pun bisa berjumpa dengan Allah SWT.

Wallahu a'lam. ***

[Ditulis oleh IDAT MUSTARI, anggota biro agama Golkar Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 12 Agustus 2011 / 12 Ramadan 1432 H. pada Kolom "OPINI"]

by

u-must-b-lucky

0 comments: